ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
Bab 111


__ADS_3

"Mas, kamu jadikan hari ini ikut Naya ke dokter kandungan?"tanya Kanaya melalui sambungan telepon itu.


Hari ini adalah jadwal Kanaya untuk cek kandungan di rumah sakit milik keluarga Garadha. Dan sesuai pernyataan Jacob tenpo hari, jika pria itu ingin menemaninya ke rumah sakit.


"Mas dalam perjalanan, kamu sudah siap-siap, Naya Sayang?"tanya Jacob dari balik panggilan tersebut.


"Sudah Mas,"balas Kanaya.


"Kalau gitu, Kamu duduk tenang disana Mas sebentar lagi sampai mansion,"ujar Jacob.


"Iya Mas."


Panggilan itu pun berakhir. Kanaya duduk bersandar pada sofa di ruang tengah tersebut. Dengan mengelus perutnya yang mulai membuncit itu, Kanaya sesekali tersenyum senang dibuatnya.


"Kamu sehat-sehat ya Sayang,"gumam Kanaya.


Saat wanita itu tengah bercengkrama dengan bayinya yang ada di dalam perut. Dari arah pintu, Jacob melangkah menghampiri sang istri.


Satu kecupan pria itu berikan pada kening Kanaya, membuat fokus Kanaya teralihkan pada pria berstatus sebagai suaminya itu.


"Sudah siap? Mau berangkat sekarang hem?"tanyanya.


"Iya Mas,"balas Kanaya.


Jacob membantu Kanaya berdiri dari sofa tersebut, lalu melangkah bersamaan menuju mobilnya yang telah terparkir di depan mansion tersebut.


Perjalanan dari mansion menuju rumah sakit hanya membutuhkan waktu kurang lebih tiga puluh menit.


Kini keduanya telah sampai di rumah sakit berskala internasional tersebut. Mereka yang tahu siapa sosok Jacob tentu menyempatkan diri untuk sekedar menyapa pria itu dan Kanaya yang ada disisinya.


"Selamat datang Tuan Jacob dan Nona Kanaya,"sapa pimpinan rumah sakit itu.


"Iya,"balas Jacob.


Tidak perlu menunggu lama, karena memang Jacob sebelumnya sudah membuat janji dengan dokter kandungan di rumah sakit tersebut. Sehingga saat mereka datang, posisi dokter kandungan tersebut telah kosong.


"Selamat siang, Tuan Jacob, selamat siang Nona,"sapa Dokter dengan name tag Bella itu.


"Siang juga Dok,"balas Kanaya dengan senyuman di balik cadarnya.


"Baik, kita langsung untuk cek kandungan saja ya...Mari Nona, berbaring lebih dulu,"ujar Dokter Bella.


Dengan dibantu Jacob, Kanaya membaringkan tubuhnya di atas brangkar yang ada di ruangan tersebut.


Gamis itu disingkap ke atas, lalu cairan bening nan dinging yang berbentuk gel itu pun mulai dibalur pada perut buncit Kanaya.


Dug...dug...dug.


Suara detak jantung itu menggema dan terdengar hingga telinga Jacob. Pria itu terkesiap, bahkan sampai ia berdiri dari kursinya.


"Tadi itu..."

__ADS_1


"Itu suara detak jantung dedeknya Tuan, indah sekali. Dedek di dalam sana sepertinya sangat sehat,"ujar Dokter Bella.


"Mas,"panggil Kanaya, menarik tangan Jacob agar pria itu kembali berada di sisinya.


Ini adalah kali keduanya mereka merasakan perasaan haru menyambut calon bayi mereka. Besar harapan Kanaya dan Jacob agar bayi di dalam kandungan Kanaya bisa tumbuh sehat dan terlahir di dunia ini dalam kondisi selamat.


"Dok, bayi kami sudah sebesar apa?"tanya Kanaya, menatap layar monitor tersebut.


"Pertumbuhannya cukup pesat Nona, saat ini mungkin sudah sebesar buah jeruk?"ucap Dokter Bella.


"Jeruk? Itu kecil sekali...Kamu coba pastikan lagi, mana mungkin anak kami sekecil itu,"sergah Jacob tidak terima.


Lihatlah pria tampan itu masih saja seperti dulu yang selalu enggan menerima ukuran bayi mereka yang ada di dalam perut Kanaya itu.


Sepertinya kedepan nanti, Kanaya harus menghindari pertanyaan tentang ukuran bayi mereka. Karena itu bisa memantik Jacob.


"Itu sudah ukuran besar Tuan, dan termasuk keadaan bayi yang sehat. Lihat seluruh anggota tubuh dari anak Tuan dan Nona juga pertumbuhannya baik. Kita juga sudah bisa melihat jenis kelaminnya,"ucap Dokter Bella.


"Tuan dan Nona, ingin melihat jenis kelaminnya?"lanjut Dokter Bella.


Mendengar jenis kelamin bayi mereka cukup membuat Jacob terdiam. Rasa penasaran akan jenis kelamin tentu saja pria itu rasakan. Tapi, dia lebih memilih untuk menatap Kanaya dan meminta keputusan dari istri cantiknya.


"Emm, sepertinya tidak perlu Dok. Apapun jenis kelaminnya akan kami syukuri dengan sangat,"putus Kanaya. "Tidak apa kan Mas?"


