ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
Bab 79


__ADS_3

"Assalamu'alakum."


Seruan salam dari luar kontrakan kecil Nenek Risma dan Kanaya membuat kedua orang yang ada di dalamnya itu terkesiap.


"Siapa Nek? kok kayaknya rame? "celetuk Kanaya.


"Sebentar Nenek buka pintunya, kamu pakai hijab dan cadar dulu, "titah Nenek Risma.


Kanaya menurut, wanita cantik itu masuk ke dalam kamarnya untuk memakai cadarnya. Sementara Nenek Risma melangkah menuju pintu untuk melihat siapa yang telah bertamu pada sore hari itu.


Ceklek.


"Waalaikumsalam, eh maaf ternyata Pak kyai dan Bu nyai. Mari masuk...mari. Aduh maaf kontrakan kami kecil, "ujar Nenek Risma merasa tidak nyaman karena ternyata enam orang yang menjadi tamunya itu harus duduk lesehan dan berdempet-dempetan.


Setelah mempesilahkan para tamu untuk duduk, Nenek Risma kembali masuk untuk meminta Kanaya membuatkan minuman untuk para tamu itu.


"Nek, kira-kira Umi Naya sekeluarga mau apa ya? Kok rombongan gitu? "celetuk Kanaya saat ia telah mendapat perintah dari Nenek Risma.


"Nenek nggak tahu Nay,"balas Nenek Risma.


Ditengah rasa penasaran akan kedatangan keluarga pesantren tersebut. Keduanya memutuskan untuk melanjutkan kegiatannya. Nenek Risma yang kembali keluar untuk menemui keluarga pesantren sedangkan Kanaya yang meneruskan untuk menyajikan hidangan.


Beruntung tadi saat perjalanan pulang, wanita cantik itu menyempatkan membeli beberapa makanan ringan dan buah untuk ia simpan.


Kedua tangan Kanaya saling memegang ujung nampan berisi minuman, lalu berjalan keluar dimana semuanya berada.


Ekor mata Gus Yusuf terus mencuri pandang pada wanita yang tengah menyajikan hidangan untuk pria itu dan keluarganya.


"Jangan ditatap terus Kak, nanti kabur gimana, "ledek Gus Ali dengan bisikan pada Teling Gua Yusuf.


"Apaan sih, "desis Gus Yusuf merasa malu karena aksinya ketahuan oleh sang sepupu.


Semuanya telah duduk disana. Abi Ghani selaku wali dari Gus Yusuf pun mulai membuka pembicaraannya dan tujuan kedatangan mereka sekeluarga.


"Sebelumnya Saya dan sekeluarga meminta maaf karena telah membuat Nenek Risma dan Kanaya terkejut atas kedatangan kami yang tiba-tiba ini. Ini semua karena putra sulung saya, Yusuf. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi, "ujar Abi Ghani yang membuat anggota keluarganya meledek pada Gus Yusuf yang sedari tadi menunduk karena ledekan keluarga besarnya.

__ADS_1


Kanaya semakin bertanya - tanya, dari pembicaraan Abi Ghani merujuk pada sebuah dugaan. Namun ia tidak ingin menyimpulkan begitu saja. Lagi pula dalam pikirannya, tidak mungkin Gus Yusuf memiliki hati untuk dirinya.


"Tidak sama sekali Pak Kyai, tapi sebenarnya kami bingung akan tujuan sebenarnya kedatangan Pak Kyai, Gus Yusuf dan sekeluarga, "ujar Nenek Risma memancing senyuman Abi Ghani dan Umi Aminah.


Jika biasanya mungkin pertanyaan seperti itu tidak akan muncul, karena pada acara lamaran pada umumnya dimana antara pihak laki-laki akan memberitahu kedatangan mereka pada pihak perempuan.


Tapi, mau bagaimana lagi? Semuanya berawal dari ketidaksabaran Gus Yusuf untuk meminang Kanaya. Sampai dia tidak mengingat akan hal itu. Andai saja Gus Yusuf mengatakan niatan kedatangan mereka lebih dulu. Mungkin acara lamaran ini tidak akan terjadi.


"Sebenarnya kami ingin meminang Kanaya untuk putra kami, Yusuf bin Ghani Al Habsyi."


Sebuah kalimat yang jelas itu, membuat Kanaya dan Nenek Risma tertegun.


