
"Selamat ya Melisa. Rancangan baju kamu keren-keren banget deh, "puji Aneth pada rekannya itu saat setelah melepas pelukannya.
"Makasih banyak Neth, sudah jauh-jauh dari Jakarta buat lihat acara Aku ini, "ujar Melisa.
Aneth hanya terkekeh mendengar ucapan sahabatnya itu. Keduanya terlihat perbincangan seputar rancangan milik Melisa yang baru saja di tampilkan oleh model-model nasional.
Bahkan sangakin asiknya Aneth sampai melupakan sosok Jacob yang berdiri disisinya. Sampai ketika Melisa yang baru menyadari sosok tampan tersebut mengalihkan pembicaraan mereka.
"Eh ini? "ucap Melisa dengan sorot mata memujanya pada Jacob.
Aneth menoleh kesamping dimana Jacob yang hanya diam bak patung tanpa peduli tatapan para wanita yang terpanah akan pesona pria itu.
"Ck, dia kakakku Mel. Kenalin namanya Jacob, "ucap Aneth.
Melisa yang tahu jika pria itu kakaknya Aneth terlihat menyelipkan rambutnya ke belakang daun telinganya. Lalu dengan wajah meronanya Melisa mengulurkan tangannya kepada Jacob.
"Melisa,"ucapnya mengenalkan dirinya.
Lama tangan Melisa di udara itu tanpa adanya tanda jika Jacob akan menyambut uluran tangannya.
"Jacob, "balas Jacob tanpa menyambut uluran tangan Melisa.
Aneth memutar bola matanya jengah. Sepertinya harapan Aneth untuk menemukan kakak iparnya semakin besar, pasalnya Jacob sekarang lebih mirip patung berhati es batu, yang hanya akan mencair jika bertemu pawangnya saja.
"Sudah Mel, dia tidak akan membalas uluran tangan kamu. Dia hanya mau memegang tangan istrinya saja, "ucap Aneth menarik tangan Melis.
Mendengar pria tampan di depannya itu telah beristri tentu saja membuat Melisa terkejut sekaligus kecewa.
"I-istri? "
"He'em, tapi istri kak Jacob lagi healing. Sudah ah Mel, Aku buru-buru ini, "ucap Aneth yang memilih menyudahi pembicaraan nya tentang Kanaya karena tatapan tajam Jacob padanya.
"Loh sudah mau pergi saja, Neth? "tanya Melisa.
"Iya, sekali lagi selamat ya atas suksesnya acara ini. Aku sama kakak pamit dulu, bye Melisa, "ucap Aneth seraya melambaikan tangannya pada Melisa.
Lalu ia beralih pada Jacob dan menggandeng tangan pria itu sembari melangkahkan kakinya keluar.
Keduanya memasuki mobil yang sama dengan Jacob duduk di balik kemudi. Sesudah mobil itu melaju meninggalkan tempat, Aneth memiringkan tubuhnya dan menatap Jacob dengan bibir manyunnya.
"Kak, kalau sama orang apalagi teman Aneth jangan kayak tadi dong,"rajuk Aneth.
"Kenapa? Apa ada yang salah? "tanya pria itu dengan santai.
"Iih, ya nggak enak gitu Kak. Pokoknya jangan kaku-kaku kayak tadi, "pinta Aneth penuh penekanan.
__ADS_1
Jacob menepikan mobilnya lalu menghentikan laju mobil tersebut dan berkata.
"Mau bahas hal tidak berguna itu lebih baik turun Neth, atau kita lanjutkan perjalanan dengan bibir kamu yang diam, "ancam Jacob.
Mendapat ancaman dari Jacob membuat Aneth mau tidak mau harus menurut agar mobil itu kembali melaju. Kakak pertamanya itu memang paling menyebalkan berbeda dengan Mark yang selalu asik.
Mengingat soal Mark, membuat Aneth rindu pria itu. Sedikit lebihnya dia tahu akan masalah yang terjadi antara kedua kakaknya, yang itu lagi membuat Aneth semakin penasaran akan kecantikan Kanaya yang sampai membuat Mark menggila.
"Aku diam deh, tapi ke mall dulu sebelum ke hotel, "tawar Aneth.
"Oke, "jawab Jacob seraya menghidupkan kembali mobilnya.
Sementara itu Kanaya dan Layla yang baru saja pulang dari suplier dengan membawa barang dari suplier toko mereka tampak baru saja sampai ke mall. Ditengah gembar-gembor pencarian dirinya, Kanaya bisa tetap beraktivitas keluar rumah berkat cadar yang menutupi wajahnya itu.
Ya, Kanaya melakukan itu karena ingin membeli sesuatu yang kebetulan tengah ada promo diskon besar-besaran.
"Pak Aji tunggu disini dulu nggak papa kan? Soalnya Saya pasti lama, "ucap Kanaya.
Wanita cantik itu sengaja meminta Pak Aji untuk menunggunya di sebuah stand makanan yang ada di lantai bawah mall tersebut.
"Iya Bu, disini saya malah senang bisa makan sama ngopi. Kalau ikut Bu Naya malah lelah kelilingnya, "saut Pak Aji yang mendapat kekehan kecil dari Kanaya dan Layla.
