
"Mas, kita di sini dulu saja ya, sampai luka kamu beneran sembuh,"ujar Kanaya.
Gelengan cepat Jacob berikan pada tawaran istri cantiknya itu. Pria itu kekeuh meminta pulang hari ini juga dengan alasan klasik, tidak betah.
Apa mau dikata, Kanaya saja tidak bisa mengganggu gugat kemauan pria itu apalagi dokter di depannya itu. Dan pada akhirnya Jacob diperbolehkan pulang dengan catatan akan selalu dalam pantauan dokter.
Karena hal itu juga membuat Tuan Garadha meminta seorang dokter rumah sakit untuk mendatangi mansion milik Jacob untuk memantau kesembuhan pria itu. Tidak lucu bukan? Jika seorang pemilik Garadha Group harus antri di rumah sakit.
Jacob akhirnya hari ini bisa pulang dengan sederet nasihat dokter agar kesembuhan pria itu cepat, walaupun tidak di rumah sakit.
"Mas, kemarin asisten kamu mengakatakan jika Alexsa sudah mendapatkan hukumannya,"ujar Kanaya.
"Jangan bahas dia, Aku lagi nggak mau dengar tentang siapapun,"sanggah Jacob.
Pria itu merasa setiap ada nama orang lain disebut Kanaya membuat moodnya rusak dan rasa mual yang tiba-tiba menyerangnya.
Kanaya terdiam, wanita itu menurut dan mengalihkan pembicaraan yang lainnya agar Jacob tak lagi kesal. Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di mansion Bavers.
Nyonya Seline, Aneth, serta Nenek Risma telah ada disana menunggu kedatangan Jacob yang mendadak pulang dari rumah sakit itu.
"Kamu sudah sembuh Jac? Kok sudah bisa pulang?"tanya Nyonya Seline sebagai sambutan pertama saat putranya menginjakkan kaki di mansion itu.
"Belum Ma, Mas Jacobnya saja yang ngeyel minta pulang,"ujar Kanaya menjawab pertanyaan sang mertua.
"Ck, sudah tua kok kelakuan kayak bocah si Kak,"sindir Aneth yang mendapat cebikan dari Jacob.
"Seharusnya, kamu jangan pulang dulu. Biar sembuh total,"saut Nenek Risma yang mendapat anggukan setuju dari semua yang disana kecuali Jacob tentunya.
"Saya sudah meminta dokter untuk datang kesini rutin, agar kesembuhan Jacob bisa tetap berjalan dengan baik,"saut Tuan Garadha yang melangkah masuk dari arah pintu mansion tersebut.
Awalnya pernyataan Tuan Garadha mendapat perdebatan dari Nyonya Seline. Wanita parubaya itu kesal karena suaminya mengambil keputusan tanpa mendiskusikan hal itu dengannya. Juga, menurut Nyonya Seline jika sebaiknya Jacob tetap di rumah sakit sampai putra pertamanya itu benar-benar dinyatakan sembuh.
Ditengah perdebatan antara Nyonya Seline dan Tuan Garadha. Kanaya yang hanya menjadi penonton terkesiap mendapat tarikan halus dari Jacob.
"Ke kamar saja yuk!"
Jacob menarik pelan tangan Kanaya menyelinap diantara keributan kedua orang tua pria itu dan membawanya menuju kamar utama yang mereka tempati.
__ADS_1
"Aku kangen, peluk boleh?"celetuk Jacob saat Kanaya selesai mengunci pintu kamar mereka.
Senyuman manis terpancar pada dua sudut bibir Kanaya. Wanita itu mulai melepas cadar yang menutupi wajah ayunya dan melangkah mendekat.
Dipeluknya tubuh Jacob yang mendadak manja itu. Lalu menuntun pria itu agar istirahat di atas empuknya kasur.
"Cepat sembuh ya Mas,"gumam Kanaya saat melihat kedua kelopak mata pria dalam pelukannya telah tidur begitu nyenyaknya.
***
Satu Minggu kemudian, luka yang dialami Jacob telah sembuh. Dokter yang menangani pria itu pun sudah tidak rutin mendatangi mansion setiap hari.
