
"Ck, pria itu sangat bebal,"decih Jacob menahan amarahnya.
"Biarkan dia masuk, hanya dia. Tidak untuk yang lainnya,"titah Jacob pada akhirnya.
Pria seperti Felix memang tidak bisa dengan gampangnya menerima kekalahan untuk dirinya. Dan Jacob harus memberikan tekanan kuat agar Felix benar-benar menyerah untuk memiliki Kanaya.
"Baik Tuan,"ucap Riko.
Jacob berbalik, melangkah mendekati sang istri kembali. Pria itu membereskan mangkuk kosong dan gelasnya di atas meja agar tidak membuat pergerakan Kanaya di atas kasur terbatas.
"Kamu istirahat, Aku ada urusan sebentar,"ucap Jacob mengusap lembut surai indah Kanaya.
Pria itu hendak membenarkan selimut Kanaya, tetapi pergerakan tanganya terhenti karena cekalan Kanaya.
"Felix datang kesini kan Mas? Biarkan Naya ikut, Mas. Naya yakin setelah Naya menemuinya, Felix akan benar-benar melepaskan Kanaya,"pinta Kanaya.
"Tidak, Naya Sayang. Felix pria yang berbahaya. Mas tidak ingin kamu terluka lagi karenanya,"tolak Jacob.
"Naya mohon Mas, lagipula disana ada Kamu. Kamu pasti akan melindungi, Naya."
Jacob menatap manik abu-abu Kanaya. Wanita cantik itu begitu yakin jika dirinya bisa membuat Felix berhenti meneruskan obsesinya dan mengikhlaskan Kanaya untuk Jacob.
Tetapi jujur saja, Jacob masih teramat takut untuk membiarkan Felix bertemu dengan Kanaya.
"Baiklah,"pasrah Jacob.
"Terima kasih, Mas. Mas, bisa minta tolong ambilkan cadar Naya sama kotak hitam yang tidak salah ada di tas lama Kanaya,"pinta Kanaya.
Jacob menurut, pria itu mengambilkan cadar untuk istrinya dan sebuah kotak hitam yang telah berdebu dan itu tersimpan dalam sebuah tas usang milik Kanaya.
"Ini apa?"tanyanya penasaran.
"Itu adalah kalung, Naya akan mengembalikannya pada Felix,"jelas Kanaya.
Jacob membuka kotak hitam usang tersebut. Disana terlihat sebuah kalung dengan dua banduk dua angsa yang saling berhadapan. Dengan berlian biru di tengah-tengahnya.
Rasa cemburu hadir dalam hati Jacob melihat kalung tersebut. Ternyata istri cantiknya pernah memiliki kisah indah bersama pria lain. Walaupun itu adalah kekasih masa kecilnya.
"Maafkan Naya, Mas. Tetapi Naya tidak ada niatan untuk menyimpan barang itu. Kotak itu sudah sangat lama ada di dalam tas usang, hampir saja Naya melupakannya jika tidak ada kejadian seperti saat ini."
"Felix hanyalah sebagian kisah dimasa kecil Naya, dan itu tidak lebih. Naya tetaplah istri Mas, hati Naya juga cintanya sama Mas,"ucapnya lagi memberi pengertian agar Jacob tidak lagi cemburu pada kalung ditangannya itu.
"Kamu benar, dia hanya masa lalu. Dan Aku adalah masa sekarang dan masa depanmu, Naya sayang,"balas Jacob dengan senyuman lebarnya.
__ADS_1
Kanaya membalas senyuman pria itu tidak kalah lebarnya. Perlahan tubuh ramping Kanaya diangkat dan masuk dalam gendongan Jacob.
Sebenarnya bisa saja memakai kursi roda, tetapi Jacob enggan. Pria itu ingin tangannya sendiri yang memastikan Kanaya baik-baik saja.
Sesampainya di lantai bawah. Terlihat sosok Felix yang masih memakai jas pernikahan semalam. Sepertinya Felix semalaman mencari keberadaan mansion milik Jacob tanpa sempat mengganti pakaiannya.
"Aya!"serunya seraya beranjak dan hendak menghampiri Kanaya yang ada dalam gendongan Jacob.
"Tuan Felix, jaga batasan Anda,"hardik Riko dan Dinda bersamaan.
Dengan wajah pasrahnya, Felix kembali mendudukan dirinya di sofa panjang tersebut. Netra hitamnya menatap sendu sosok yang ia cintai yang kini berada dalam pangkuan Jacob.
