ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
Bab 86


__ADS_3

"Aneth, sepertinya ini sudah terlalu banyak,"keluh Kanaya seraya mengangkat beberapa paperbag yang dibawa oleh supir dan di tangan Kanaya.


"Belum kak, itu masih sedikit,"elak Aneth.


Kanaya terperangah, mendengar jawaban dari adik iparnya itu. Padahal sudah banyak yang dibeli oleh Aneth dan dirinya, namun gadis itu justru mengatakan masih kurang.


Dan pada akhirnya, Kanaya hanya bisa menuruti adik iparnya itu, walau hatinya mulai takut jika nanti Jacob marah padanya karena dirinya yang menghambur-hamburkan uangnya.


"Aneth, sudah ya. Kakak capek,"ujar Kanaya.


Capek yang dimaksud Kanaya, bukan hanya lelah tubuhnya. Melainkan pikirannya yang juga lelah karena overthingking akan amarah Jacob.


Aneth yang tadinya hendak masuk pada salah satu penjual brand sepatu terkenal itupun menghentikan kakinya. Dia menatap Kanaya, sayangnya Aneth tidak bisa melihat raut muka Kanaya karena wajah cantik kakak iparnya itu tertutup oleh cadar.


"Baiklah, kita pulang kak,"ujar Aneth.


Diraihnya belanjaan yang dipegang Kanaya, sehingga paper bag itu berada di tangan Aneth dan pelayan. Lalu gadis itu meraih tangan Kanaya untuk ia genggam dan berjalan keluar mall.


Hembusan nafas lega tidak hanya dilakukan Kanaya, tetapi pelayan yang sedari tadi mengikuti keduanya pun terlihat sangat lega.


"Mau makan dulu nggak Kak? Aneth takutnya dimarahin Kakak soalnya nggak kasih makan kakak ipar,"tawar Aneth saat keduanya tak sengaja melewati sebuah restauran di malla tersebut.


"Boleh, Kakak juga lapar,"ujar Kanaya.


"Eh, apa dibungkus saja ya Kak? Kakak kan pakai cadar, nggak bisa makan diluar dong,"ucap Aneth menghentikan langkah kakinya.


Kanaya tersenyum, bagi sebagian orang mungkin akan timbul pertanyaan bagaimana caranya seorang wanita bercadar makan ketika diluar? Sama halnya dengan Aneth yang juga kebingungan.


"Tenang, itu hal yang mudah kok. Lagi pula, Kakak juga bawa cadar cadangan di tas,"ujar Kanaya lalu bergantian menarik tangan Aneth menuju restauran itu.


Sesampainya di dalam, keduanya memesan makanan. Kanaya juga memesankan makanan pelayan yang tadi mengikuti mereka berbelanja itu dan menyuruhnya makan bersama.


Aneth masih diam menatap Kanaya, gadis itu yang biasanya memiliki hobi makan dan akan langsung menyantap makanan ketika sudah ada di depannya, kini justru menunggu Kanaya.


Gadis itu masih penasaran bagaimana cara Kanaya makan dengan keadaan masih memakai cadar itu.


kanaya sendiri yang melihat bagaimana tatapan penuh tanda tanya dari Aneth hanya bisa menyunggingkan senyumannya. Lalu tanpa menanyakan alasan tatapan Aneth, Kanaya mulai menyuapkan makanan dibalik cadarnya.


"Keren, ternyata kakak kelihatan tidak kerepotan sama sekali,"puji Aneth.


Sudah dikata, jika Aneth adalah fans terbesar Kanaya. Jadi hal kecil yang Kanaya lakukan selalu menakjubkan dimata Aneth.


"Sudah lihat kan, sekarang Aneth juga makan ya,"ucap Kanaya.


Aneth memberikan dua jempolnya pada Kanaya, lalu gadis itu pun mulai menyuapi makanan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, acara makan siang mereka telah selesai. Kanaya yang tiba-tiba merasa kebelet itu pun meminta izin pada Aneth untuk pergi ke toilet.


"Aku tunggu disini saja ya, kakak ipar,"ujar Aneth.


"Iya,"balas Kanaya.


Setelah menyelesaikan hajatnya, Kanaya menyempatkan diri untuk mengubah cadarnya dengan yang lebih baru. Karena biasanya, ada beberapa noda yang mengenai cadarnya.


Kemudian, cadar yang telah dipakai sebelumnya itu, Kanaya lempit dan ia masukkan ke dalam tasnya. Barulah setelah itu, wanita itu berjalan keluar toilet.


Saat Kanaya berjalan, tanpa diduga dari arah berlawanan seseorang dengan memakai topi tanpa sengaja bertabrakan dengan Kanaya.


Bugh.


"Aw,"ringis wanita itu.


