
Kanaya menatap gelapnya malam dari balkon kamar. Udara terasa tenang suasanpun tampak sunyi.
Setetes air mata mengalir dari setiap sudut matanya. Hatinya tengah sedih sampai tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis.
Dia rindu belaian Jacob, dia rindu menatap wajah tampan pria itu kala pertama kali ia bangun dari tidurnya.
Tapi malam ini sudah yang ketiga kalinya dia tidak bertemu dengan sang suami.
Saat ia tidur selalu merasakan kehadirannya, namun saat matanya terbuka tidak siappun di sisinya.
"Mas, sebenarnya kamu kenapa, "desahnya.
"Kalau Kanaya ada salah seharusnya bilang, bukan menghilang kayak gini, "lanjutnya lagi.
Tangan wanita itu terulur menghapus air mata yang kini kian deras. Perasaan wanita hamil sangatlah sensitif.
Kanaya tidak tahu apa yang telah ia lakukan, namun Jacob seakan-akan menghindari dirinya.
Lelah karena berdiri terlalu lama dipinggir balkon, Kanaya berjalan mendekati kursi santai yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Ia duduk disana dengan tubuh bersandar pada body kursi santai itu. Dia berharap malam ini Jacob datang dan mau menemuinya. Kanaya sadar jika ia sangat butuh pria itu di sampingnya.
Kanaya yang lelah tanpa sadar terlelap di atas kursi itu.
***
Langkah kaki Jacob terlihat sangat hati-hati. Ia mengendap sedari melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Netranya berkeliling mencari sosok cantik yang sedari beberapa hari ia hindari itu.
"Dimana dia? Kenapa tidak ada di atas kasurnya, "gumam pria itu.
Jacob yang tadinya sedikit berbungkuk kini menegakkan tubuhnya saat tidak melihat keberadaan Kanaya di atas kasur seperti malam-malam sebelumnya.
__ADS_1
Ya, Jacob memang tengah menghindari Kanaya. Perkataan Mark jika ia penyebab Kanaya selalu dalam bahaya membuat Jacob tidak tenang.
Sehingga keputusan untuk menghindari Kanaya ia lakukan.
"Di mana dia sebenarnya? Di kamar mandi tidak ada, "celetuk Jacob usai mengecek kamar mandi yang ternyata kering tidak ada tanda-tanda siapapun di sana.
Sampai ketika ia melihat pintu balkon kamar yang terhubung membuat pria itu menerka jika Kanaya tengah berada disana.
Angin malam nampak cukup kencang terlihat korden yang menutupi pintu balkon berterbangan cukup kencang yang membuat langkah Jacob semakin cepat.
Sesampainya disana, Jacob tertegun melihat istri cantiknya yang tengah tertidur di atas kursi tanpa berselimutkan apapun.
Kanaya terlihat berulang kali meggigil karena rasa dingin yang mengenai tubuhnya.
"Kenapa kau tidur disini, di luar sangat dingin, "gumam Jacob.
Tidak butuh waktu lama lagi, Jacob gegas membawa Kanaya dalam gendongannya menuju ke dalam kamar. Ia tidak lupa menutup pintu balkon dengan kakinya.
Dengan hati-hati Jacob merebahkan tubuh Kanaya di atas kasur empuk miliknya lalu menyelimuti tubuh Kanaya agar memberi wanita itu hawa hangat.
Jacob berniat beranjak dari sana untuk tidur di ruang kerja, dimana ia selama ini tidur dalam rangka menghindari Kanaya itu.
"Mas... dingin, "gumam Kanaya dengan tangan memegang lengan Jacob.
Sejenak Jacob tertegun, ia takut jika wanita itu terbangun. Ekor mata Jacob melirik ke belakang untuk memastikan apakah Kanaya sudah bangun atau tidak.
"Dia hanya mengigau ternyata, "gumamnya.
Jacob mencoba untuk melepaskan tangan Kanaya yang memegangi tangannya itu. namun Kanaya justru memeluknya erat.
"Baiklah, Aku akan disini, "gumam Jacob lagi.
Jacob mengambil posisi duduk disamping tubuh Kanaya membiarkan wanita itu memeluk lengannya.
__ADS_1
Cukup lama dia ada disana, duduk di atas kasur sembari memandang wajah cantik yang tidak pernah bosan ia pandangi itu.
Sampai jam menunjukkan pukul setengah empat pagi. dimana sebentar lagi Kanaya biasanya akan bangun untuk sholat Subuh barulah Jacob memutuskan untuk beranjak dari kasur.
Sebelum itu, ia menatap wajah cantik yang sebenarnya sangat ia rindukan itu.
"Maafkan Aku, "gumamnya lalu mendekatkan wajah dengan wajah Kanaya dan menempelkan bibirnya pada bibir tipis Kanaya.
"Ini sangat Aku sukai, tapi Kau harus berhenti Jac, "batin Jacob memberontak.
Namun meski hatinya memberontak akan tindakan itu, nyatanya tidak selaras dengan tubuhnya yang kini justru bibir tebal itu ******* bibir Kanaya dengan buas.
"Aku sangat merindukan ini, "batin Jacob.
Ia semakin intens menciumi bibir tipis Kanaya. Terlebih saat ia merasakan wnaitanya membalas ******* itu membuat Jacob terkejut namun juga senang.
Ia melirik wajah Kanaya yang tidak sedikitpun mata indah itu terbuka.
"Biarlah Aku menjadi pengecut, Aku sangat rindu bibir manis ini, "batin Jacob.
Pergulatan bibir itu terus berlanjut, bahkan Jacob mulai menelusuri leher jenjang Kanaya dan tangan pria itu pun tak tinggal diam.
Ia gunakan keaktifan tangannya untuk menyentuh dua buah simalakama yang menggoda imannya.
Sampai suara lenguhan terdn^br jelas oleh telinga Jacob. Jacob kembali melihat wajah Kanaya untuk memastikan jika wanita itu masih tertidur.
"Allahu akbar... Allahu akbar!"
"Sial! "
Jacob menarik tubuhnya dari atas tubuh Kanaya saat alarm subuh terdengar. Dengan segera ia mengambil langkah seribu keluar dari kamar itu sebelum wanita cantik yang ia curi bibirnya kala terlelap itu tidak tahu akan keberadaan dirinya disana.
***
__ADS_1
TBC