
"Uhuk... uhuk... uhuk. "
Cindy terbatuk -batuk sambil memegang lehernya yang terdapat cap tangan Jacob di sana.
Sementara itu di depan Cindy terlihat Jacob tengah duduk dengan menumpuk kakinya menatap tajam wanita paru baya di depannya itu.
Jika saja tadi Riko tidak mengingatkan dirinya jika sampai ia berbuat lebih pada Cindy yang bisa saja membuat Kanaya membenci dirinya.
Mengingat betapa lembutnya hati sang istri, dan Jacob juga sudah berjanji pada Kanaya untuk menahan amarahnya.
"Apa yang kamu lakukan sama Tante Jacob? Kenapa langsung menyerang Tante? "tanya Cindy menatap pria di depannya itu dengan sejuta keheranannya.
Iya, Jacob memang tidak mengatakan apa-apa saat mendatangi wanita itu. Pria itu langsung menyerang Cindy ketika wanita itu membuka pintu rumahnya dengan mencekik lehernya kuat dan mendorong Cindy hingga wanita itu terangkat ke atas beberapa senti dari atas lantai.
"Ck."
Jacob berdecih menatap wanita itu dengan kekesalannya.
"Nyonya Cindy, Lebih baik Anda jangan banyak bicara karena saat ini Tuan Muda Pertama begitu marah pada Anda setelah Anda menyakiti Nona Kanaya, "jelas Riko.
Cindy tertegun mendengar itu, namun raut muka terkejut itu hanya bertahan sebentar karena kini Cindy justru menampakkan wajah malasnya.
"Ck, ternyata karena wanita kampungan itu. Baru saja di ancam sudah ngadu saja, kalau kampungan ya tetap kampungan,"decih Cindy.
Prang.
"Akkh, aw. "
Cairan merah mengalir deras dari sudut kening Cindy. Baru saja vas bunga yang ada di atas meja itu melayang sempurna ke arahnya dan berhasil mengenai kening wanita itu.
"Dia adalah istriku, dan mulut Anda yang busuk itu tidak pantas menghina dirinya, "ucap Jacob penuh penekanan.
Tubuh Cindy gemetaran karena rasa takut yang mulai ia rasakan. Dia tidak menyangka pria yang hampir menjadi menantunya itu bisa begitu tega melempar vas bunga kepadanya.
Cindy mengelap cairan merah yang hampir mengenai matanya itu hingga kini melebar warna merah itu hingga sudut keningnya.
"Jangan pikir karena putri Anda pernah menjadi tunangan Saya, dan Anda begitu berani menghina wanita yang saat ini telah menyandang status istri Saya, "ujar Jacob.
"Kau tahu betul siapa diri Saya, Saya tidak akan segan-segan menyakiti mereka yang telah menyakiti orang yang Saya sayangi, "lanjutnya lagi.
"Tapi Alexsa..." saut Cindy.
Jacob beranjak dari posisinya lalu berjalan mendekati wanita yang terduduk di atas lantai itu dan berjongkok di depannya.
"Shhht, "desis Cindy meras kesakitan kala merasakan cengkraman kuat Jacob pada rahangnya.
"Apa perlu saya viralkan betapa binalnya putri Anda itu,"ujar Jacob lalu menghempaskan cengkraman pada rahang Cindy dengan kuat.
__ADS_1
Cindy tertunduk tidak lagi berani menatap pria di depannya itu. Di dalam rumahnya tidak ada satupun orang selain dirinya.
Dia juga sadar jika ia terus melawan maka seluruh fasilitas termasuk rumah yang ia tempati ini akan Jacob ambil alih lagi.
Karena nyatanya dia dan Alexsa bukanlah dari kalangan orang berada. Mereka merasakan hidup nyaman saat Alexsa menjadi kekasih Jacob.
"Saya peringatkan jangan pernah usik wanita Saya atau Saya bisa melakukan lebih dari ini dan satu lagi peringati putri Anda untuk tidak lagi datang ke perusahaan Saya. Dia sangat merusak pemandangan disana, "ancam Jacob.
Pria itu berbalik lalu melangkah meninggalkan Cindy yang terlihat sangat menyedihkan itu diikuti Riko di belakangnya.
Saat keduanya akan memasuki mobil, dari arah luar terlihat Alexsa yang memasuki area rumah itu dengan mobilnya.
"Jacob, "seru Alexsa tersenyum lebar.
Dia berlari ke arah pria itu dengan senyuman lebarnya. Alexsa pikir Jacob datang kesana karena ingin menemuinya.
Brak.
Pintu mobil itu tertutup kala Jacob baru saja masuk ke dalamnya, membuat Alexsa terus mengetuknya dengan kebingungan.