"Astaghfirullah, maaf Mba. Mba nggak papa?"ujar Kanaya khawatir.


Walaupun posisi disitu, Kanaya yang ditabrak. Namun beruntungnya Kanaya tidak terjerembab karena dibelakangnya tepat dinding. Sedangkan wanita itu terjatuh di lantai.


"Biar saya bantu, Mba,"ujar Kanaya mengulurkan tangannya.


Tapi siapa sangka, uluran tangan Kanaya justru mendapat penolakan. Wanita itu gegas bangkit dan berjalan tergesa-gesa dengan menurunkan topi sampai menutupi wajahnya.


"Dia sudah tidak ada? Cepat sekali,"gumam Kanaya.


Kanaya yang tidak ingin ambil pusing dengan sosok wanita yang menabraknya itu pun, memilih kembali melangkahkan kakinya menuju restaurant dimana Aneth dan seorang pelayan menunggunya.


"Kakak ipar, sudah?"tanya Aneth.


"Sudah, kita pulang sekarang ya,"ujar Kanaya.


Aneth gegas meraih tas kecilnya lalu berjalan beriringan dengan Kanaya keluar mall tersebut. Sementara itu di mall yang sama terlihat sosok wanita menatap Kanaya dengan bara apa kemarahan.


Tangan wanita itu terkepal keras saat mendengar tawa Aneth karena kebersamaan dengan Kanaya.


***


"Riko, cepat berikan semua berkas yang harus Saya tanda tangani,"titah Jacob.


Dari arah luar, Riko yang tengah berjalan dengan setumpukkan berkas ditangannya tampak menghela nafas panjangnya.


"Tuan Muda Pertama, ini seluruh berkas yang harus Anda tanda tangani untuk hari ini,"ujar Riko usai ia meletakkan setumpukkan berkas di atas meja Jacob itu.


Tanpa bicara, Jacob kembali memfokuskan dirinya pada setumpuk berkas tersebut.

__ADS_1


"Riko, rapat setelah jam satu ke atas, kamu yang mewakilinya,"ujar Jacob tanpa mengalihkan netranya dari tumpukkan berkas tersebut.


"Tapi Tuan, rapat tersebut adalah rapat dengan calon investor Garadha Group yang dari Singapura,"ucap Riko.


"Hem, Saya tahu."


Jika jawaban yang Jacob berikan sudah seperti itu, maka artinya tidak ada penawaran lagi untuk mengubah keputusannya.


Ditengah-tengah pria fokus pada pekerjaannya. Suara notifikasi pesan terdengar dari ponselnya.


Itu dari Kanaya dan Aneth. Keduanya memberi kabar pada pria itu jika telah pulang dari berbelanjanya.


Jacob mengalihkan netranya sejenak untuk meraih ponsel dan membalas pesan keduanya.


[Kamu ingat kan, apa yang kakak suruh belikan untuk kakak iparmu?]Jacob to Aneth.


[Beres, kakak ipar juga tadi nggak lihat waktu Aku beli itu.] Aneth.


Pesan dari Aneth Jacob tinggalkan begitu saja, karena dia rasa tidak perlu menberi respon lagi atas pesan tersebut.


Selanjutnya Jacob beralih pada pesan yang Kanaya kirimkan.


[Mas, Naya sudah pulang dari mall] Kanaya.


[Iya Naya Sayang, nanti Aku pulang cepat, kamu pasti rindu sama Mas kan?] Jacob.


Kanaya tersenyum geli saat membaca pesan balasan narsis dari suaminya itu. Padahal pesannya jelas hanya pemberitahuan dan tidak menanyakan kapan pria itu pulang. Tapi dengan percaya dirinya Jacob mengatakan jika Kanaya tengah merindukannya.


[Ya sudah, Naya tunggu].


[ Atau kamu minta Mas pulang sekarang? Nggak papa kok, daripada kamu rindu berat sama Mas] Jacob.


Kanaya menjerit gemas pada tingkah suaminya yang tidak nyambung itu. Kenapa tidak pria itu yang bilang jika dia yang merindukan Kanaya?


[Tidak mau, selesaikan dulu kerjaannya Mas. Jangan banyak alasan.] Kanaya.


Setelah membalas pesan itu, Kanaya meletakkan ponselnya begitu saja. Dia sengaja untuk menyudahi percakapan tersebut. Karena jika Kanaya melanjutkannya, sudah dipastikan yang ada Jacob akan tidak fokus pada pekerjaannya.


Sementara itu jacob tampak melihat secara berulang ponselnya. Kenapa Kanayanya tidak kunjung membalas pesannya?


"Sepertinya Aku harus segera menyelesaikan kerjaan ini,"gumam Jacob.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2