ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
Bab 94


__ADS_3

"Tuan Muda Pertama, kita sudah berkeliling kota tapi tidak menemukan penjual yang berlesung pipi itu,"keluh Riko.


Bukan hanya Jacob yang harus merasakan kesusahan, Ternyata Jacob juga menarik asistennya dalam penderitaan yang pria itu dapati.


Sudah keliling kota mereka mencari rujak bebek tapi setiap bertemu, selalu saja penjualnya tidak memiliki lesung pipi. Dan itu cukup menyulitkan keduanya.


"Kita cari lagi, Rik!"titah Jacob.


"Tuan, apa tidak sebaiknya kita mencari pria berlesung saja lalu kita minta untuk berpura-pura menjadi penjual rujaknya?"saran Riko.


"Jangan berikan Saya, saran yang akan membuat Kanaya marah padaku,"tolak Jacob mentah-mentah.


Sebelumnya Riko juga menyarankan untuk menyuruh seorang pria berlesung pipi berpura-pura foto dengan sepiring rujak bebek, tapi sepertinya Kanaya yang jeli bisa mengetahuinya dan dengan tegas istri cantiknya Jacob itu menyuruh pria itu mencari lagi dan melarang kembali ke mansion jika belum berhasil mendapatkan rujak bebek dengan penjual yang berlesung pipi.


"Baik Tuan Muda Pertama,"ujar Riko patuh.


Keempat roda itu kembali berputar membawa dua pria di dalamnya meninggalkan penjual rujak bebek tanpa lesung pipi di pinggir jalan itu. Entah kemana lagi, Jacob dan Riko harus mencarinya. Bahkan sangking tidak ingin membohongi Kanaya. Pria itu juga turut menyuruh Tasya, sekretarisnya untuk mencari keberadaan penjual rujak bebek dengan lesung pipi.


Sampai ketika mereka berada di perbatasan kota, akhirnya pencarian keduanya tidak sia-sia. Seorang penjual muda dengan lesung pipi mereka berhasil temukan.


"Ada apa Tuan?"tanya Riko heran.


Jacob yang tadinya begitu semangat saat Riko mengatakan telah menemukan penjual dengan kriteria yang Kanaya inginkan mendadak menghentikan langkah kakinya.


Seorang pemuda berkulit sawo mateng dengan lesung pipi itu mendapat tatapan tidak suka dari Jacob. Jika disandingkan memang lebih tampan Jacob, tapi usia penjual rujak bebek itu jauh lebih muda dan itu membuat pria itu tidak rela jika harus bervideo call dengan Kanaya nantinya.


"Cari yang lebih tua Rik,"serunya seraya berbalik.


"Tuan apa Anda serius? Ini saja kita dapat di luar kota, jika sampai kita mencari lagi pastinya sulit,"ujar Riko.


Lagi pula apa salahnya dengan pemuda di depannya itu. Perubahan Jacob itu cukup membuat Riko merasa putus asa. Tidak mudah menemukan penjual berlesung pipi, eh sekalinya dapat, dengan enteng Jacob menolaknya.


"Dia jauh lebih muda, dan ingat Kanaya meminta untuk video call, Saya tidak menyukainya,"jelasnya.


Helaan nafas berat keluar dari rongga hidung Riko. Alasan yang diberikan oleh Tuannya itu sungguh hal sederhana.


Saat keduanya hendak berbalik mencari kembali penjual rujak bebek berlesung pipi yang usianya telah tua, tiba-tiba suara dering ponsel Jacob menghentikan langkah kaki mereka.


Nama Istri Cantikku, terlihat pada layar ponsel Jacob. Pria itu tampak kebingungan dan ragu untuk mengangkat panggilan dari istrinya. Karena bisa dipastikan jika istri cantiknya itu akan menerornya dan menanyakan apakah dirinya telah mendapatkan apa yang Kanaya inginkan.

__ADS_1


Berbeda dengan Jacob yang kalut, Riko justru terlihat sumringah. Bak penyelamat hidupnya, itulah panggilan yang kini Riko sematkan pada panggilan dari Kanaya tersebut.


"Tuan Muda Pertama, lebih baik diangkat saja. Dan menurut Says tidak apa jika Nona melihat sekilas penjualny lalu kamera di arahkan pada wajah Anda kembali. Karena jika kita harus mencari penjual lagi, Saya rasa itu akan membutuhkan waktu lama dan bisa saja membuat Nona Kanaya akan kembali kesal pada Anda, Tuan,"ujar Riko.


