ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
BAB 37


__ADS_3

"Eugh."


"Kau sudah bangun."


Kanaya yang masih memejamkan matanya sontak terbelalak dengan cepat. Saat matanya terbuka yang pertama kali Kanaya lihat adalah wajah tampan Jacob yang begitu dekat dengan wajahnya.


"M-mas, "pekik Kanaya beranjak dari tidurannya.


"Jangan bergerak cepat seperti itu, kasihan Baby, "ujar Jacob menahan Kanaya yang terus beringsut menjauh darinya.


"Kau hampir saja jatuh, sini kemari lagi, "ujar Jacob menarik pelan tubuh Kanaya.


Kanaya hanya bisa menurut dan kembali ke tengah kasur. Keduanya duduk di tengah kasur saling berhadapan.


Terpesona dengan wajah Kanaya, membuat Jacob terus menatap intens Kanaya sampai membuat wanita itu salah tingkah.


Dia (Kanaya) tersipu malu karena sang suami yang terus menatap dirinya, bahkan jemari Jacob mulai mengelus pipi mulusnya yang mungkin saat ini telah memerah layaknya tomat.


Meremas jemarinya dan memainkan baju yang kini hanya bisa dilakukan Kanaya untuk melampiaskan kegugupannya.


"Mas, jangan lihatin Kanaya seperti itu. Naya malu, "cicitnya.


Sudut bibir Jacob terangkat melihat tingkah menggemaskan istri cantiknya itu. Perasaan bahagia ini berbeda saat ia bersama Alexsa.


Tidak sanggup lagi menahan diri untuk tak menyentuh sang istri, Jacob menarik pelan tubuh Kanaya dalam pelukannya membuat wanita cantik itu memekik.


"Mas! "pekik Kanaya.


"Diam ya, Mas ingin meluk kamu kayak gini dulu. Jangan menolak, "ucapnya.


Suara degup jantung Keduany saling beradu. Kanaya hanyalah wanita polos yang tidak mengerti apa itu cinta dan bagaimana hubungan antara pria dan wanita.


"Mas, suara dag dig dug di dada kamu enak di dengarnya, "celetuk Kanaya menempelkan telinganya pada dada bidang sang suami.


Ketahuan jantungnya tengah berpacu dengan cepat oleh Kanaya, membuat Jacob merasa tersipu malu. Namun kepolosan Kanaya membuatnya merasa lega karena dengan itu Kanaya tidak akan tahu jika jantungnya berdetak cepat karena dirinya.


"Jantung ini berdetak karenamu Naya, betapa gugupnya Aku saat ini. Namun walaupun jantung ini berdetak seperti hendak lepas dari tempatnya namun Aku menikmatinya karena detak jantung ini tahu jika kau adalah sosok yang pantas untuk ia getarkan, "batin Jacob.


Jacob tak menyauti kalimat yang terlontar dari bibir Kanaya, dia hanya menyalurkan perasaannya dengan mencium ubun-ubun Kanaya yang tertutup dengan hijabnya.


"Mas, sampai kapan Kamu akan memelukku? Ini sangat pegal dan sesak, "ujar Kanaya.


"Ha ha ha ha, baik baiklah. Aku akan melepaskannya,"ujar Jacob tertawa lepas.


Tawa Jacob yang begitu renyah membuat Kanaya terpaku. Ini adalah tawa yang paling indah di mata wanita itu sampai membuatnya terpaku.


"Ekhem, kita pulang sekarang oke, "ujar Jacob usai menormalkan dirinya kembali.


"Eh iya, ayo Mas. "


Kanaya merapikan hijab dan penampilannya pada cermin yang tertempel pada dinding kamar istirahat tersebut. Barulah setelah itu ia melangkah menyusul Jacob yang sudah menunggunya di sofa ruang kerjanya.


"Sudah Mas, ayo."

__ADS_1


Jacob menatap sekilas Kanaya lalu beranjak dari duduknya dan memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana.


"Ada apa Mas? "tanya Kanaya saat melihat Jacob mengulurkan tangan ke arahnya.


Jacob menggoyangkan tangannya bermaksud agar tangan Kanaya meraihnya untuk ia genggam.


Tapi sepertinya Kanaya tidak paham justru mencari sekeliling mencari sesuatu. Kanaya pikir ia telah melupakan sesuatu yang Jacob perintahkan kepadanya.


"Mau kemana? "tanya Jacob, saat melihat Kanaya yang berbalik dan hendak memasuki kamar istirahat kembali.


"Mungkin tadi Mas nyuruh Kanaya ambil apa gitu, jadi Naya mau masuk buat ingat-ingat perintah Mas, "ujarnya.


Huft.


"Kamu bukan pelayan untuk apa Aku memerintah, "ujar Jacob yang tanpa sadar membuat Kanaya sedih.


"Aku memang dulunya pelayan Mas, "cicit Kanaya.


Sadar telah salah berbicara, Jacob menepuk dahinya karena kesalahannya itu. Kanaya pasti akan merasa rendah diri di depannya karena sebelumnya status mereka adalah majikan dan pelayan.


"Jangan bilang gitu Naya, Aku nggak maksud buat nyinggung hal itu, "ucap Jacob.


"Nggak papa Mas, itu memang kenyataannya kok,"ucap Naya tersenyum.


