
Setelah kemarin Kanaya tidak pergi ke toko pakaiannya. Hari ini Kanaya memutuskan untuk berangkat, perasaannya sudah cukup merasa aman.
Perjalanan wanita cantik itu menggunakan ojek langganannya. Toko milik Kanaya terdapat dua lantai. Lantai satu untuk aktivitas jual beli, sedangkan lantai dua adalah ruang Kanaya, tempat penyimpanan barang-barang, dan juga tempat biasa untuk meletakkan barang milik para karyawannya.
Seperti biasa Kanaya langsung menuju lantai dua dimana ruangannya. Namun langkah wanita itu terhenti, saat ia melihat ketiga karyawannya yang menatap dia dengan tatapan aneh.
"Ada apa Layla? Kenapa kamu dan yang lainnya menatap Saya seperti itu, "ucap Kanaya kala kakinya menjejaki anak tangga pertama.
Layla, Wina, dan Ratna saling menyenggol. Mereka saling menyuruh satu sama lainnya untuk bicara lebih dulu pada Kanaya.
Huft.
Melihat karyawannya yang belum juga membuka mulut untuk mengatakan apa yang ingin mereka ketahui membuat Kanaya menghela nafas panjangnya.
"Kalau nggak ada yang mau dibicarakan, Saya ke atas dulu, "ucap Kanaya lalu mengalihkan atensinya dari ketiganya.
"Bu! "panggil Layla memberanikan dirinya.
Kanaya kembali menghentikan langkahnya, manik abu-abu nan indah milik wanita itu menatap lekat Layla, yang memberi kode pada karyawannya untuk bicara.
Layla mengambil beberapa langkah mendekati Kanaya, lalu Layla menyodorkan ponselnya pada atasannya itu.
Kanaya mengambil alih ponsel Layla dan membaca sebuah platfrom berita online tentang pencarian dirinya.
"Ikut Saya ke lantai atas. Toko tutup dulu sebentar, "ujar Kanaya seraya menyerahkan kembali ponsel Layla.
Sesuai perintah Kanaya, rolling toko itu kembali ditutup oleh mereka. Beruntung hari masih sangat pagi dan belum ada pelanggan yang mendatangi toko tersebut.
"Kalian pasti kaget saat melihat wajah Saya terpampang disana, "ujar Kanaya kala Layla, Wina, dan Ratna sudah berada di depannya.
Benar, Ketiganya sangat terkejut kala wajah cantik Kanaya yang sangat mereka segani terpampang nyata di platform berita tersebut.
"Kalian tenang, Saya bukanlah seorang penjahat. Tapi tolong jangan pernah kalian mengkhianati Saya dan tergiur akan imbalan dua ratus juta itu."
"Tapi Bu, kenapa mereka mencari Ibu? "celetuk Wina yang tak bisa menahan diri lagi dari rasa penasarannya.
"Saya tidak tahu, yang jelas Saya tidak ingin mereka tahu akan keberadaan Saya saat ini, jadi tolong kesetiannya dan bantuannya,"ujar Kanaya.
"Siap Bu, kami selalu berada di sisi Ibu dan akan melindungi ibu, "saut Layla yang juga mendapat anggukan kedua rekannya.
Kanaya terkekeh kecil. Mereka bilang ingin melindunginya? Itu terdengar sangat lucu bukan? Seakan-akan Jacob adalah penjahat yang dan Kanaya harus dilindungi dari pria itu.
__ADS_1
"Ya sudah kalau gitu, kembalilah bekerja. Takutnya sudah ada pelanggan yang datang, "ucap Kanaya.
***
"Kamu yakin ini tempatnya? "tanya Riko pada wanita bertubuh tambun yang duduk kursi belakang itu
Sementara Jacob atensinya hanya difokuskan pada toko pakaian yang rolingnya masih tertutup itu. Jantung pria itu berdegup sangat kencang. Perasaan macam apa itu? Rasanya dia ingin kesana ketika seorang gadis mendorong roling tersebut untuk membuka toko pakaian itu.
Tapi kaki pria itu kini terasa lemas, entah apa yang menyebabkan itu terjadi. Atau karena sangking senangnya kala ia mendengar dari wanita di kursi belakang jika Kanaya-nya telah memiliki toko dan pastinya ada disana. Atau mungkin perasaan lainnya.
"Benar Tuan, Saya sering membeli pakaian di tokonya Bu Naya,"ujar wanita itu.
Riko terdiam, dia memalingkan wajahnya menatap sang Tuan yang masih saja bergeming dengan mata yang terus tertuju pada toko pakaian muslim itu.
"Tuan Muda Pertama, apa kita akan kesana sekarang juga? "tanya Riko membuyarkan lamunan Jacob.
Jacob berdehem, dia merapikan kemeja nya lalu membuka kaca di depan untuk melihar wajahnya. Kusut, satu kenyataan itu membuat pria itu merasa kesal.
"Kamu selalu bawa sisir dan parfum kan? "tanya pria itu tanpa menjawab pertanyaan pertama Riko.
