
"Mana-mana? Ponakan Aneth mana Kakak ipar?"tanya Aneth tak sabaran dari balik layar ponsel itu.
Gadis yang tengah berada di Amerika itu tidak pikir dua kali untuk menghubungi orang-orang yang ada di Indonesia, saat ia mendapat kabar mengenai kelahiran keponakan cantiknya. Bahkan Aneth yang tidak memikirkan perbedaan waktu itu, terus menghubungi Jacob tiada henti hingga membuat Jacob yang terlelap di atas sofa pun terjaga karenanya.
"Kau ini kebiasaan sekali, Indonesia saat ini sudah tengah malam, Aneth. Besok saja,"tolak Jacob.
"Kakak...Aneth beneran ingin lihar ponakan Aneth, ayolah...Nggak bisa kalau harus menunggu Indonesia pagi, kasih lihat saja kok,"pintanya dengan raut muka memelas.
Jacob berdecih pada raut muka memelas adik bungsunya yang selalu saja sukses membuat dirinya tak berdaya untuk menolaknya.
Apalah air mata buaya, jika buayanya betina seperti Aneth maka buaya jenis apapun baik rawa, tawar, maupun buaya air asin akan kalah dengan buaya betina Aneth.
"Ck, baiklah. Tapi Kamu jangan berbuat gaduh. Ingat, Kakak ipar Kamu sedang istirahat dan putriku juga,"peringat Jacob, yang mendapat anggukan mantap.
Jacob beranjak dari sofa itu melangkah mendekati box bayi yang berada di dekat brangkar Kanaya. Pria itu mengarahkan kamera ponselnya pada Baby Daneen yang tengah terlelap di dalam box itu.
Aneth memekik riang saat melihat betapa cantik dan menggemaskannya keponakan pertamanya itu.
"Woaaah! Cantik cantik sekali, ah Daneenku Kamu sangat menggemaskan pengin aunty karungin dan bawa ke Amrik,"pekik gadis itu.
"Berisik Aneth! Kecilkan suara nyaringmu itu,"sentak Jacob seketika membuat bibir tipis Aneth mengerucut sebal.
"Iya maaf Kak, tadi refleks karena sangking senangnya bisa lihat Baby Daneen,"ujarnya.
"Panggil Asha saja, Baby Asha,"ralat Jacob untuk panggilan yang Aneth berikan pada putrinya.
Tetapi Aneth tetaplah Aneth yang keras kepala dan tidak akan mudah menuruti perintah orang meskipun itu sang Kakak.
"Baby Daneen, cantiknya Aunty...Uuh gemes banget sih. Nanti kalau Aunty pulang Daneen mau ya di ajak lihat fashion show terus nanti Aunty buatin dress, terus jadi modelnya Aunty, terus..."
"Stop stop Aneth! Kamu mau mengajak anakku ke dunia modeling?"potong Jacob dengan tatapan tak suka.
Aneth yang tahu akan kesalahan kalimatnya pun menutup bibirnya rapat-rapat. Jacob sepertinya semakin membenci profesi modeling saja.
__ADS_1
"Asha akan seperti Mommy-nya. Sholeha yang lemah lembut dan memiliki hati mulia. Dia akan Aku didik dan Aku rawat bak mutiara yang tidak mudah terjangkau oleh mata-mata bajingan dan pikiran kotor, ingat itu Aneth,"ucap Jacob penuh ketegasan.
Decihan kecil keluar dari bibir Aneth, sangat menyebalkan Jacob ini. Ya, tapi pria manapun yang telah menjadi ayah tentu saja tidak akan rela buah hatinya salah langkah. Terlebih Jacob memiliki istri speak bidadari seperti Kanaya. Sudah pasti acuan pria itu ya Kanayanya.
"Iya iya, cuma bercanda kok. Nggak Aku jadiin model, cuma mau Aku buatin baju khusus rancangan Aku aja, sama teman healing,"ujar Aneth dengan cebikan bibirnya.
Disaat kakak beradik itu tengah mengobrol dan pembahasan mengenai masa depan Baby Daneen yang begitu lancar Jacob rangkai, suara lenguhan Kanaya menghentikan kegiatan keduanya.
"Kakak ipar Kamu bangun, Neth. Sudah dulu ya, Assalamu'alaikum,"ucap Jacob memutus panggilab video itu sepihak.