Kini pria itu tengah berdiri di depan Kanaya yang sedang memasangkan dasi pada leherny. Sementara tangan kekar Jacob melingkar pada pinggang kecil Kanaya.
"Aku pasti akan merindukanmu,"ujar pria itu menatap lamat wajah cantik Kanaya.
Kanaya terkekeh, dia pun berkata. "Nanti malam kan Mas pulang, jangan lebay deh."
"Tapi Aku beneran bakal kangen, meski cuma satu jam tidak melihatmu... Bagaimana kalau nanti siang ke kantorku saja? Kita makan siang bersama,"celetuk pria itu.
Kanaya terdiam, dia menimang usulan dari suami tampannya itu. Sepertinya itu permintaan yang cukup baik untuknya diterima. Lagipula Kanaya juga belum pernah mendatangi kantor dimana Jacob setiap harinya bekerja.
Jacob tersenyum lebar. Tangan pria itu meraih cadar yang berada di atas meja rias tepat disamping pria itu yang tengah berdiri itu. Lalu dengan gerakan lembut, dia memasangkan cadar itu menutupi wajah ayu Kanaya.
Setelahnya pasangan pengantin itu berjalan beriringan keluar kamar. Di ruang tengah telah berdiri sosok Riko yang setia menunggu Jacob.
"Selamat pagi Tuan Muda Pertama, selamat pagi Nona Kanaya,"sapa Riko.
"Hem."
"Selamat pagi asisten Riko."
Jacob berbalik menatap wajah Kanaya lalu mencium kening wanitanya lamat lalu barulah pria itu melangkah memasuki mobil yang telah tebuka pintunya oleh Riko.
Waktu tak terasa berlalu begitu cepat, Kanaya yang memiliki janji untuk mendatangi kantor suaminya pun tengah bersiap-siap.
Dengan setelan gamis lebar berwarna abu-abu dengan cadar berwarna senada, Kanaya melangkah menuruni anak tangga.
__ADS_1
Netra abu-abu indahnya berkeliling mencari sosok penghuni baru mansion yang beberapa hari lalu Jacob tugaskan sebagai pengawal pribadi Kanaya.
"Dinda..."
"Iya Nona! Maaf, tadi Saya harus ke belakang lebih dulu Nona, mari..."
Dengan penjagaan dari Dinda, Kanaya melakukan perjalanan menuju Garadha Group dengan selamat.
Tidak ada drama resepsionis yang jutek atau karyawan yang merendahkan Kanaya layaknya cerita-cerita pada novel.
Saat langkah kaki pertama Kanaya menginjak gedung menjulang tinggi, wanita cantik itu sudah mendapat sambutan dari sekretaris Jacob dan dua karyawan lainnya.
"Saya Tasya, sekretaris Tuan Muda Pertama. Mari Saya antarkan Anda menuju ruangan suami Anda Nona,"ujar Tasya.
Kanaya tentu saja terkejut mendapat sambutan hangat dari karyawan Jacob itu. Tapi, selanjutnya senyuman kecil tersirat dibalik cadarnya.
"Ini pasti ulah dia (Jacob),"gumam Kanaya.
Kanaya yang merasa segan karena beberapa karyawan yang dilewatinya terus menyapanya dengan hormat membuat Kanaya sesekali refleks menundukkan badannya.
"Nona, Anda tidak perlu seperti itu,"seru Dibda dengan muka datarnya.
Kanaya mengernyit karena larangan dari pengawalnya itu. Tapi segera dia enyahkan ekspresi itu karena sapaan karyawan.
"Selamat datang Nona,"sapa seorang karyawan.
"Iya, kalian kembalilah bekerja,"ujar Kanaya ramah.
"Jangan terlalu dekat!"
Kembali lagi Dinda berseru dengan larangannya pada karyawan yang hendak mendekati Kanaya.
"Mereka hanya ingin menyapa Saya, Dinda,"celetuk Kanaya kesal.
Bukannya merasa bersalah karena perbuatannya. Dinda justru mengulurkan tangannya memberi arah agar Kanaya kembali melanjutkan langkahnya.
"Astaghfirullah, dia sangat serius dan sulit di ajak bercanda,"gumam Kanaya dalam langkah cepatnya mengikuti Tasya.
__ADS_1
***
TBC