ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
BAB 70


__ADS_3

"Selamat datang Tuan Muda Pertama, Saya Peter yang akan menemani Anda selama di Amerika,"ucap seorang pria bertubuh jangkung dengan kaca mata tebalnya.


Jacob hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan mendahului Peter, membiarkan pria itu mengambil alih kopernya.


Sebuah mobil yang akan membawa Jacob itu, telah terparkir di depan pintu keluar. Dengan sigap Peter membukakan pintu mobil itu lalu mempersilahkan Jacob masuk ke dalamnya.


"Untuk jadwal konsultasi dan pengecekan kesehatan Anda akan dilakukan besok, Tuan, "ucap Peter saat pria itu telah masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi.


"Atur saja,"saut Jacob datar.


"Baik Tuan Muda Pertama, "ujar Peter.


Mobil hitam keluaran terbaru dari salah satu perusahaan otomotif terkenal itu melaju membela jalanan New York, selama perjalanan Jacob tak banyak bicara. Pria itu hanya menatap jalanan dengan pikiran tertuju pada sang istri yang ia tinggal saat wanitanya dalam kondisi tak sadarkan diri.


"Mungkin Kanaya sudah sadar,"gumamnya.


Tangan Jacob meraih ponsel pintar yang ada di dalam saku kemejanya, lalu menggulir kontak dan berhenti kala nama 'Mama' tertera.


Cukup lama, panggilan itu diangkat oleh Nyonya Seline. Sampai Jacob melakukan panggilan ketiga kalinya, barulah panggilan itu dijawab.


"Hallo Ma, "ucap Jacob.


"H-hallo Jac. "


Kening Jacob mengernyit saat mendengar suara Nyonya Seline tergagap. Akalnya yang selalu berpikiran buruk itu mulai menyeruak.


"Ma, semuanya baik-baik saja kan? Kanaya baik-baik saja kan? "tanya Jacob panik.


Kepanikan Jacob itu sukses membuat Peter yang tengah menyetir melirik ke belakang melalui spion.


Sementara Nyonya Seline tampak menegang saat mendapat pertanyaan dari putranya melalui sambungan telepon itu.


"S-semuanya baik-baik saja kok. Kanaya juga sudah sadar, kamu jangan khawatir ya. Dia sedang mendapatkan penanganan dari dokter, "dusta wanita itu.


Helaan nafas panjang Jacob lakukan. Dia tadi sempat berpikir buruk, jika sampai pikiran buruknya benar terjadi. Mungkin ia akan putar balik kembali ke Indonesia.


"Jacob takut ada hal buruk yang terjadi disana, "ucap pria itu.


"Tidak, semuanya baik-baik saja. Sudah dulu ya Sayang, ini Mama mau menemui dokter dulu. Kamu sudah sampai kan?"ujar Nyonya mencoba mengalihkan pembicaraan. Dan hal itu berhasil.


"Iya Ma, Jacob baru saja keluar bandara, "ujar pria itu.


"Ya sudah, Mama mau ke kamarnya Kanaya dulu ya, "ucap wanita itu.


"Eh Ma tunggu... "

__ADS_1


Suara Jacob menggantung begitu saja karena panggilan itu telah diputuskan sepihak oleh Nyonya Seline.


Padahal Jacob ingin meminta pada Nyonya Seline agar menyampaikan salamnya pada Kanaya serta permintaan maafnya.


Tetapi apalah daya, jika panggilan telepon itu telah diputuskan sepihak oleh Nyonya Seline.


"Tunggu Aku sembuh Nay, dan Aku janji akan menjadikanmu wanita paling bahagia, "gumam Jacob seraya menatap layar ponselnya dimana foto Kanaya terpampang jelas disana.


Sementara itu di Indonesia, tampak Nyonya Seline tengah kelimpungan setelah ia mendengar ucapan Tuan Garadha perihal anak buahnya yang belum menemukan jejak menantunya.


"Pa, sekarang mungkin kita bisa menyembunyikan semuanya dari Jacob, tapi ini tidak akan lama Pa, pasti kapan waktunya Jacob akan tahu,"keluh Nyonya Seline.


"Iya Ma, orang-orang Papa pasti akan terus mencari keberadaan menantu kita, "saut Tuan Garadha.


#Solo


Kanaya dan Nenek Risma tampak keluar dari bis yang membawa mereka dari Jakarta ke Solo.


Wanita cantik itu tampak setia mengenakan maskernya, dia ingin tenang dari tatapan para pria yang bisa saja mengganggu perjalanan mereka.


Mereka telah berhasil keluar dari Jakarta, dan sekarang di kota inilah Kanaya akan menjalani hidup barunya tanpa adanya Jacob maupun keluarga Garadha.


Kanaya ingin menjadi sosok yang jauh lebih baik. Tanpa adanya sosok-sosok yang terus saling merebutnya dan ingin memiliki dirinya.


Sampai akhirnya takdir menyatukan dirinya dengan Jacob, yang ia pikir pria itu bisa mencintai dirinya dengan tulus.


