ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
BAB 61


__ADS_3

"Jac,"panggil Nyonya Seline pelan.


Wanita itu berjalan mendekati sang putra sulung seorang diri. Karena Tuan Garadha sendiri dipintanya untuk menjaga Mark sampai putra kedua mereka itu sadar.


"Naya Mah, semuanya salah Jacob, "celetuk pria itu tanpa sedikitpun mengalihkan netranya dari pintu dimana istrinya tengah mendapatkan pertolongan di dalam sana.


"Kita berdoa yang terbaik untuk Naya dan calon anak kalian ya, "ucap Nyonya Seline.


Hanya kalimat itu yang mampu Nyonya Seline katakan pada sang putra. Dia juga tidak tahu harus menyikapinya seperti apa.


Nyonya Seline hanya bisa berdiri disamping sang putra agar Jacob lebih tenang. Dia tahu jika Jacob masih menyalahkan dirinya akan kondisi Kanaya saat ini.


Disaat kedua orang itu menanti terbukanya pintu tersebut. Tiba-tiba pintu itu dibuka dan memperlihatkan seorang dokter wanita yang menangani Kanaya.


"Bagaimana kondisi istri Saya dok? Dia... dia, baik-baik saja kan? "berondong Jacob pada dokter itu.


Sang dokter membuka masker yang menutupi wajahnya, tampak dia ingin menyampaikan sesuatu pada Jacob dan Nyonya Seline.


"Kondisi keduanya cukup buruk Tuan, baik ibu dan anak sama-sama dalam kondisi bahaya. Dan dari kami sepertinya hanya bisa menyelamatkan salah satu dari keduanya. Jadi Saya mohon keputusan dari Tuan, selaku suami dari Nona Kanaya, "jelas dokter itu.


Bak dihantam baja yang teramat berat hingga membuat Jacob hampir limbung karena sesuatu yang ia dengar.


Dia bingung harus memutuskan apa dalam hal ini. Baby adalah calon anak yang dia dan Kanaya tunggu-tunggu, meskipun di awal dia sempat tidak mengharapkannya.


Namun dia tidak mungkin membiarkan Kanaya dalam bahaya. Biarlah Kanaya membenci dirinya dan terus menyalahkan dia karena tidak memilih menyelamatkan Baby mereka.


"Tolong, selamatkan Kanaya, selamatkan ibunya, "ucap Jacob mantap.

__ADS_1


"Baik, Anda harus menandatangi berkas ini dan kami akan segera melakukan operasinya, "ujar dokter itu seraya mengambil sebuah berkas yang dibawa oleh seorang perawat sebelumnya.


Meskipun ia sedikit ragu untuk membubuhkan tanda tangannya disana. Namun mengingat Kanaya, rasa ragu itu lenyap seketika dan membuat Jacob gegas membubuhkan tanda tangannya.


"Baik, operasi akan segera kami lakukan, "ujar dokter itu kembali masuk ke dalam ruangan tersebut.


Tidak lama sosok Kanaya yang berada di atas brankar dibawa keluar bersama dokter dan beberapa perawat menuju ruang operasi.


Jacob tidak banyak bicara, dia terus mengikuti laju brangkar tersebut diikuti Nyonya Seline disisi lainnya.


"Harap tunggu diluar,"ujar seorang perawat menahan langkah Jacob.


Atensi Jacob masih menatap nanar sosok Kanaya yang perlahan hilang seiring tertutup rapatnya pintu tersebut.


Tubuh Jacob gontai, kaki pria itu berjalan lemah menuju kursi tunggu lalu luruh tak berdaya.


Iya, Jacob menangis. Dia memang pria, namun disaat kondisi seperti ini Jacob juga tidak bisa untuk menahan air matanya lagi.


Entah bagaimana reaksi Kanaya ketika wanita itu bangun. Wanita itu pasti akan sangat marah padanya saat tahu jika dialah penyebab perginya sang calon anak pertama mereka.


"Nak, kamu harus kuat,"ucap Nyonya Seline pada sang putra.


Jacob hanya menatap sekilas sang Mama, lalu kembali menundukkan kepalanya.


***


Disisi lain, di rumah sakit yang sama namun di kamar yang berbeda tampak Tuan Garadha berdiri cukup jauh disamping brangkar dimana Mark masih tak sadarkan diri.

__ADS_1


Ekspresi pria penuh wibawa itu tampak sulit dibaca. Datar dan sulit diterjemahkan.


Sampai saat lenguhan kecil keluar dari bibir putra keduanya barulah pria parubaya itu mendekati.


"Naya... "lirih Mark.


"Ck, berhentilah memanggil nama kakak iparmu Mark,"desis Tuan Garadha.


Perlahan mata Mark terbuka lebar dan dengan jelas pada penglihatan pria itu sosok Tuan Garadha di matanya.


"Pah... "panggil Mark.


"Syukurlah Kau sudah sadar,"ujar Tuan Garadha lalu berbalik hendak keluar dari sana.


"Papa mau kemana? "tanya Mark sedih.


Kaki Tuan Garadha berhenti ketika mendapatkan pertanyaan dari putra keduanya itu.


"Memanggil dokter untukmu, lalu setelah itu pergi ke kamar dimana Kanaya tengah kritis, "sarkas Tuan Garadha lalu kembali melanjutkan langkahnya.


"Kanaya kritis, "lirih Mark.


Ingin pria itu bangkit dari atas kasur tersebut, namun Mark tidak bisa. Dia tidak mampu melakukannya karena tubuhnya dalam kondisi teramat memprihatinkan.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2