ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
BAB 72


__ADS_3

"Kenapa semuanya diam? Dimana Kanaya? "geram Jacob.


Bahkan suara amarah pria itu mampu membuat tangan seorang pelayan gemetar saat meletakkan air minum di atas meja.


Pria yang sedari tadi menahan dirinya itu mulai geram oleh bungkamnya semua orang. Dia sungguh sangat merindukan istrinya dan membayangkan akan melepas rindu sepuasnya pada Kanaya.


Namun apa ini yang dia dapatkan? Sedari tadi ia keluar bandara hingga di kediaman Garadha pertanyaannya itu tidak satu pun yang bisa menjawabnya.


"Jac, tenang dulu ya Sayang, "ucap Nyonya Seline menarik tangan Jacob yang langsung mendapat tepisan putranya itu.


"Tenang? Bagaimana Aku bisa tenang, Ma, disaat kalian saja tidak bisa menjawab pertanyaan yang sangat mudah ini, "ucap Jacob.


Aneth sendiri yang tidak tahu duduk masalah antara kakak pertama dan kedua orang tuanya hanya menjadi pendengar setia. Yang gadis tahu titik masalah ada pada keberadaan kakak iparnya (Kanaya).


Bibir Nyonya Seline terkatup rapat, dia menatap suaminya yang duduk disampingnya itu. Nyonya Seline berharap Tuan Garadha mau membantunya untuk menceritakan semuanya pada Jacob.


"Huft! Kanaya nggak ada di sini Jac, "jawab Tuan Garadha.


Jawaban pria itu sukses menarik atensi Jacob padanya.


"Dimana dia? "tanya pria itu menatap lamat Tuan Garadha.


Tuan Garadha pun mulai menceritakan semuanya kepada sang putra. Belum juga selesai Tuan Garadh menjelaskan semua kronologinya, suara pecahan gelas mengagetkan semua yang ada disana.


"Kak, tangannya, "ucap Aneth panik.


"Jacob, tangan kamu berdarah Sayang, "saut Nyonya Seline dengan wajah khawatirnya.


Gelas yang ada dalam genggaman Jacob pecah begitu saja, saat Jacob mencengkeram dengan kuat. Hingga membuat tangan pria itu berdarah dan menetes pada putihnya lantai.


"Kenapa? Kenapa tidak ada yang memberitahuku dari dulu? Satu tahun, satu tahun itu tidak sebentar, "ucap Jacob menundukkan kepalanya.


Aneth yang beranjak dari sofa hendak membantu mengobati tangan Jacob, ditepis oleh pria itu.


Perasaan kecewa dan sedih menyeruak pada pria itu. Dia kecewa pada orang tuanya yang telah menyembunyikan masalah sebesar ini selama setahun lamanya.


"Kami takut mengganggu kamu yang tengah berobat, dan tadinya kami pikir bisa menemukan Kanaya secepatnya, "ucap Nyonya Seline menatap putranya penuh rasa bersalah.


"Ck, tapi sampai sekarang tidak bisa menemukannya,"ucap Jacob dengan senyum miringnya.

__ADS_1


Usai mengatakan itu Jacob beranjak dari duduknya lalu berjalan meninggalkan mereka membuat tetesan darah mengalir selaras dengan langkah kakinya.


Pria itu berjalan menuju kamarnya lalu membawa koper yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.


"Jacob, kamu mau kemana Nak? Kenapa membawa koper,"pekik Nyonya Seline histeris.


"Kak, jangan pergi kak, "seru Aneth turut histeris.


"Jacob! Dengarkan permintaan Mama kamu, "saut Tuan Garadha.


Semua orang berusaha menghalangi langkah kaki Jacob dengan menahan tubuh maupun tangan pria itu, namun Jacob yang sudah terlanjur kecewa tidak peduli dengan tangisan dan permintaan keluarganya.


"Kanaya tidak ada disini, lalu untuk Apa Aku disini Ma, Pa."saut pria itu.