Tetapi kembali lagi, Kanaya harus menelan pahit saat Jacob menggugat cerai serta pernyataan dia yang tidak mencintainya.


Direbutkan mati-matian oleh Jacob sampai seringnya bertengkar dengan Mark, nyatanya pria itu tidak mencintainya. Dan itulah kali pertama seorang Kanaya patah hati akan cinta.


"Nay, sekarang kita mau kemana? kok melamun,"ujar Nenek Risma.


Kanaya terhenyak, dia justru mengingat sosok Jacob. Padahal dia sudah mantap untuk meninggalkan pria itu, tapi baru saja ia pergi dari Jakarta. Kanaya sudah mengingat-ingat sosok pria itu.


"Kita makan dulu yuk Nek, sekalian tanya-tanya tenang kontrakan murah disini, "ajak Kanaya.


"Iya Nay, perut Nenek juga sudah minta di isi, "saut Nenek Risma seraya menyambut uluran tangan Kanaya.


Pilihan mereka jatuh pada rumah makan sederhana yang letaknya berada di luar terminal. Dengan hidangan sederhana serta harga terjangkau, Kanaya dan Nenek Risma menikmati sarapan mereka di waktu menjelang siang itu.


"Bu, boleh tanya tidak, "ucap Kanaya pada pemilik warung.


"Iya Neng, mau tanya apa? "


"Ibu tahu kontrakan kosong yang siap di tempati nggak Bu, terus harganya lumayan terjangkau, "tanya Kanaya.

__ADS_1


"Wah kebetulan Neng, kakak Saya mau ngontrakin rumahnya. Soalnya dia mau berangkat ke Hongkong jadi TKW, "seru ibu pemilik warung itu senang.


Mendengar itu, Kanaya tampak sangat senang. Akhirnya dia tidak perlu susah-susah mencari kontrakan.


"Tapi jaraknya lumayan jauh Neng dari sini, nggak terlalu kota juga. Makanya harganya murah, "ujar pemilik warung itu.


"Nggak apa-apa Bu, "saut Kanaya dengan senang.


"Ya sudah si Neng tunggu sebentar ya, Saya mau tutup warung dulu, "ujar Pemilik warung itu di angguki Kanaya.


Setelah menutup warungnya, pemilik warung itu pun membawa Kanaya dan Nenek Risma menuju kontrakan yang katanya mau di sewakan.


Benar adanya, jika jarak yang harus di tempuh dari terminal cukup jauh. Kurang lebih setengah jam-an lebih yang dibutuhkan mereka untuk mencapai lokasi.


"Ini Neng, kecil sih cuma ada dua kamar. Terus kamar mandinya juga terpisah, "jelas pemilik warung itu usai menunjukan isi kontrakan itu kepada Kanaya.


Tetapi bagi Kanaya kontrakan itu sudah termasuk lebih dari cukup bahkan jauh lebih baik dari rumah reotny semasa di desa kelahiran wanita cantik itu.


"Iya Bu, ini sudah sangat nyaman kok. O iya Bu, ini bisa langsung Saya tempati kan? "ucap Kanaya.


"Bisa-bisa Neng, asal bayar uang buat bulan ini dulu, "ujar ibu-ibu itu.


Kanaya mengeluarkan uang dari tas, yang tak lain uang Nenek Risma pemberian Jacob itu. Dan memberikannya pada ibu itu sesuai nominal yang disepakati.


"Sekali lagi terima kasih ya Bu...? "


"Nama saya Seruni Neng, panggil saja Ibu Uni, "ucap Uni memperkenalkan dirinya.


"Ah iya terima kasih Bu Uni, "ucap Kanaya senang.


"Sama-sama Neng, malah sekarang Saya jadi senang nggak perlu pusing-pusing cari orang buat huni rumah ini. Ini kan rumahnya masih kotor, nanti Saya suruh adik saya kesinu buat bawain sapa sama pel-an ya Neng, "ucap Uni.


"Kalau gitu Saya pergi dulu Neng, ini kunci kontrakannya, "ucap Uni lagi sambik menyerahkan kunci kontrakan pada tangan Kanaya, kemudian berjalan pergi meninggalkan Kanaya dan Nenek Risma disana.


Seperginya Uni, Kanaya menatap kontrakan kecil itu dengan senyuman lebarnya. Dia merasa sangat puas, walaupun kontrakan tersebut kecil namun kawasan di sekitarnya yang ternyata daerah pondok pesantren membuat Kanaya semakin senang. Karena ketakutan Kanaya akan gangguan pria-pria bermata keranjang sedikit berkurang.


"Ayo Nek, kita masuk, "ajak Kanaya pada Neneknya.


Entah sampai waktu kapan wanita itu akan berada disana, dan entah sampai kapan pula kesalahpahaman antara dirinya dan Jacob akan terus terjadi.


Disatu sisi Jacob yang mulai fokus akan kesembuhannya. Disisi lain, Kanaya justru pergi jauh karena sakit hatinya yang pada dasarnya hanya sebuah kesalah pahaman.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2