ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
Bab 89


__ADS_3

"Kamu harus kuat Nay, karena hanya kamu yang menjadi penguat untuk Jacob,"ujar Nenek Risma.


Kanaya tidak menjawab kalimat Nenek Risma yang tengah ia jadikan sandarannya itu, suaranya sudah habis karena tangisan yang sedari tadi keluar. Kanaya hanya mampu menganggukkan kepalanya lemah.


Di ujung kursi yang lain, terlihat Nyonya Seline juga tengah hancur pasal kondisi Jacob yang tengah menjalankan operasi di dalam ruangan di depannya. Disisi wanita itu tampak sosok Tuan Garadha yang tengah mengelus bahu Nyonya Seline untuk menguatkannya.


Sementara Riko dan Aneth, keduanya berdiri dengan pikiran kacau mereka.


Keluarga Garadha dan Nenek Risma baru saja datang, saat Riko mengabarkan tentang peristiwa mengerikan yang menimpah Jacob, sontak saja membuat semua orang gegas bertolak ke rumah sakit.


Ceklek.


Pintu itu terbuka, memperlihatkan seorang dokter dengan pakaian operasinya seraya melepas masker padanya.


"Bagaimana keadaan suami Saya Dok?"tanya Kanaya.


"Bagaimana kondisi putra Saya, Dok?"tanya Nyonya Seline.


Semuanya mendekati dokter itu menanti kabar yang akan dokter itu sampaikan kepada semuanya.


"Operasi berjalan dengan lancar, pisau pada tubuh Tuan Jacob telah kami angkat. Beruntung pisau tidak mengenai organ dalam. Hanya pada pembulu darah yang mengakibatkan darah keluar secara terus menerus, beruntungnya lagi golongan darah Tuan Jacob tersedia di rumah sakit ini,"ujar dokter tersebut membuat semua orang disana bisa bernafas lega.


Takdir baik masih berpihak pada Jacob. Organ vita Jacob baik-baik saja.


Kanaya menghapus sisa air matanya, dia yang tadi lemah karena fikiran buruk menghantuinya mendadak semangat hidup itu kembali hadir saat mendengar keterangan yang disampaikan oleh dokter tersebut.


"Dok, apa Saya bisa menemui suami Saya?"tanya wanita itu penuh harap.


"Sebentar, pasien akan kami pindahkan ke ruang pemulihan. Baru setelah itu pasien bisa ditemui. Tapi hanya keluarga inti saja,"ujar dokter itu.


"Pa, Mama juga ingin menemui Jacob,"ujar Nyonya Selina pada sang suami.


"Iya, setelah Kanaya. Nanti kamu menemui Jacob,"balas Tuan Garadha.


Brangkar dorong dimana Jacob berbaring dengan posisi tengkurap itu didorong oleh beberapa staf rumah sakit keluar dari ruang operasi.


Di belakang para staf itu Kanaya dan yang lainnya berjalan mengikuti kemana mereka membawa tubuh Jacob tersebut.


"Tuan Asisten, apa kamu tidak ingin menghibur Saya? Semuanya punya sandaran, sedangkan Saya tidak,"celetuk Aneth pada sosok Riko yang berjalan disampingnya itu.

__ADS_1


Posisi keduanya berada dipaling belakang setelah yang lainya persis di belakang brangkar itu.


Riko menatap sekilas sosok gadis manja kesayangan Keluarga Garadha itu. pancaran kedua mata Aneth tampak banyak kesedihan di dalam sana. Riko pikir, Aneth tidak sesedih yang lainnya, pasalnya sedari tiba di rumah sakit. Riko sama sekali tidak melihat Aneth menangis sama sekali.


Gadis itu hanya diam, berbeda dengan Nyonya Seline yang langsung terisak ketika sampai di rumah sakit.


Grep.


"Menangislah,"ucap Riko usai menghentikan langkah kakinya dan menarik tubuh Aneth dalam pelukannya.


Benar setelah pria itu memeluknya, Punggung Aneth gemetar dan suara isak tangis mulai terdengar. Gadis itu menangis setelah sedari tadi menahan dirinya.


***


"Assalamu'alaikum Mas, kapan Mas mau buka mata? Katanya Dokter seharusnya hari ini Mas sadar, kan disuruh nunggu empat puluh delapan jam,"ujar Kanaya sembari mengecup punggung tangan Jacob yang terbebas dari jarum infus itu.


"Aku setiap hari datang kesini loh, apa Kamu nggak mau lihat wajah istrimu ini lagi."


