
"Hallo Aya!"
Kanaya menarik tubuhnya hingga menyentuh kepala kasur besar itu. Dia tahu betul sosok yang tengah duduk di sebuah single sofa dan memangku wajahnya adalah pria yang telah mengadakan pesta dimana ia dan Jacob hadir sebelumnya.
"T-Tuan Felix, saya mohon menjauhlah. Dan tolong kembalikan cadar Saya,"ujarnya.
Kanaya benar-benar merasa sedih dan marah dalam dadanya. Dia yang baru saja terbangun karena pengaruh obat bius dikejutkan dengan keberadaan dirinya di sebuah kamar asing serta dengan muka tanpa cadarnya.
Kanaya hanya bisa menarik kerudung besarnya agar menutupi wajahnya atau sebagai pengganti cadarnya.
"Jangan takut Aya, Saya tidak akan melukaimu. Janga seperti itu, ketakutanmu membuat hati Saya sedih,"ujar Felix dengan meraup mukanya.
Kanaya bergeming, pria di depannya itu seperti sosok yang bisa kapan saja menggila. Entah apa tujuan Felix menculiknya.
"Tolong lepaskan Saya, Saya mohon. Saya ingin kembali dengan Suami Saya,"
Prang!
Suara gelas pecah terdengar memekakan telinga, tidak hanya itu, meja yang terletak ada disisi Felix pun tidak tidak luput dari kemarahan pria itu. Meja itu ditendang hingga terpental pada dinding.
"Jangan katakan itu Aya! Kamu adalah Ayaku, dan Aku adalah Darrenmu,"teriak Felix.
Kanaya yang tengah menutupi telinganya karena kelakuan Felix yang begitu mengerikan itu terkesiap saat mendengar sebuah nama yang samar-samar hadir dalam ingatannya.
"Darren?"ucapnya.
Felix berjalan mendekati Kanaya, ia duduk persis di sisi kasur yang berdekatan dengan Kanaya. Sontak saja Kanaya menarik tubuhnya agar menjauh dari Felix.
"Iya, Aku adalah Darrenmu, Aya. Kita sudah pernah membuat janji di bukit yang ada di samping desa untuk menikah dan hidup bersama,"ujar Felix.
Raut muka penuh amarahnya seketika berubah menjadi wajah yang tampak sangat antusias. Mudah sekali Felix mengubah raut wajahnya dan suasan hati pria itu.
Kanaya terdiam, dia mulai mengingat kejadian itu. Tapi itu dulu, dan janji yang pernah ia buat juga saat dirinya masih berusia tujuh tahun dan jika tidak salah. Saat itu Felix atau Darren masih berusia dua belas tahun.
Sebuah janji yang dibuat oleh seorang anak kecil, tentu saja Kanaya merasa itu sudah tidak terlalu penting.
__ADS_1
Terlebih Darren yang setelah bertemu di bukit dengannya, pria itu tidak pernah mendatangi desa sesuai janjinya.
"Itu hanya janji yang keluar dari mulut seorang anak-anak Darren. Jangan Kamu anggap serius,"teriak Kanaya.
Dia yang sedari tadi bicara pelan kini akhirnya bisa mengatakan dengan suara lantangnya.
"Tidak Aya, janji itu tetap berlaku. Kita akan menikah, sini ikut Aku,"ajak Felix.
Pria itu berdiri dari atas kasur dan mengulurkan tangannya pada Kanaya. Tentu saja Kanaya tidak berani untuk menerima uluran tangannya.
Tetapi Kanaya tahu, jika Felix tidak akan mencelakai dirinya. Kanaya beranjak dari atas kasur dan mengikuti langkah kaki Felix.
Meskipun harus kecewa karena uluran tangannya tidak disambut Kanaya, namun Felix tetap melangkah.
"Lihat, ini adalah kastil yang Aku bangun Aya untuk dirimu. Selama belasan tahun Aku bekerja keras dan membangun perusahaan raksasa demi membangun kastil mewah ini. Kamu ingat, dulu kamu bilang ingin tinggal di istana seperti para Ratu, dan Aku akan menjadi rajanya,"ujar Felix antusias.
Kanaya bergeming, dia hanya menatap kemana kaki Felix melangkah dan menunjukkan setiap interior dari tempat yang pria itu sebut sebagai kastil.