Kanaya tahu jika suaminya penasaran dengan jenis kelamin bayi mereka. Tapi Kanaya tidak ingin terlalu membedakan jenis kelamin yang menjadi impian.


Perempuan atau laki-laki, kelak akan selalu menjadi anak kebanggan Kanaya.


Jika istri cantiknya sudah memutuskan maka Jacob bisa apa. Dia juga yakin Kanaya pasti memiliki alasan sendiri. Lagi pula Jacob juga tidak terlalu mempermasalahkan akan jenis kelamin bayi mereka.


"Baik jika begitu, mari duduk di kursi kembali, Nona,"ucap Dokter Bella.


"Itu fotonya bisa kan jadi dua,"pesan Jacob yang langsung disanggupi oleh Dokter Bella.


***


Setelah menjalani pemeriksaan kandungan Kanaya, dengan membawa dua foto USG sesuai permintaan Jacob. Kini mobil yang dikendarai Jacob itu melaju menuju Garadha Group.


Ya, hal itu dilakukan Jacob karena pria itu ada rapat bersama pejabat perusahaan, dan waktu yang begitu mepet membuat pria itu membawa Kanaya ke kantornya.


"Nanti di kantor, Kamu bisa memesan apapun yang dimau sama Tasya ya Naya Sayang. Maafin Mas, jadinya kamu harus ikut ke kantor,"celetuk Jacob.


"Iya Mas, nggak apa kok. Lagi pula di mansion terus juga Naya merasa bosan,"balas Kanaya.


"Kamu memang selalu bisa mengerti Mas,"ucap Jacob dengan senyuman lebarnya.


Mobil itu memasuki area perusahaan. Di depan lobi telah berdiri Riko yang menantinya. Jacob memberikan kunci mobilnya pada seorang penjaga disana untuk memarkirkan mobil tersebut.


"Tuan Muda Pertama, Nona Kanaya,"sapa Riko.


"Hem, semuanya sudah berkumpul?"tanya Jacob.

__ADS_1


"Sudah Tuan,"balas Riko.


"Kamu ke ruang meeting lebih dulu. Saya mau mengantar Naya ke ruangan,"titah Jacob.


"Baik Tuan."


Jacob berjalan lebih dulu dengan sosok Kanaya yang ia rangkul. Tangan pria itu dengan sigap bertengger pada perut buncit Kanaya. Seakan tangan itu menjadi tameng dari segala kemungkinan yang terjadi.


"Mas, kenapa harus segitunya?"protes Kanaya, yang merasa malu kala staf kantor menatap Jacob dengan senyuman.


"Naya, Mas cuma sedang jadi suami siaga. Jadi patuhlah,"ucap Jacob, tidak mau mengalah.


Baiklah, Kanaya hanya bisa pasrah membiarkan pria itu melakukan sesukanya sampai mereka tiba di ruangan Jacob dan pria itu membawanya ke sebuah kamar pribadi.


"Kamu istirahat disini saja ya, Aku sudah menyuruh Tasya membeli makanan kesukaan kamu, mungkin sebentar lagi tiba,"ucap pria itu.


"Iya Mas,"balas Kanaya.


Kanaya mulai melepaskan cadarnya, karena dia juga merasa ingin rebahan di atas kasur empuk tersebut.


"Loh Mas, kok masih disini? Katanya ada rapat?"


Kanaya kira pria itu telah pergi meninggalkan dirinya. Namun siapa sangka, sampai Kanaya menarik kakinya ke atas kasur dan hendak rebahan. Jacob masih setia berdiri dan menatap dirinya.


"Apa Mas nggak usah ikut meeting saja ya,"ucap Jacob.


"Mas, kenapa?"


"Kamu terlalu cantik Nay, Mas jadi malas ikut meeting,"ucap Jacob terus terang.


"Ya ampun Mas!"


Kanaya frustasi dengan jalan pikiran pria itu. Dia sampai membawa Kanaya ke kantor dengan alasan ada rapat mendadak. Tapi setelah melihat wajah Kanaya tanpa cadar, dengan seenaknya Jacob enggan ikut rapat.


"Mas Jacob, suamiku tersayang. Sana ikut meeting ya, Naya dan calon anak Naya ini tidak ingin punya imam yang pemalas,"ucap Kanaya, seraya mengelus perut buncitnya.


"Cium dulu boleh tidak?"


Mendengar permintaan dengan nada merengek itu, mau tidak mau membuat Kanaya menggeser posisi tubuhnya mendekati Jacob lalu melabuhkan sebuah kecupan singkat pada pipinya.


"Bibir Sayang, bibir bukan di pipi,"rengek Jacob.


"Ya Allah Mas, sudah sana berangkat. Nanti kalau di mansion saja bibirnya,"ucap Kanaya.


"Benar ya di mansion,"ucap Jacob girang.


"Iya iya Mas, sudah sana keluar deh,"usir Kanaya mendorong pelan dada Jacob.


"Oke siap."


Jacob bersiul riang melangkah keluar dari kamar Kanaya. Malam ini dia ingin membuat bibir tipis nan manis milik Kanaya bengkak, janji pria itu untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


***


__ADS_2