Kanaya menatap sendu sosok pria yang masih belum sadarkan pascaoperasi itu. Kata dokter Jacob akan mengalami masa kritis sekitar dua harian, dan hari ini adalah hari kedua pria itu masih memejamkan matanya.


Perasaan takut tentu saja ada di hati wanita itu. Walupun organ dalam Jacob baik-baik saja, tapi jika dalam empat puluh delapan jam tidak bisa dilewati Jacob, kemungkinan lainnya akan terjadi.


Ceklek.


"Aneth? Kenapa masuk? Kita harus gantian,"seru Kanaya pada sang adik iparnya.


Aneth sendiri memilih acuh akan seruan Kanaya dan kembali melangkah mendekati brangkar dimana Jacob masih berbaring lemah itu.


"Kak! Bangun sekarang, jangan tidur terus, nanti kakak ipar diambil pria lain baru nyesel deh,"ujar Aneth dengan tangan berkacak pinggang.


Kanaya menatap tajam adik iparnya itu. Jelas dia sendiri tidak suka dengan kalimat yang Aneth katakan apalagi Jacob.


Katany sosok yang tak sadarkan diri itu sebenarnya bisa mendengar suara orang disekitarnya.


"Aneth, kamu bicara apa,"tegur Kanaya.


Aneth tersenyum pada kakak iparnya itu. Tapi bukan berarti gadis itu akan menghentikan kalimatnya.


"Sampai kakak nggak mau bangun hari ini, Aku pastikan akan mencarikan pria lain untuk kakak ipar. Karena terlalu sayang jika wanita secantik kakak ipar harus menunggu pria lemah sepeti kakak."

__ADS_1


"Aneth,"panggil Kanaya lagi.


Kanaya berjalan pada sisi brangkar lainnya dimana saat ini Aneth tengah berdiri sembari melontarkan kalimat tidak masuk akalnya itu.


Wanita cantik itu menarik tangan Aneth hendak mengusirnya dari ruangan tersebut.


"Kak Jacob. Coba bayangkan kakak ipar bersanding dengan pria lain lalu memiliki anak pria lain dan dimiliki pria lain. Kakak mau melihat itu? Jika tidak, bangun kak! Bangun sekarang juga,"teriak Aneth.


"ANETH! Keluar sekarang!"teriak Kanaya sembari menarik tubuh Aneth semakin menjauh.


Dia tidak bisa membiarkan adik iparnya itu berkata-kata hal yang tidak mungkin lagi. Dengan tarikan kerasnya, Kanaya membawa tubuh Aneth menuju pintu keluar.


Tit...tit...tit.


Suara monitor detak jantung terdengar keras. Kanaya yang telah mendorong sebagian tubuh Anet pun terkejut. Dia dan Aneth saling berpandangan.


"Kakak ipar, Kak Jacob."


"Panggil dokter sekarang Aneth!"


Kanaya berlari masuk dengan perasaan tak karuan. Dia takut karena suara monitor itu terdengar sangat keras. Berulang kali Kanaya merutuki Aneth yang telah berkata hal-hal kasar dan tak mungkin pada sosok Jacob yang masih tak sadarkan diri itu.


Sementara itu, Aneth berlari untuk memanggil dokte. Tadinya ada seorang perawat yang menjaga di depan ruang rawat Jacob. Tetapi karena tipu daya Anet berhasil mengelabuinya dan membuat perawat itu meninggalkan pintu tersebut.


Padahal mereka bisa menekan tombol untuk memanggil dokter. Tapi, apa dikata jika keduanya sudah sama-sama panik. Sehingga lupa segalanya.


Tak lama dokter dengan seorang perawat berlari ke ruang dimana Jacob berada.


"Nona, Anda harus keluar dulu, biar kami memeriksa kondisi suami Anda,"ujar perawat meminta Kanaya keluar.


Kanaya menggigit kuku jari telunjuknya. Dia tidak tahu apa yang tengah dokter dan perawat itu lakukan pada suaminya.


"Maafkan Aku kakak ipar,"lirih Aneth.


Kanaya hanya melirik sebentar pada sosok Aneth, lalu kembali menatap pintu yang masih terutup rapat itu.


Kanaya tahu tujuan Aneth hanya ingin Jacob membuka matanya secepat mungkin. Tapi reaksi Jacob yang seperti tadi tentu saja dia takut. Kanaya tidak marah pada adik iparnya, hanya saja saat ini dia tidak bisa memikirkan hal lainnya selain harapan tentang kondisi Jacob.


"Semoga semuanya baik-baik saja."

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2