
"Loh Mas, kita mau kemana? Kok jalannya beda? Apa kediaman Garadha sudah pindah ya?"tanya Kanaya.
Jacob tersenyum kecil, diciumnya punggung tangan Kanaya yang pria itu genggam dengan penuh kasih sayang.Ternyata, walaupun satu tahun lamanya telah pergi dari kediaman Garadha, nyatanya wanita cantik di sampingnya itu, masih ingat arah jalan menuju kediaman Garadha.
"Tidak, kediaman Garadha masih tetap di tempat semula. Kamu diam saja ya, nanti setelah sampai sana. Kamu akan tahu,"ujar pria itu.
Kanaya mengangguk dengan patuh, kini di dalam mobil itu memang tinggal Jacob dan Kanaya saja. Sebelumnya mereka telah mengantarkan Nenek Risma ke villa Cendana, dan Riko yang sudah mendapat perintah untuk pulang oleh Jacob.
Mobil yang dikemudikan oleh Jacob itu berbelok pada area dimana tanaman rindang berjajar pada sisi kanan dan kiri jalannya. Lalu ketika sampai di ujung, terlihat sebuah gerbang tinggi menjulang.
Kanaya terkesiap, saat Jacob menghentikan laju mobilnya dan menekan klakson.
Seorang penjaga gegas membukakan pintu gerbang yang menjulang tinggi itu. Lalu roda mobil kembali berputar memasuki area nan luas tersebut.
"Mas, ini rumah siapa? Besar sekali,"puji Kanaya.
Jacob masih setia dengan senyumannya, sampai pria itu menghentikan laju mobilnya di depan mansion tersebut. Jacob keluar lebih dulu dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Kanaya.
"Silahkan Ratuku,"ujar Jacob sukses membuat Kanaya tersipu malu.
Kanaya meraih tangan pria itu lalu keduanya berjalan memasuki pintu nan tinggi tersebut. Beberapa pelayan telah berjajar menyambut pemilik bangunan megah tersebut.
"Mas, kamu belum jawab loh. Ini sebenarnya rumah siapa,"bisik Kanaya.
Jacob yang gemas akan rasa penasaran sang istri cantikny itu pun menggiring tubuh kecil Kanaya menuju ruang utama.
"Kamu lihat itu foto siapa?"ujar Jacob.
Kanaya memalingkan wajahnya dan menatap dinding yang Jacob tunjuk itu. Disana terpampang jelas foto pernikahannya dengan Jacob yang pertama.
"M-maksudnya, ini?"
Jacob menganggukkan kepalanya, memberi jawaban pada kalimat gagap Kanaya itu. Lalu Jacob mulai menceritakan jika mansion tersebut yang telah ia rancang sendiri.
Dan pembuatannya yang memakan waktu hampir satu tahun lamanya. Pembuatan mansion tersebut dilakukan saat Jacob berada di Amerika. Dan proyek mansion ini jugalah yang menjadi sebab pembatalan Riko menemani Jacob dalam pengobatannya. Karena Riko yang menangani pembuatan mansion tersebut.
__ADS_1
"I-ini sangat besar Mas, bahkan lebih besar dari kediaman Garadha,"ucap Kanaya.
"Ya, kelak. Mansion ini akan menjadi istana keluarga kecil kita, Nyonya Kanaya Garadha,"balas Jacob.
Manis sekali mulut pria berstatus suami dari Kanaya ini. Apa dalam pengobatannya di Amerika, Jacob mendapat terapi mulut agar berkata manis?
"Kamu mau lihat-lihat dulu, atau mau ke kamar utamanya?"
"Emang ada kamar utamanya, Mas?"tanya kanaya antusias.
"Ada dong, kalau di kediaman Garadha, kamar utama milik Papa dan Mama. Disini kamar utama milik kita,"ucap Jacob dengan senyuman tampannya.
Rasa penasaran itu begitu menggebu dalam dada Kanaya.Wanita itu langsung saja menerim tawaran Jacob untuk melihat kamar utama yang akan keduanya tempati.
Dengan menggunakan lift yang ada di mansion tersebut. Kaki Kanaya terayun beriringan dengan langkah panjang Jacob pada lorong dimana deretan pintu berada. Sampai di sebuah pintu yang berada di tengah-tengah itu, barulah keduanya berhenti.
Ceklek.
Jacob membukakan pintu kamar tersebut lalu mempersilhkan Kanaya masuk lebih dulu.
Jacob membiarkan istri cantiknya itu berkeliling melihat interior apa saja yang ada di dalam kamar itu sampai puas.
Barulah saat Kanaya merasa lelah dengn mendudukkan dirinya pada sofa yang ada di dalam kamar tersebut, pria itu berjalan mendekat. Tidak lupa sebelum itu Jacob mengunci pintu kamar.
"Sudah puas, lihat kamarnya?"tanya pria itu seraya mengelus pipi lembut kanaya.
Tadi, saat ditengah keantusiasan Kanaya melihat kamar mereka. Wanita itu melepaskan cadarnya dan meletakkan pada pinggiran sofa.
"Iya Mas, sudah."
"Belum, kamu belum puas, Nay,"ucap Jacob membuat Kanaya keheranan.
Dia sudah melihat setiap sudut kamar tersebut. Lalu apa lagi, yang membuatnya belum puas.
"Aku akan membuatmu benar-benar merasa puas,"ujar Jacob yang langsung mendapat sautan pekikan Kanaya karena tiba-tiba saja pria itu menggendong Kanaya dan membawanya ke atas kasur besar mereka.
__ADS_1
"Selamat menikmati, Nayaku,"ujar Jacob seraya melepaskan kancing kemejanya.
Kanaya memalingkan wajahnya, kedua pipiny bersemu merah saat melihat kelakuan pria di depannya itu.
"Jangan lupa baca doa Mas,"cicit Kanaya.
"Sesuai permintaanmu,"balas Jacob.
Dan jadilah, di siang hari nan terik itu, pergulatan panas antara dua insan yang dimabuk kasmaran dan rasa rindu yang menggebu.
***
Beberapa hari kemudian, tampak di dapur mansion Garadha, nama mansion yang Jacob sematkan untuk mansionnya itu. Terlihat beberapa pelayan yang tengah terlibat percakapan tentang majikan mereka.
"Tuan Muda Pertama sama Nona Kanaya baik-baik saja kan?"tanya seorang pelayan.
"Kenapa emangnya?"saut pelayan lainnya dengan suara pelan.
Hal tabu, di mansion tersebut bagi para pekerja untuk menbicarakan perihal majikan mereka.
"Sudah beberapa hari ini, Saya tidak pernah melihat merek keluar kamar,"ujar pelayan pertama.
"Ih kamu kayak nggak tahu saja. Katanya kan, Tuan Muda Pertama sama istrinya berpisah satu tahun lebih.Ya sekarang pasti sedang melepas rindu lah,"balas pelayan lainnya.
"Wah, apa nggak bahaya ya."
Rumpian para pelayan itu semakin seru, bahkan pelayan lainnya turut bergabung. Sampai seorang bernama Mina, sosok wanita yang mendapat kepercayaan sebagai kepala pelayan memergoki mereka.
"Apa yang kalian lakukan! Kembali kerja...kerja,"hardik Mina dengan tangan berkacak pinggang.
Para pelayan itu seketika lari tunggang langgang dan gegas kembali pada pekerjaan mereka.
"Kerja, jangan ngerumpi,"lanjut Mina lagi.
***
__ADS_1
TBC