Kanaya? Dia yang sedari tadi menunduk pun kini mengangkat kepalanya penuh kejut. Pinangan? Dia tidak salah dengar bukan?


Berbeda dengan Nenek Risma dan Kanaya yang terkejut, keluarga Abi Ghani justru tersenyum lebar karena dalam pikiran mereka, jika lamaran itu diterima maka pesantren akan kedatangan 'Ning' baru.


"Maaf Pak kyai dan Umi, Naya tidak bisa, "tolak wanita itu lembut.


Senyuman lebar keluarga pesantren seketika surut. Gus Yusuf yang mesem-mesem pun mendadak meluruskan garis bibirnya. Dirinya ditolak, dia tidak salah dengar. Pinangannya di tolak oleh sang bidadari.


"K-kenapa?"gagap Gus Yusuf.


Dia baru pertama kali merasakan jantungnya berdebar pada seorang wanita, dia yang sudah membayangkan pinangannya akan diterima. Tapi, harapan itu harus sirna. Gus Yusuf harus merasakan sakitnya di tolak.


"Karena Saya..."


"Karena dia sudah menikah."


Sebuah suara berat dan tegas terdengar dari ambang pintu kontrakan tersebut, membuat semua orang yang ada disana sontak saja menoleh bersamaan pada sosok yang baru saja bicara itu.


"Kanaya sudah menikah, dan Saya adalah suaminya, "lanjut Jacob.


"Benar begitu Kanaya? "tanya Umi Aminah tanpa menghilangkan wajah yang terkejut itu.


"Iya Umi. "

__ADS_1


Umi Aminah tentu saja sangat terkejut akan fakta mengejutkan itu. Dia pikir selama ini Kanaya masih seorang diri. Karena Kanaya yang tidak pernah membahas perihal statusnya.


"Saya pamit, assalamualaikum, "potong Gus Yusuf lalu berdiri dan meninggalkan semua keluarganya yang masih ada di dalam kontrakan itu.


"Yusuf, "seru Umi Aminah dan yang lainnya.


Abi Ghani dan keluarganya sontak berdiri kala Gus Yusuf yang berlari kencang menjauh dari kontrakan tersebut. Mereka keluar dengan terburu-buru dan diikuti Kanaya yang juga keluar kontrakannya.


"Umi, maafkan Naya. Naya tidak tahu jika sampai seperti ini, "ujar Kanaya seraya mencekal tangan Umi Aminah yang hendak melangkah menyusul Gus Yusuf bersama yang lainnya.


"Tidak perlu meminta maaf, disini Yusuf dan kami juga salah. Karena tidak bertanya lebih dulu tentang status kamu, malah kami langsung membawa rombongan untuk meminang kamu, Nay, "ucap Umi Aminah dengan senyumannya.


"Maaf Umi, "ucap Kanaya sekali lagi penuh sesal.


Tepukan lembut Kanaya dapatkan pada punggung tangan yang memegang pergelajangan tangan Umi Aminah dari wanita parubaya itu.


"Kami pamit, Nay. Assalamualaikum, "ujar Umi Aminah seraya melepaskan tangan Kanaya dan berjalan meninggalkan kontrakan Kanaya.


Netra abu-abu wanita cantik itu mulai berair. Rasa bersalah itu menyeruak dalam hatinya, dia merasa sangat bersalah pada Umi Aminah.


Tapi bukan berarti dia telah memiliki rasa pada Gus Yusuf, Kanaya hanya merasa telah mengecewakan mereka. Walupun semuanya dimulai akan ketidak sengajaan.


Dia yang tidak pernah menceritakan statusnya karena memang setiap kali ia bersama Umi Aminah hanyalah pembahasan seputar keingin tahuannya tentang ilmu agama. Tentu saja dia tidak ada niatan menyembunyikan semuanya, walaupun ia tengah menghindari Jacob.


O iya Jacob, bagaimana sosok pria itu bisa ada di depan kontrakannya? Bukannya dia telah berhasil menghindari sosok pria itu, tapi bagaimana bisa Jacob ada disini.


Perlahan Kanaya membalik tubuhnya, lalu menatap sosok pria dengan bola mata legam yang berdiri menyandarkan tubuhnya di pinggiran pintu.


"Hay istri cantikku? Aku menemukanmu, "ucap pria itu dengan senyuman smirknya.


Senyuman smirk yang mampu membuat Kanaya sulit menelan ludahnya.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2