"Jacob... Jac, kenapa masuk ke dalam mobil. Apa kamu marah karena sudah lama menungguku, "ujar Alexsa terus mengetuk jendela kaca hitam itu.
Jacob tak bergeming sama sekali di dalam mobil itu, dia justru memberi kode pada Riko untuk segera menyalakan mesin mobilnya lalu meninggalkan Alexsa yang meraung di depan rumahnya itu.
"Tuan Muda Pertama, Nona Alexsa meraung seperti orang gila, "ujar Riko.
Riko yang berada di belakang kemudi itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kepercayaan diri tingkat tinggi Tuan Muda Pertama Keluarga Garadha itu.
"Padahal Anda sendiri yang rindu dengan Nona,Tuan,"batin Riko.
Mobil terus berjalan membelah kepadatan kota metropolitan menuju rumah sakit dimana Kanaya di rawat.
Sesampainya di sana, Jacob gegas keluar dari mobilnya. Bahkan pria itu membuka sendiri pintunya yang mana biasanya selalu menunggu Riko untuk membukakannya.
Riko hanya bisa kembali menggelengkan kepalanya akan tingkah Jacob. Kini ia hanya bisa mempercepat langkahnya menyusul Jacob yang telah jauh masuk ke dalam rumah sakit itu.
Jacob memegang gagang pintu itu dengan pelan. Dia ingin memastikan pintu itu tak lagi dikunci oleh Nyonya Celline, Mama nya.
"Yes, sudah tidak terkunci lagi, "gumam pria itu.
Tidak menunggu lama lagi, Jacob memutar handel pintu kamar ruang rawat itu.
Saat ia membukanya, pria itu gegas berlari ke arah Kanaya dan memeluknya.
"Naya Sayang, "rengek Jacob memeluk tubuh wanitanya.
"Mas..."lirih Kanaya berusaha melepaskan pelukan Jacob pada tubuhnya.
__ADS_1
"Jangan dilepaskan, Aku tahu kamu kangen sama Aku. Jadi Aku inisiatif memelukmu duluan supaya kangen kamu itu terobati, "ujar Jacob memutar balikkan fakta.
"Mas, "sentak Kanaya.
"Nay, nggak usah malu deh. Aku tahu kamu kangen sama Aku, "saur Jacob justru mempererat pelukannya itu pada tubuh Kanaya.
"Ih bukan itu Mas, lihat di belakang kamu deh, "ujar Kanaya menunjuk belakang Jacob dengan jemarinya.
Dengan malas, Jacob memutar kepalanya untuk melihat apa yang Kanaya tunjuk di belakang tubuhnya itu.
"Kalian belum pulang, "celetuk Jacob dengan wajah terkejutnya.
"Menurut kamu?"sinis Mama Selline
"Dasar anak tidak tahu diri, ada orang tua justru main peluk-pelukan, "saut Tuan Garadha.
Sementara Nenek Risma hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan senyuman kecilnya.
"Jacob kan nggak tahu kalau ada kalian, "ujar Jacob sambil menggaduk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Pokoknya mulai nanti, kalian akan tinggal di mansion Garadha lagi, Mama tidak mau Kanaya kenapa-kenapa jika ditinggal sama kamu, "ujar Nyonya Selline.
Jacob membola kala mendengar keputusan dari Mama nya itu. Dia tidak ingin itu terjadi, selain jarak ke perusahaan yang jauh. Jika di kediaman Garadha dia pasti tidak sebebas di apartemen yang bisa mesra-mesraan dengan Kanaya di manapun yang ia inginkan.
"Tidak, mana bisa seperti itu. Jacob tidak setuju Mah, "tolak Jacob mentah-mentah.
"Kamu mah terserah mau ikut tinggal di Kediaman Garadha atau tidak, yang penting Kanaya tinggal bersama kami, "ujar Nyonya Celline.
"Mana bisa seperti itu Mah, Naya kan istri Jacob ya nggak bisa dipisahkan seperti itu dong."
"Kanaya saja mau kok, coba tanya saja sama Naya, "ujar Nyonya Celine.
Jacob terhenyak mendengar itu. Pria itu menoleh menatap sang istri jika apa yang dikatakan Mamanya itu tidaklah benar.
Tetapi anggukan kepala Kanaya seketika membuat tubuh Jacob terasa lemas.
"Bakalan susah ini, "batin Jacob berteriak.
***
TBC
Author: Bang Jac, yang sabar ya. Ingat ini hanya ujian.
Jacob: Ujian apa maksudmu Thor? Ini itu ulah kamu
Author: Ehem...ehem, permisi Bang Jac, othor ada urusan penting (kabur tidak mau tanggung jawab)
__ADS_1
Jacob: Punya Othor sukanya nyusahin terus.