Sepertinya penjelasan Riko sedikitnya membuat Jacob ragu akan pendirian awalnya. Terlebih kalimat 'menunjukkan sebentar' memasuki pertimbangan pria itu.


Dengan segala pemikiran yang sebelumnya berkelimut pada akalnya, akhirnya jemari pria tampan itu menggeser icon hijau untuk mengangkat panggilan dari Kanaya.


"Hallo Mas, Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam,"balasnya pada sosok dibalik layar ponselnya itu.


Wajah cantik yang tadi belum terlihat sempurna karena Kanaya yang tadinya tengah berjalan kini bisa terpampang jelas. Dan itu membuat Jacob kelimpungan.


Pria itu gegas memutar tubuhnya agar Riko tidak bisa melihat layar ponselnya.


"Naya Sayang, mana cadarmu? Ayo pakai sekarang,"titahny dengan raut kekhawatiran.


"Iya Mas sebentar. Ini, Kanaya ambil dulu."


Layar terarah pada dinding kamar. Lalu beberapa saat kemudian kembali bergerak seiring dengan wajah Kanaya yang telah berbalut dengan sebuah cadar.


Dengan rasa malasnya, kaki pria itu berjalan mendekati penjual rujak bebek berlesung pipi yang tadinya Jacob tolak dengan alasan masih muda.


Wajah sumringah Riko terlihat jelas, asisten Jacob itu berjalan cepat lalu memesan satu bungkus rujak bebek pada pemuda tersebut.


"Mana? Kok nggak dikasih lihat sih,"desak wanita cantik itu lagi.


"Itu ada di depan Aku."


"Arahin kameranya, Mas,"mohon Kanaya penuh harap.


Tatapan yang selalu memabukkan dan sulit untuk pria itu menolak permintaanya. Dengan berat hati Jacob membalik kameranya kepada penjualnya. Tidak lama, hanya hitungan detik lalu kembali Jacob arahkan kepadanya.


"Mass, kok dibalik lagi. Mana penjualnya,"rengek Kanaya dibalik sana.


Jacob menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Dia merasa enggan mengatakan jika dirinya tidak ingin istri cantiknya melihat wajah pria selain dirinya.


"Tadi kan sudah lihatnya, Naya Sayang. Sekarang kamu lihat wajah Aku saja ya,"ujar pria itu.

__ADS_1


Kedua mata Kanaya kembali berkaca-kaca, pertanda jika wanita cantik itu akan kembali menangis jika tidak dituruti keinginanya.


"Mas..."


"Iya."


Wajah tampan pria itu seketika masam, serta tatapan tajam pada penjual rujak bebek yang tengah dilihat antusias oleh istri cantiknya.


Ingin rasanya Jacob membanting ponselnya, ketika Kanaya memintanya untuk mengelap keringat penjual rujak bebek itu.


"Ayo Mas, kasihan penjualnya yang buat rujaknya Naya."


Standar bucin yang sudah sangat akut. Pria yang dulu pengidap IED dengan tingkat emosi serta amarah meledak-ledak kini begitu sabar menghadapi kemauan istrinya yang jelas membuat dirinya jengkel.


"Kita langsung ke mansion Tuan?"tanya Riko dibalik kemudi.


"Hem."


Setelah drama mencari penjual rujak bebek berlesung pipi, kini Jacob dan Riko akhirnya bisa pulang ke mansion dengan satu bungkus rujak bebek permintaan istri cantiknya.


Gerbang tinggi menjulang tampak terbuka, penjaga mansion berjajar menyambut kedatangan Jacob di jam sepuluh malam itu.


Roda mobil berhenti persis di depan mansion. Dengan langkah panjangnya, Jacob melenggang masuk ke dalam mansion dengan berteriak memanggil nama Kanaya.


"Naya...Kanaya, Aku pulang,"serunya.


Pria itu menggunakan lift untuk menuju lantai atas dimana kamar utama berada. Sebelum pria itu membuka pintu kamarny, Jacob menyempatkan diri merapikan kemeja dan rambutnya.


"Naya..."


Suara Jacob seketika hilang, tubuh tegapnya pun mendadak lunglai.


Di atas kasur, istri cantiknya telah tertidur dengan nyenyaknya.


"Dia sudah tidur,"gumamnya lemas.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2