Sebuah senyuman yang tidak membuat Jacob senang melainkan semakin merasa tak enak hati.


"Maaf, Aku cuma mau minta tangan Kamu buat di genggam. Jangan merasa sedih lagi ya, "hiburnya seraya meraih tangan Kanaya untuk ia genggam.


"Iya Mas, Aku nggak sedih kok. "


Keduanya berjalan keluar ruangan dengan tangan yang saling bertautan sama seperti saat keduanya tiba.


Seluruh karyawan yang belum pulang terpaku terutama saat melihat wajah yang sedari pagi membuat mereka penasaran karena tertutup oleh masker.


"Cantik banget."


"Iya, ini mah cantiknya alami, nggak oplas atau neko-neko. "


"Gue yang cewek saja iri lihat kecantikannya."


Telinga tajam Jacob tak sengaja mendengar bisik-bisik mereka. Dia mulai berpikir siapa yang tengah mereka puji dan membuat semua orang terpesona.


"****, sial. Kenapa lupa nggak nyuruh dia pakai maskernya lagi sih, "gerutu Jacob.


"Apa yang kalian lakukan, berbalik sekarang juga, "perintah Jacob tegas.


Seluruh karyawan yang tadinya sedang menikmati keindahan ciptaan Tuhan, kinj harus menelan ludahnya dengan susah payah karena sang pawang tengah marah besar.


Jacob berbalik lalu membuka jas miliknya setelah itu ia tudungkan di atas kepala Kanaya hingga menutup wajahnya.


"Mas, Naya nggak bisa lihat, "celetuk Naya.


"Ada Aku, pegang tangan Aku erat. Ingat jangan sekali-kali kamu mengubah posisi jas itu dari atas kepala, "ujar Jacob.

__ADS_1


Meskipun bingung dengan sikap Jacob yang menurutnya aneh, namun Kanaya tetap menurut dan mengeratkan genggamannya pada tangan Jacob.


Merasa jalam Kanaya yang pelan, sedangkan ia harus segera perrgi dari perusahaan untuk menghindari tatapan pria pada kecantikan Kanaya membuat Jacob memilih mengangkat tubuh Kanaya untuk ia gendong.


"Mas, kenapa digendong, "pekik Kanaya terkejut.


"Disini bahaya. Banyak mata liar yang akan menatapmu lebih baik diam dalam gendonganku Nay, "ucap Jacov gegas berjalan cepat menuju mobilnya.


Sementara itu, seluruh karyawan baru kembali membalilkan badannya saat merasa keberadaan Jacob telah keluar dari perusahaan.


"Gila, itu mah titisan bidadari dunia, cantik banget."


"Benar. Gue nggak tahu itu siapanya Tuan Jacob, tapi kalau cuma saudara Gue rela berjuang sampai darah penghabisan demu mendapatkan cewek tadi.


"Suut! Apa-apan sih kalian, lebih baik kembali bekerja. Jangan bicara ngawur,"bentak Stella yang merupakan sahabat Alexsa.


***


Sepanjang perjalanan Jacob terus menggenggam tangan Kanaya dengan satu tangan lainnya yang mengemudikan mobil.


Melihat itu tentu saja membuat Kanaya khawatir dan sudah berulang kali Kanaya memintanya untuk melepaskan tangannya dan fokus mengemudi.


"Mas, fokus saja menyetir dan lepasin tangan Aku, "ujar Kanaya kesekian kalinya.


Jacob tak menjawab ataupun melepaskan genggaman Kanaya, dia hanya menatap sekilas lalu kembali melihat ke depan dengan tangan masih yang saling berbagi tugas, mengemudi dan menggenggam tangan Kanaya.


"Mas, kamu baik-baik sajakan? "tanya Kanaya.


"Kenapa nanya gitu? "jawab Jacob balik bertanya.


"Maaf ya Mas, Naya sebenarnya dari kemarin heran dengan sikap Mas yang berubah sangat manis dan itu rasanya aneh sekali, "ucap Kanaya apa adanya.


"Aku baik-baik saja, tidak ada yang aneh, "jawab Jacob.


"Tapi Mas... "


"Sudah, kita sudah sampai lebih baik kita keluar, "ucap Jacob enggan menjawab pertanyaan Kanaya.


Kanaya menatap luar mobil dari kaca jendela, benar saja kini ia sudah sampai di unit apartemen Jacob dan hal itu mau tidak mau membuatnya menurut keluar mobil, terlebih Jacob yang entah sejak kapan sudah keluar bahkan telah membukakan pintu mobil untuknya.


"Ayo, "ajaknya dengan tangan ia ulurkan kepada Kanaya.


"Iya Mas."


Kanaya meraih tangan Jacob. Jacob memberi kunci mobilnya pada penjaga untuk memarkirkan mobil miliknya, sementara ia terus berjalam bersama Kanaya memasuki lift yang akan membawanya pada lantai paling atas.


Ting!


Pintu lift terbuka, Jacob dan Kanaya melangkah keluar untuk menuju pintu unit apartemen miliknya.


"Ck, mau apa lagi dia. Jam segini sudah nangkring di depan pintu apartemen orang, "gerutu Jacob kesal


***

__ADS_1


TBC


Terima kasih, jangan lupa untuk like komen, dan vote ya


__ADS_2