"Mama masih berusaha mencari istri kamu Nak, tolong jangan pergi lagi kamu baru saja pulang, "ucap Nyonya Seline dengan deraian air matanya.


Jacob bungkam, pria itu terus melangkahkan kakinya menuju mobil dimana Riko telah siap disampingnya.


Brak.


Suara benturan pintu dengan body mobil berdentung dengan keras. Membuat semua orang terjengit.


"Pa... Jacob Pa, kejar dia,"pinta Nyonya Seline.


"Jangan Pa, Aneth minta biarkan Kak Jacob sendiri dulu. Aneth tahu betapa kecewanya Kakak sama kalian, Aneth saja merasa kecewa sama Papa dan Mama,"ucap Aneth membuat kedua orang tuanya menatap pada gadis itu.


"Tidak seharusnya kalian menyembunyikan hal sebesar ini dari Kakak. Seharusnya Papa dan Mama tahu betul betapa berharganya kakak ipar untuk kakak, "lanjutnya.


"Aneth masuk duluan."


Gadis itu berjalan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih ada di halaman kediaman Garadha.


Tadinya Aneth ingin menahan Jacob, tapi saat ia melihat sorot mata Jacob yang sangat kecewa membuatnya memilih membiarkan kakak pertamanya itu pergi.


Sementara di mobil Riko terus mengemudi tanpa tahu tujuan mereka. Karena sedari tadi Jacob hanya diam saja.


Sampai ketika ia melihat tangan Jacob yang masih berdarah, pria itu berinisiatif membawanya ke rumah sakit tanpa meminta izin pada Jacob lebih dulu.


"Tuan tangan Anda harus di obati, lukanya cukup dalam, "ucap Riko.

__ADS_1


"Luka ini tidak ada apa-apanya, Kamu tahu bukan maksud Saya,"ucap Jacob.


Glek.


Riko menelan salivanya keras, pria itu tahu dia juga terlibat akan ketidaktahuan pria itu tentang perginya Kanaya.


"Putar arah, ke apartemen,"titah Jacob mutlak.


Riko tidak bisa membantahnya, mobil yang baru saja masuk ke pelataran rumah sakit itupun harus ia putar setir dan kembali keluar dari area tersebut.


***


Kanaya menatap dirinya pada cermin yang terpajang di tembok kamar wanita itu. Di tangannya terdapat sebuah cadar berwarna abu-abu selaras dengan gamis yang wanita itu kenakan.


"Bismillahirrahmanirrahim, "ucap Kanaya seraya memasang cadar menutup wajah cantiknya.


Setete air mata keluar dari sudut mata wanita cantik itu saat ia melihat wajah cantiknya telah tertutup oleh cadar sampai memeperlihatkan matanya saja.


Ini keputusan yang sangat tepat baginya, perasaan takut mendapat tatapan tak mengenakan dari pria yang melihat kecantikan hilang tak bersisa.


Kanaya berjalan keluar kamarnya, dia ingin memberitahu akan keputusannya pada Nenek Risma yang ada di dapur.


"Nek, "panggil Kanaya.


Nenek Risma yang tengah menata piring pun berbalik.


Sendok itu terjatuh, benda yang tadi ada dalam genggaman wanita renta itu lolos begitu saja saat netra tua Nenek Risma melihat sosok wanita bercadar yang ia yakini itu adalah cucunya (Kanaya).


"Ini beneran kamu Nay? Ya ampun kamu mau bercadar? "ucap Nenek Risma takjub.


"Iya Nek, Kanaya sadar kecantikan Kanaya tidak seharusnya Kanaya umbar. Dan Kanaya juga sadar akan fitnah yang selama ini muncul dalam hidup Kanaya karena kelebihan ini. Jadi Kanaya memutuskan untuk memakai cadar ini, "jelas Kanaya.


Nenek Risma terharu, wanita renta itu berjalan mendekati Kanaya lalu memeluk erat tubuh cucunya itu.


"Apapun keputusan kamu, Nenek selalu mendukungmu, Nay. Semoga istiqomah ya Nak, "ucap Nenek Risma haru.


"Aamiin."


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2