ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
BAB 64


__ADS_3

"Saya hanya sebentar. Jika saya melakukan hal berlebihan maka masuklah dan cegah Saya, "ucap Jacob pada Riko.


"Baik Tuan Muda Pertama, "balas Riko.


Setelah memberi perintah pada asistennya itu. Lantas pria itu memutar handle pintu kamar VVIP tersebut.


Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, dan suasan rumah sakit sangatlah sepi.


Di kamar rawat Kanayapun tampak wanita cantik itu terlelap seorang diri, sedangkan Nenel Risma telah pulang atas permintaan pria itu.


"Kamu sangat cantik, "gumamnya.


Ia sentuh wajah cantik yang tengah terlelap itu. Suhu ruangan terasa sangat dingin membuat pipi yang Jacob sentuh itu juga terasa dingin.


Pria itu berjalan meraih remot AC lalu menurunkan suhu ruangannya.


Setelah itu ia kembali duduk di kursi persis disisi brangkar Kanaya.


"Kamu pasti sangat menderita, maafkan Aku Sayang, "lirih Jacob.


Wajah cantik itu tampak lebih tirus semakin membuat dada Jacob terasa sakit. Dia yang mudah sekali setres menjadikannya terus merasa bersalah dan sulit berdamai dengan keadaan.


Jari Jacob beralih turun ke arah bibir pink yang sudah menjadi candu dan sangat ia rindukan itu. Perlahan Jacob menundukkan kepalanya mendekati wajah Kanaya dan menyatukan bibir mereka.


"Biarkan Aku mencumbumu yang terakhir kalinya, Nay, "lirih Jacob saat ia melepaskan kecupannya lalu kembali menyatukan bibirnya.


Kali ini bukan hanya kecupan melainkan sebuah cumbuan yang sangat dalam. Terdapat kerinduan dan kesedihan dari setiap gerakan bibir pria itu.


Kanaya yang merasa bibirnya dimainkan oleh seseorang perlahan mengerjapkan kelopak matanya.


"Mas..."lirih Kanaya menatap pria yang jarak wajahnya teramat dekat itu.


Jacob tertegun namun sudah terlanjur dia menyentuhnya, pria itu memilih melanjutkan aktivitas bibir tebal pada bibir tipis Kanaya itu.


"Tidurlah, "ucap Jacob disela cumbuannya pada Kanaya.


Entah memang karena efek mengantuk atau lainnya, namun kalimat 'tidurlah' itu seakan-akan menghipnotis Kanaya dan membuat wanita cantik itu menurutinya untuk memejamkan matanya kembali.


Jacob tersenyum melihat Kanaya kembali memejamkan matanya. Dia yang masih rindu akan tubuh Kanaya semakin tidak ingin berhenti.


Bibir pria itu menghentikan cumbuannya lalu beralih menyusuri leher jenjang Kanaya dan melepaskan dua kancing baju pasien yang Kanaya gunakan.


Samar dia mendengar suara ******* Kanaya, namun Jacob yang yakin jika wanitanya telah kembali tidur tetapi melanjutkan aktivitasnya bermain pada area dada yang matang itu.


"Hentikan Jacob, jika tidak berhenti sekarang maka Kamu tidak bisa melanjutkan niatanmu, "batin Jacob memberontak akan reaksi inti pria itu yang sudah sangat mengeras.

__ADS_1


"Hosh... hosh...hosh."


Deru nafas Jacob terdengar sangat berat dan tersengal. Tubuhnya ingin terus melanjutkan aktivitas panas pada wanita yang tengah terlelap itu.


Namun akalnya berhasil menang karena Jacob tidak bisa kalah untuk saat ini atau semua niatannya akan berantakan.


Ia rapikan pakaian Kanaya dan kembali menyelimutinya. Pria itu sengaja tidak meninggalkan jejak cinta pada tubuh indah sang istri.


"Jaga diri baik-baik Nay, kamu wanita yang baik, "gumam Jacob lalu gegas berbalik dan meninggalkan Kanaya seorang diri disana.


Menarik nafas dan membuangnya secara perlahan, setelah itu barulah Jacob membuka pintu ruangan tersebut.


Di depan pintu masih setia sosok Riko yang menantinya.


"Kita pergi sekarang, "ucap Jacob diangguki oleh sang asisten.


Sejenak Jacob kembali menatap wajah cantik Kanaya melalui cela pintu yang belum sepenuhnya dia tutup.


Dan setelah beberapa menit, barulah ia melangkahkan kakinya diikuti Riko dibelakangnya.