"Ck, kebiasaan banget sih Kak Jacob ini. Waalaikumsalam,"rutuk Aneth pada layar ponselnya.
Jacob mendekati brangkar dimana Kanaya telah membuka kedua matanya.Wanita cantik itu tampak hendak mendudukan tubuhnya. Dengan sigap Jacob mendekatinya dan membantu Kanaya berbaring.
"Kamu keganggu ya? Tadi Aneth melakukan panggilan video ingin melihat baby Asha,"jelas Jacob.
"Sudah panggilannya ya?"tanya Kanaya melihat ponsel sang suami yang sudah mati.
"Aku kira Kamu nggak sampai ke bangun. Jadinya Aku matiin. Lagian Anethnya nggak lihat jam sih,"ucap Jacob memberikan ekspresi kesalnya.
Pria itu memiringkan tubuhnya agar bisa melihat wajah wanita yang sudah berjasa dalam memberikan dirinya gelar seorang ayah.
Wajah Kanaya sudah tak sepucat tadi pagi, namun mengingat bagaimana wanita lemah lembut itu tersiska dan menangis saat melahirkan Baby Daneen. Kembali membuat hati Arjun bergetar.
"Mas...Kamu kenapa?"tanya Kanaya heran.
Dia menangis, pria yang terkenal akan keperkasaannya itu menangis di depan sang istri. Jacob mendorong tubuhnya agar lebih dekat dengan sang istri lalu memeluk pinggang Kanaya dan membenamkan wajahnya pada dada sang istri.
"Naya, Mas janji akan selalu mencintai Kamu dan terus meratukan dirimu,"ucapnya dalam isak tangis.
Kanaya tidak tahu maksud dari sang suami. Dia hanya mengiyakan saja lalu mengelus rambut sang suami. Hari masih terlalu dini, keduanya yang terbangun karena gangguan Aneth pun akhirnya kembali tidur.
Tak terasa Kanaya yang dibantu oleh alat-alat canggih membuat wanita itu begitu cepat pemulihannya.
__ADS_1
Kini wanita cantik itu sudah bisa pulang ke mansion. Di dalam mobil yang dikendarai oleh Riko.
Jacob dan Kanaya duduk di belakang dengan Baby Daneen yang berada dalam gendongan Jacob.
"Mas, sini gantian Naya yang gendong. Kasihan Mas pasti lelah,"tawar Kanaya.
"Tidak Naya Sayang. Menggendongmu saja kuat masak iya hanya Baby Daneen Aku lelah. Biar Mas yang gendong saja, Kamu sini bersandar di bahu Mas dan tidurlah. Biar nanti kalau sudah sampai mansion Mas bangunkan,"balas Jacob.
Kanaya tersenyum tulus dibalik cadarnya. Dia sangat bersyukur Jacob begitu perhatian kepadanya. Pria itu benar-benar melakukan saran dokter untuk selalu perhatian pada sang istri agar wanitanya terhindar dari istilah baby blues.
Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di mansion.
Nyonya Seline, Tuan Garadha, dan Nenek Risma yang berdiri menyambut kedatangan mereka berjalan mendekati mobil saat sudah berhenti.
Tok...tok...tok
Jendela kaca itu diketuk oleh Nyonya Seline. Wanita parubaya itu tidak sabar menemui cucu pertamanya.
"Man..."
"Shuuut, Naya sedang tidur Ma. Ini Baby Asha Mama yang bawa ya,"ucap Jacob memotong kalimat sang mama.
Nyonya Seline segera mengambil alih baby Daneen dari tangan sang putra lalu berjalan memasuki mansion bersama suami dan Nenek Risma.
Sementara Riko memilih berdiri di samping mobil menunggu Jacob keluar, yang nyatanya pria itu tak kunjung keluar karena menunggu istrinya bangun dengan sendirinya.
"Eungh, M-mas,"gumam Kanaya dengan kelopak mata terbuka.
"Hem, kita sudah sampai Sayang,"jelas Jacob.
Kanaya mengerjapkan kelopak mata indahnya itu. Lalu melihat sekeliling di luar mobil dan beralih pada sang suami. Dimana putrinya? Dia menatao suaminya dengan tatapan manik dalam abu-abu itu.
"Dia sudah di dalam bersama yang lainnya, ayo kita juga masuk,"ajaknya lembut.
__ADS_1
"Iya Mas."