"Kita akan menikah, dan kita akan tinggal di kastil ini bersama sampai menua,"ujarnya lagi.
"Tidak Darren, Aku tidak bisa dan tidak akan pernah menikah denganmu. Aku sudah menikah,"balas Kanaya tegas.
Meskipun selantang apapun Kanaya mengatakan jika dirinya telah menikah, tetapi Felix seakan-akan menulikan telinganya akan fakta tersebut.
Dia justru semakin menjadi dan terus menunjukkan segala yang dia punya.
"Ah, Aku sungguh tidak sabar menunggu besok dan menikahimu,"ucap Felix lagi
"Kamu sudah gila Darren, Aku sudah menikah! SUDAH MENIKAH, jangan gila. Aku sangat mencintai suamiku,"teriak Kanaya.
"TIAN!"
Septian yang sedari tadi berdiri di sudut ruangan tersebut pun melangkah mendekati Felix saat namanya dipanggil dengan lantang.
"Bawa Nyonya ke kamarnya, sepertinya dia terlalu lelah,"titah Felix.
__ADS_1
Septian menganggukkan kepalanya, dia menjentikkan dua jarinya memanggil seorang pelayan wanita untuk mengikuti dirinya.
"Saya tidak lelah, Saya ingin pergi dari sini. Tolong lepaskan Saya,"teriak Kanaya.
Dia terus memberontak dari Septian dan pelayan wanita tersebut.
Tetapi tiba-tiba rasa kantuk dan lemas menyerang dirinya ketika pelayan wanita itu menyentuh tubuhnya. Kanaya yang telah kembali tidak sadarkan diri pun kini dengan mudah dibawa oleh pelayan wanita tersebut.
Felix sendiri memilih pergi menuju ruang pribadinya, sebuah ruangan yang hanya berisikan foto-foto Kanaya sewaktu kecil dan sampai wanita itu terakhir kali ada di desa.
Ya, secara diam-diam. Felix telah menyuruh orang terus mengawasi Kanaya. Hanya saat Kanaya yang meninggalkan desa akibat fitnah Pak Kades, saat itulah Felix kehilangan jejak Kanaya.
"Aya, Kamu adalah Ayaku, bukan milik dia atau siapapun itu. Kita sudah di takdirkan untuk bersama, jadi Aku tidak akan melepaskanmu, Aya,"ujar Felix seraya menyentuh foto Kanaya dengan balutan baju sederhananya disana.
Disisi lain, Jacob tengah mengerahkan orang-orangnya untuk mencari keberadaan istrinya. Dengan didampingi Dinda dan Riko, Jacob mencoba melacak keberadaan Kanaya melalui cincin pernikahannya.
Ya, saat Jacob dan Kanaya melakukan akad kedua kalinya dan menghabiskan malam panas di kamar hotel, pria itu menyematkan sebuah cincin secara diam-diam untuk sang istri.
Dan dalam cincin tersebut telah Jacob pasang alat pelacak. Dia tidak ingin kejadian Kanaya yang sulit di temukan kembali terulang. Jadilah dia melakukan itu secara diam-diam.
"Tuan, titik lokasi terakhir Nona sampai disini, Saat ini kita berada di daerah hutan Terlarang,"ujar Riko.
Jacob menatap sekeliling, kanan dan kiri sisi jalan ditumbuhi pepohon yang lebat dan rindang. Pikiran buruk mulai membuatnya semakin khawatir.
"Kerahkan orang-orang untuk mencari Naya di daerah hutan ini,"titah Jacob.
"Baik Tuan."
Jacob merutuki dirinya yang tetap hadir di pesta tersebut. Padahal tanda-tanda keanehan sikap yang Felix berikan pada Kanaya sudah sangat jelas.
Hal itu karena Jacob berpikir jika Felix tidak memiliki niatan lain pada sang istri, karena setahunya Felix baru saja datang dari luar negeri. Jadi bagaimana dia bisa melakukan penculikan pada istrinya yang baru sekali bertemu dan tanpa disengaja itu.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kini dia harus mencari keberadaan Kanaya yang ia yakini berada di tangan Felix.
"Felix,"geram Jacob dengan tangan terkepal.
__ADS_1
***
TBC