Kanaya memberi beberapa lembar uang untuk Pak Aji, agar pria parubaya itu bisa memesan makanan dan minumannya sendiri. Kemudian dia dan Layla berjalan masuk ke dalam mall.
"Hampir saja nggak dapet barangnya. Ternyata banyak banget yang berburu diskon ya Bu, "ucap Layla sembari membasuh keringat pada keningnya.
"Iya Lay, alhamdulillah kita masih bisa dapat barangnya,"balas Layla.
Wanita bercadar itu berhenti untuk memastikan barang-barang yang ingin dibelinya itu lengkap. Setelah merasa semuanya sudah dia penuhi, Kanaya mengajak Layla untuk ke sebuah stand junkfood yang ada di mall tersebut.
Tetapi yang membuat Layla terheran adalah saat beberapa langkah, tiba-tiba kaki Kanaya berhenti lalu membalik tubuhnya seperti tengah menghindari sesuatu.
"Bu Naya? Ada apa? "tanya Layla yang langsung mendapat sikutan dari Kanaya agar Layla berhenti bicara.
Layla tentu saja bingung akan sikap majikannya itu. Sampai beberapa menit kemudian Kanaya yang kembali membalik badannya pada posisi semula dan berjalan tergesa-gesa.
"Kita makan bakso di penjual kaki lima saja, Lay, "ucap Kanaya tanpa peduli akan keheranan sikap Kanaya tersebut.
Tetapi sebagai bawahan yang hanya bisa menurut Layla pun mengikuti langkah kaki Kanaya yang tergesah-gesah.
"Aduh Bu, jangan cepat -cepat dong Bu. Perut Saya sampai sakit ini, "ucap Layla sembari memegang perutnya.
Perasaan bersalah itu timbul pada Kanaya, dia yang tadi melihat Jacob disana sampai tidak peduli akan sosok Layla.
"Maafkan Saya ya Lay, "ucap Kanaya menyesal.
__ADS_1
"Tidak apa Bu, cuma bisa kan kita jalannya pelan-pelan kayak biasanya, "pinta Layla yang mendapat anggukan dari Kanaya.
Keduanya kembali berjalan beriringan dengan langkaj kaki yang lebih santai. Kanaya terus menaikan cadarnya yang sudah padahal sudah pasti membuat siapapun sulit mengenalinya.
Sesampainya di lantai bawah, Kanaya langsung mengajak Pak Aji untuk meninggalkan mall tersebut. Beruntungnya Pak Aji telah menyelesaikan makannya sehingga membuat Kanaya tidak perlu membungkus atau melakukan sesuatu yang akan kembali membuatnya merasa bersalah.
"Sudah semua Bu, belanjanya? "tanya Pak Aji.
"Sudah Pak, O iya Pak nanti kita berhenti di penjual bakso ya. Saya dan Layla belum makan soalnya, "pinta Kanaya.
"Loh Bu Naya sama Layla belum makan? "tanya Pak Aji yang mendapat gelengan Kanaya dan Layla bersamaan.
Tidak ingin membuat Kanaya dan Layla kelaparan. Pak Aji gegas berdiri dari duduknya lalu berjalan ke arah parkiran mobil. Sementara Kanaya dan Layla memilih untuk menunggu di lobi mall tersebut.
Saat Kanaya dan Layla yang tengah menunggu Pak Aji. Kanaya kembali bertingkah aneh saat tiba-tiba Jacob kembali ada di penglihatannya.
"Dia kenapa ada disini sih? "batin Kanaya.
"La, kita susul Pak Aji saja yuk, "ajak Kanaya seraya melangkahkan kakinya cepat agar bisa menghindari sosok Jacob itu.
"Nay!"
Kaki Kanaya terhenti saat namanya dipanggil oleh Jacob. Dengan jantung bertalu begitu cepat, serta tubuh panas dingin. Tubuh Kanaya membeku.
"Apa dia mengenaliku? Tapi Aku sekarang memakai cadar. Semoga saja tidak, "batin Kanaya.
Dengan menundukkan kepalanya serta tangan yang meremas gamis panjang itu. Kanaya terus bergumam-gumam kecil.
Tetapi alangkah terkejutnya dia, saat Jacob yang melewati dirinya begitu saja dan mendekati sosok gadis cantik.
"Kamu dari mana saja? Aku cariin kamu? "ucap Jacob pada gadis itu.
Hati Kanaya serasa diremas hingga begitu sakitnya melihat pria itu yang tengah membelai rambut gadis cantik itu lalu membukakan pintu mobil untuknya.
"Ingat Kanaya, bukankah dia memang tidak pernah mencintaimu, "ucap Kanaya pada dirinya sendiri.
Meskipun hatinya berkata seperti itu, tetapi ekor mata wanita cantik itu terus mencuri pandang pada mobil yang melaju meninggalkan mall tersebut.
"Bu Naya, sepertinya kita tidak perlu mendatangi Pak Aji, itu orangnya sudah disini,"ucap Layla yang berhasil menyadarkan Kanaya.
"I-iya La. Ayo kita pulang,"ajak Kanaya.
***
TBC
__ADS_1