Riko mengangguk, dia memang memiliki kebiasaan menyimpan alat pribadi berupa sisir kecil di sakunya dan parfum di dalam mobil. Hal itu selalu ia lakukan, agar ketika menemani Jacob penampilannya selalu oke.
"Ini Tuan Muda Pertama, sisir dan parfumnya. Tapi maaf parfum Saya tidak semahal parfum Anda, "ujar Riko seraya menyodorkan dua benda itu.
"Oke, sekarang kita turun, "ujar Jacob setelah merasa penampilannya cukup baik.
Pria itu turun dari dalam mobil, diikuti Riko dan wanita tadi. Degup jantung Jacob semakin naik menjadi enam puluh per detik.
Ah dia tidak sabar bertemu dengan Kanayanya dan memeluk tubuh sang wanita erat-erat.
"Mba Layla, "sapa wanita itu ketika melihat sosok Layla yang tengah berdiri di balik meja kasir.
Layla terdiam, dia ingat siapa wanita di depannya itu. Yang tak lain pelanggan setia toko Kanaya. Tapi, siapa kedua pria tampan di samping wanita tersebut. Asing dan sepertinya ada yang tengah dicari-cari mereka.
"Eh, Bu Rengganis. Apa kabar Bu? Ada yang bisa Saya bantu, "ucap Layla bersikap profesional.
Wanita bernama Rengganis itu melirik pada Jacob dan Riko lalu kembali menatap Layla.
"Saya ingin bertemu dengan Bu Naya, ada kan? "tanya Rengganis.
Tangan Layla terangkat hendak menunjuk pada lantai dua, namun dari anak tangga tampak Ratna memberi kode keras pada Layla.
__ADS_1
Layla tentu saja tidak tahu, dia tidak paham akan kode keduanya.
"Ada Bu, ada di lantai dua. Di ruangannya, kalau boleh tahu... "
Kalimat Layla menggantung, dia menatap tak percaya pada salah satu pria tampan di belakang Rengganis yang langsung berlari cepat ke arah lantai dua. Lalu dibelakangnya sosok Riko yang mengejar Jacob.
"Terima kasih Mba Layla,"seru Rengganis turut mengejar Jacob dan Riko.
Layla menepuk dahinya, dia lupa akan satu pesan dari Kanaya yang tidak ingin ada seorang pria mendatangi ruangannya.
"Aduh, gawat ini. Bisa kena marah, "ucap Layla turut panik kemudian ikut mengejar Jacob yang telah ke lantai atas.
"Ratna, gimana ini. Bu Naya pasti marah. Soalnya Aku sudah kecolongan kasih pria ke ruangannya, "ucap Layla kala melewati Ratna yang tersungkur di atas kerasnya lantai.
Tadi Ratna yang ada di bawah tangga berusaha menghalangi Jacob agar tidak ke lantai atas. Tetapi sayangnya, pria itu tidak bisa ia tahan dan berakhir dirinya yang harus terjerembab di atas lantai.
"Bukan cuma di marahi, yang ada kamu juga bakal di pecat. Pria tadi itu, orang yang nyebar informasi pencarian Bu Naya di internet sama televisi, "jawab Ratna.
Semakin paniklah Layla mendengar itu. Dia semakin mempercepat langkahnya ke lantai dua.
"Tuan! "seru Layla.
Di lantai dua terlihat sangat kacau. Diman sosok Rengganis yang berteriak jika wanita bercadar yang di depannya itu memanglah Kanaya.
Sementara wanita bercadar itu sendiri tampak mati-matian mempertahankan cadarnya agar tidak dibuka oleh Rengganis.
"Stop! Apa yang kalian lakukan pada bos kami, "seru Layla lalu dia menarik tangan wanita bercadar itu dan menempatkannya di belakang tubuh Layla.
"Berhenti menutupinya Layla, tuan ini suaminya. Dan biarkan ia bertemu bertemu dengan Bu Naya, istrinya, "ujar Rengganis.
Layla tentu saja terkejut mendengar penjelasan dari Rengganis. Kanaya memiliki suami? Antara yakin atau tidak, pasalnya yang Layla tahu dan rekannya jika Kanaya sendiri dan tidak bersuami.
"Jangam bicara sembarangan! Bos Saya, tidak pernah memiliki suami,"sungut Layla.
Jacob sendiri yang tidak tahan lagi mendengar perdebatan antara Layla dan Rengganis, saat ia melihat kesempatan dimana sosok bercadar yang katanya adalah istri cantiknya itu tidak dalam lindungan Layla lagi. Dengan segera Jacob menarik tangan wanita itu ke arahnya.
"Akhhh! "
"Ibu! "seru Layla dengan bola mata membesar.
Dia terkejut saat mendengar pekikan dan melihat Kanaya yang sudah berada dalam cekalan dan dikuasai Jacob serta Riko dan Rengganis yang melindungi Jacob agar Layla tidak bisa merebut bosnya itu lagi itu.
__ADS_1
***
TBC