*


*


"Mas Jacob! "


"Mas Jacob Ndri, Mas Jacob dimana? Semalam dia kesini nemuin Kanaya Ndri, "ucap Kanaya menggebu.


Indri mengigit bibir bawahnya getir. Dia tidak tahu apa-apa perihal semalam, namun melihat reaksi Kanaya yang tampak sangat mengharapkan kedatangan Jacob membuatnya turut kalut.


"Tenang Nay, minum dulu ya!"ucap Indri seraya menyodori air putih untuk sahabatnya itu.


Kanaya menyambut gelas itu lalu meminumnya beberapa tenggakan.


"Indri, semalam Mas Jacob benaran kesini Ndri. Dia dia menyentuhku dan dia dia..."ucap Kanaya terpotong dan berganti tangisan wanita cantik itu.


Indri menyentuh bahu sang sahabat lalu berkata.


"Nay, sedari kamu masih terlelap. Aku sudah datang kesini dan tidak mendapati siapapun di kamar ini, "jelas Indri.


Kanaya tertegun mendengar penuturan sahabatnya itu. Ia membuka kancing baju pasien yang tengah dikenakannya itu.


Kanaya ingin mencari kissmark, karena seingatnya saat dulu Jacob bercinta atau menyentuhnya maka tubuhnya akan dipenuhi stempel pria itu.


"Tidak ada, dimana... Apa di belakang. Ndri kamu lihat bekas keunguan di tubuhku tidak? Ada kan disana?"ucap Kanaya seraya memutar tubuhnya dan menunjukkan punggungnya pada Indri.

__ADS_1


"Tidak ada Nay, tidak ada bekas apapun di punggungmu. Nay semalam tidak ada siappun yang kesini Nay, sudah ya. jangan kayak gini lagi, "ucap Indri lalu meraih tubuh sahabatnya itu dalam pelukan hangatnya.


Indri tahu Kanaya sangat merindukan sosok Jacob. Namun Indri juga tidak tahu apa-apa tentang keberadaan pria itu.


Indri hanya seorang pelayan di kediaman Garadha, yang tidak mengerti secara keseluruhan.


"Dia benar-benar tidak datang semalam. Ndri nanti kalau pulang sampaikan ke Mas Jacob ya supaya dia kesini, "pinta Kanaya dengan suara lirih.


"Iya Nay, nanti Aku sampaikan, "ucap Indri.


Ya, lagi lagi Kanaya meminta pada orang yang ada disekitarnya untuk menyampaikan permintaannya agar mengatakan pada Jacob untuk datang menjenguknya.


***


"Kau harus kembali ke luar negeri Mark, "titah Tuan Garadha.


"Mark ingin terus di Jakarta, Mark tidak mau ke Paris lagi, "tolak Mark.


Mark yang baru saja keluar dari rumah sakit dan sampai di kediaman Garadha tampak kesal pada kedua orang tuanya.


Pasalnya Nyonya Seline dan Tuan Garadha sama-sama memintanya untuk kembali ke luar negeri.


Dia baru saja beberapa bulan yang lalu di tempat kelahirannya, tentu saja enggan kembali ke luar negeri. Terlebih ada sosok wanita yang membuatnya betah (Kanaya).


"Ini perintah dan Kamu tidak berhak menolak atau menawarnya, "ucap Tuan Garadha tegas.


"Pah, Mark... "


"Mark, turutilah perintah Papa kamu, "saut Nyonya Seline memotong kalimat Mark.


Mark menggeram kesal pada mereka. Jemari tangannya terkepal kuat hingga buku-buku tangannya memerah.


"Jika kamu menolak, maka nama Kamu akan Papa hapus dari kartu keluarga Garadha, "ancam Tuan Garadha serius.


"Ck, selalu saja ancaman itu yang Papa dan Mama berikan. Dan jika sudah seperti ini apa Mark bisa membantah lagi, "ucap Mark dengan decihannya.


"Tapi Mark mau kembali ke luar negeri lagi dengan satu syarat, "lanjutnya dengan senyuman miring.


"Katakan apa syarat yang kamu mau Mark? "tanya Tuan Garadha.


Ketiganya sama-sama terdiam menanti syarat apa yang akan diminta oleh Mark pada mereka agar pria itu mau kembali ke luar negeri.


"Biarkan dia ikut denganku ke luar negeri, "ucap Mark seraya menunjuk Indri yang baru saja datang dari rumah sakit itu.


"Hah? M-maksudnya Tuan? "ucap Indri terbata dengan segala kebingungannya.

__ADS_1


***


__ADS_2