
"Apa yang kalian lakukan hah? Kalian ini saudara, "bentak Tuan Garadha.
Pria paru baya itu tampak merah padam menahan amarahnya.
Pria paru baya itu baru saja pulang dari kantor karena mendapat telepon dari sang istri. Namun dia yang baru saja pulang justru dikejutkan dengan suara gaduh dari arah ruang belajarnya.
Jantung Tuan Garadha seakan berpacu dengan sangat cepat saat melihat Jacob dan Mark tengah berguling dan adu jotos.
Sementara itu Mark dan Jacob yang kini tampak sangat kacau dengan luka lebam pada wajah masing-masing serta pakaian yang sangat kacau hanya bisa menunduk di depan pria yang paling berkuasa di kediaman Garadha itu.
"Kau Mark, apa yang sebenarnya ada di dalam otakmu itu? Sampai berpikir ingin merebut kakak iparmu dari kakakmu sendiri."ujar Tuan Garadha penuh penekanan.
"Mark mencintai Kanaya Pah, dan Mark yakin jika Kanaya bersama Mark maka dia akan bahagia tidak seperti sekarang yang selalu sakit karena ulah..."ucapan Mark tergantung namun kedua ekor matanya melirik pada pria di sampingnya (Jacob).
"Mark! "hardik Tuan Garadha.
Tuan Garadha memijak pelipisnya karena rasa pening yang mulai menguasai kepalanya.
Kedua putranya yang terkenal dengan kerukunannya selama puluhan tahun.
Jacob yang mengasihi sedangkan Mark yang selalu mengalah demi kakaknya kini bertengkar karena seorang wanita yang nyatanya telah menjadi milik anak pertamanya membuat Tuan Garadha benar-benar tidak habis pikir.
"Mark, apa Kau sadar dengan apa yang telah Kamu katakan barusan,"ucap Tuan Garadha penuh penekanan.
"Iya Pah, Mark sangat sadar dengan apa yang barusan Mark katakan. Mark sangat mencin... "
"Hentikan omong kosong itu Mark!"bentak Tuan Garadha.
Mark yang akan melanjutkan ucapanya pun tidak bisa lagi membuka mulut karena bentakan dari Papahnya.
"Papah tidak mau tahu, mulai sekarang kamu harus menghilangkan perasaan tidak berdasar itu pada Kakak iparmu!"
"Tapi Pah..."
"Ini perintah bukan permintaan Mark, sekarang keluarlah, "ujar Tuan Garadha dengan muka serius dan tatapan tajamnya.
__ADS_1
Tangan Mark terkepal mendapat perintah dari Papahnya.
Dengan mulut terkatup rapat, Mark berbalik lalu berjalan keluar ruang belajar itu meninggalkan Jacob dan Tuan Garadha disana.
Setelah keluarnya Mark. Kini di dalam ruangan tersebut tersisa hanya Jacob dan Tuan Garadha saja
Keduanya diam selama beberapa saat. Jacob pun terlihat masih tidak berani menatap kedua mata Papahnya.
"Jacob, "seru Tuan Garadha.
Pria yang sedari tadi menunduk itupun mengangkat kepalanya dan mata hitam legamnya pun bersibobrok dengan tatapan datar Tuan Garadha.
"Papah tidak memarahimu tadi bukan berarti Kamu benar, keberanian adikmu timbul karena kelalaian kamu,"ujar Tuan Garadha.
"Maafkan Jacob Pah, "lirih pria itu.
"Sedari kecil Mark selalu mengalah padamu bukan berarti dia tidak akan pernah memberontak. Jika kamu memang ingin membuat Kanaya ada disisimu maka pertahankan dia dan jangan beri peluang siapapun untuk memiliki niat merebutnya darimu, "pesan Tuan Garadha.
"Ingat semuanya ada di tangan kamu, "lanjutnya lagi.
––––
Jacob terdiam dengan posisi duduk disisi kasur dimana Kanaya tengah terlelap.
Pria itu tengah memikirkan apa yang dikatakan Tuan Garadha padanya beberapa waktu yang lalu.
Dia menyadari akan kesalahannya yang telah mengabaikan Kanaya hanya karena ego-nya saja.
"Kamu pasti terus bersedih karena Aku yang tidak ada disisimu. Lihatlah tubuh kamu jadi kurusan begini, "gumam Jacob.
Pria itu mengulurkan tangannya pada perut Kanaya yang terlihat lebih buncit.
Diusapnya perut itu dimana sang calon anaknua bersemayam dengan nyaman disana.
"Dia menendang, dia bisa bergerak, "lirih Jacob haru.
__ADS_1
Tak terasa sudut matanya mengeluarkan air mata kala merasakan tendangan dari calon bayinya.
Pria itu merasa bahagia dan haru yang sangat besar. Hingga dia terus mengusap perut buncit Kanaya berharap baby mereka merespon gerakannya.
Tak puas hanya mengusap perutnya Kanaya, Jacob menggeser tubuhnya pas pada sisi perut Kanaya.
Ia condongkan kepalanya lalu menempelkan daun telinganya pada perut buncit itu.
"Dia dia benar bergerak, "haru Jacob.
Cukup lama Jacob menempelkan daun telinganya pada perut Kanaya, sampai membuat wanita yang tadinya terlelap itupun terjaga.
"Mas, "lirih Kanaya dengan suara serak khas bangun tidur.
Pria yang tengah asik menanti respon bayi di dalam perut itupun terjengit, Jacob segera menegakkan tubuhnya lalu menatap Kanaya dengan senyuman nya.
"Kau terbangun karenaku ya Nay? Maaf, soalnya tadi Aku merasakan tendangan Baby jadi Aku sampai senang sekali, "celetuk pria itu.
"Nggak kok Mas, Mas kalau mau merasakan tendangannya Baby, boleh dekatkan lagi telinganya kok, "ujar Kanaya.
"Benar? "tanya Jacob sumringah.
Kanaya menganggukkan kepalanya membuat Jacob tak lagi membuang waktunya untuk kembali menyentuh perut Kanaya.
pria itu memiringkan kepalanya hingg wajahnya kini berhadapan persis dengan wajah Kanaya.
Yang mana hal itu membuat perempuan itu melihat luka legam pada wajah sang suami.
"Mas, wajah kamu kenapa? "
"Uumm. "
***
TBC
__ADS_1