ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
BAB 63


__ADS_3

"Kau lagi, "celetuk Mark pada sosok yang kesekian kalinya datang ke ruang rawatnya.


Sosok itu mendengus kesal dengan bola mata malas yang ia perlihatkan pada pria yang tengah berbaring dengan balutan perban pada wajah dan tubuhnya itu.


"Kenapa harus menjengukku setiap hari? Aku tidak butuh belas kasihmu, "ucap Mark lagi.


Sosok itu tampak acuh akan setiap yang terlontar dari bibir pria itu. Dia terus melakukan aktivitasnya, seperti meraih piring berisi sarapan Mark yang belum sama sekali di sentuh oleh pria itu.


"Buka mulut Anda, Tuan Muda Kedua, "ucap sosok itu seraya mengarahkan sendok berisi makanan ke mulut Mark.


"Tidak perlu berakting, jika marah maka marahlah saja. Lebih baik kamu pergi sekarang, "usir Mark.


Sosok itu kembali menghela nafas kesalnya pada pria yang memalingkan wajahnya itu.


Tidak tahan dengan sikap keras kepalanya Mark, dia meletakkan piring itu pada meja di dekat brangkar tanpa meletakkan sendok di tangannya.


"Apa yang mau kamu lakukan? "hardik Mark dengan mata membola.


Sosok itu tidak peduli akan reaksi kemarahan Mark, dengan kondisi Mark yang lemah sudah tentu dengan mudah bisa ia taklukkan.


Dia mendekati Mark lalu dengan satu tangan ia mencengkeram rahang pria itu agar mulut Mark yang sedari tadi berkata pedas padanya itu terbuka dan dengan mudah ia masukkan sendokan berisi makanan itu ke dalam mulut pria itu.


Tidak lupa dia juga membekap mulut itu sampai seluruh makanan tadi masuk ke dalam kerongkongan Mark. Barulah setelah itu dia melepaskan tangannya.


"Indri! Berani sekali kamu sama Saya, "maki Mark.


Sepertinya rasa sakit pada seluruh tubuh seketika hilang dan kini berganti amarah yang ada di dada Mark.


Indri yang tak lain sahabat Kanaya yang juga pelayan di kediaman Garadha tampak menatap santai putra dari majikannya itu.


"Itu karena Tuan sudah terlalu banyak bicara, dan juga sebagai pelampiasan kemarahan Saya pada Anda, "celetuk Indri.


"Jika saja, Saya tidak ingat akan status Saya. Mungkin Saya akan melakukan lebih dari ini pada Anda,"ucap Indri dengan tatapan tajamnya.


Mark menatap ngilu gadis di depannya itu. Selama dia mengenal sosok Indri, baru kali ini Mark melihat kemarahan gadis itu.

__ADS_1


Namun sebagai pria dan juga putra kedua majikannya, Mark sebisa mungkin berusaha angkuh di depan Indri.


"Ck, Kau hanyalah pelayan. jadi jangan bersikap sok kepada Saya. Atau kamu tidak bisa lagi bekerja di kediaman Garadha, "ancam Mark.


Indri mendengus kesal akan ancaman yang keluar dari bibir Mark itu.


Dia yang enggan menjabani ancaman Mark itu memilih kembali meraih piring lalu menyendoknya untuk Mark.


"Anda tidak bisa melawan Saya saat ini Tuan Muda Kedua, jadi lebih baik buka mulut dan menurut. Jika tidak mau Saya akan memaksanya, "ancam Indri serius.


Mark yang mendapat ancaman dari pelayan itu pun akhirnya membuka mulutnya dan menerima suapan demi suapan dari Indri.


"Sebenarnya dia kenapa sih? Kenapa jadi berani sekali sama Saya. Padahal Aku ini majikannya,"batin Mark.


"Kau tahu Tuan kenapa Saya begitu marah kepada Anda? "celetuk Indri seraya menatap Mark sesaat lalu kembali atensinya pada piring yang ia pegang.


"Hari ini Saya melihat Kanaya tampak terpukul sekali, dia menangis hingga matanya bengkak. Anda tahu penyebabnya karena apa? "


Mark yang mendengar Indri menceritakan tentang Kanaya tentu saja berubah sangat antusias.


Sedari dua hari yang lalu, dia selalu ingin tahu kabar wanita cantik itu, namun sayangnya sang Papa, Tuan Garadha selalu mengancamnya.


"Dia tampak lemah dan, dan bayinya juga tidaj terselamatkan, "lanjutnya dengan menundukkan kepala.


Deg.


Mark tertegun mendengar kenyataan tersebut. Dia yang tadinya begitu antusias kini terlihat sangat lemas.


"Tapi bukannya itu bagus, anak itu kan anak diluar nikah, "lirih Mark.


Plak!


"Akhhh..."


Mark berteriak kesakitan saat pukulan cukup keras Indri berikan pada luka di tubuhnya.

__ADS_1


"Anda memang sudah gila, bahkan saat berita duka. Anda justru mengatakan itu sebuah kebagusan, Saya sungguh tidak mengerti jalan pikiran Anda, "desis Indri dengan kemarahannya.


Indri yang kesal dan sudah tidak kuat jika harus terus mengurusi Mark yang benar-benar membuat tensinya naik. Memilih beranjak dari kursinya.


"Kau mau kemana? "celetuk Mark.


"Saya lebih baik Tuan, dari pada disini. Saya takut akan gila seperti Anda, "sarkas Indri lalu melangkah keluar ruangan tersebut.


Biarlah nanti dia dimarahi oleh Tuan Garadha dan Nyonya Seline. Hanya saja, dia benar-benar takut akan bertindak lebih pada Mark.


Bisa saja Indri sampai ingin membunuh pria itu, misalnya.


***


Sementara itu di kamar VVIP dimana Kanaya dirawat. Tampak wanita itu tengah ditemani oleh Nenek Risma.


Dengan tangannya yang keriput namun penuh ketulusan pada sang cucu. Nenek Risma memasukkan suap demi suapan makanan ke dalam mulut Kanaya.


"Mas Jacob dimana Nek? Kenapa tidak kesini? "tanya Kanaya lirih.


Nenek Risma nampak kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari cucunya itu.


"I-itu dia semalam kesini kok, tapi saat itu kamu tidur nyenyak sekali. Terus Nak Jacob pulang pas sebelum kamu bangun karena ada pekerjaan penting, "ucap Nenek Risma.


Kanaya menundukkan kepalanya dengan sedih. Dia benar-benar membutuhkan pria itu disisinya, namun sedari kedua matanya terbuka (sadar), tidak sekalipun Kanaya melihat wajah tampan Jacob.


"Nek, nanti kalau Mas Jacob kesini lagi terus Kanaya tidur. Tolong sampaikan permintaan maaf Naya karena tidak bisa menjaga bayi kami, "ucap Kanaya.


Tatapan mata bermanik keabuan itu tampak penuh kesedihan dan harapan. Yang mana membuat Nenek Risma terenyuh dibuatnya.


"Iya Nay, "ucap Nenek Risma pelan yang dibalas dengan senyuman kecil Kanaya.


Nenek Risma menatap sendu, dia telah membohongi sang cucu akan kedatangan Jacob yang menjenguknya.


Namun harus bagaimana lagi, saat ini Kanaya tengah bersedih dan harus memulihkan dirinya. Nenek Risma tidak ingin Kanaya sedih lantaran Jacob yang tidak datang menjenguk wanita cantik itu.

__ADS_1


"Nenek tidak tahu ada apa? Tapi Nak Jacob seakan-akan hilang dan sulit ditemui Nay, "batin Nenek Risma.


***


__ADS_2