Ya, Jacob sengaja meletakkan tubuh Kanaya di atas pangkuannya.
"Katakanlah,"ucap Jacob datar.
Felix masih terdiam, dia menatap lurus Kanaya dengan segala perasaan rumit di hatinya.
"Aya, kamu baik-baik saja kan? Aku minta maaf sudah membuatmu terluka,"ucap Felix yang justru lebih fokus pada Kanaya daripada pertanyaan Jacob sendiri.
"Istri Saya baik-baik saja. Hanya lebam kecil karena pukulan pria gila semalam,"sindir Jacob.
Felix masih acuh dengan segala kalimat yang Jacob keluarkan. Dia terus berfokus pada Kanaya, sampai membuat Jacob geram.
"Riko,"panggil Jacob.
"Sudah, Tuan."
"Apa-apaan ini? Kenapa kalian menghalangi pandangan Saya? Singkirkan kain ini,"ucap Felix murkah.
"Disini adalah mansion Garadha. Saya yang punya hak, dan jika kamu tidak bisa menerimanya maka pergilah,"usir Jacob.
Felix menggusar rambutnya frustasi. Dia belum puas menatap manik indah wanita yang dicintainya. Dia juga belum bisa tenang karena sedari tadi Kanaya hanya diam saja.
"Darren,"panggil Kanaya pelan.
"Aya? Akhirnya kamu mau bicara juga,"ucap Felix dengan air muka bahagianya.
Kanaya menatap sekilas wajah Jacob meminta izin pada suaminya untuk angkat bicara. Anggukan kepala Jacob sudah cukup memberitahu Kanaya jika pria itu mengizinkan dirinya.
Kanaya meminta seorang pelayan untuk menyerahkan kotak hitam ditangannya pada Felix.
Dari arah dimana Kanaya berada, dia bisa melihat ekspresi syok Felix saat melihat kotak hitam yang dulu diriny berikan pada Kanaya sebelum Felix pergi.
__ADS_1
"Saya kembalikan kalung itu, Darren. Saya tidak bisa menyimpannya lagi. Saya sudah bersuami dan Saya sangat mencintai suami Saya. Terlebih sebentar lagi, kami akan menjadi orang tua."
"Saya tahu kamu sebenarnya pria yang baik. Kembalilah seperti Darren yang seperti dulu, dan carilah wanita yang jauh lebih baik dari Saya, Ren."
Felix menunduk meraih kalung dengan bandul sepasang angsa itu dengan tangan gemetarnya. Kalung itu ia berikan sebagai niatan seorang remaja untuk mengikat seorang anak kecil berusia tujuh tahun.
Kini kalung itu telah Kanaya kembalikan lagi, yang mengartikan jika wanita itu benar-benar tidak bisa kembali padanya.
Perasaannya hancur, terlebih saat Kanaya mengatakan betapa ia mencintai Jacob dan pernyataan Kanaya yang sebentar lagi akan menjadi orang tua.
"Apa kesempatan itu benar-benar tidak ada, Aya? Biarpun sepuluh tahun atau dua puluh tahun Aku akan setia menunggu, Aya,"ucap Felix menatap kain satir yang tidak bisa ia tembus pandang.
"Tidak, Darren. Berapa tahunpun Aku tidak bisa memberikan dirimu kesempatan itu. Pergilah dan buanglah perasaan cinta untukku, Aku ingin Kamu bahagia bersama wanita lain sama halnya denganku yang telah bahagia dengan suamiku saat ini,"ujar Kanaya.
"Aku akan menderita jika Kamu terus mengejarku dan terus mengharapakan diriku yang jelas-jelas tidak bisa memberikanmu sebuah perasaan,"lanjutnya lagi.
Berulang kali Felix menarik nafas dan menghembuskanya kasar. Pria itu juga memukul dadanya kasar karena rasa sesak yang teramat sempit menghimpit dadanya.
Dia dipaksa berhenti oleh wanita yang dicintainya. Bahkan dengan sangat jelas, Kanaya mengatakan jika wanita itu akan menderita jika Felix masih saja memintanya.
Apa salah jika Felix memiliki perasaan pada wanita yang jelas-jelas sudah ia jadikan poros hidupnya sedari ia remaja.
Takdir memang tidak bisa ditebak. Andai saja, Felix tidak terlalu lama di luar negeri. Andai saja Felix tetap mengabari Kanaya dan kembali sesuai janjinya. Mungkin ia tidak akan pernah tejadi.
Tapi, semua hanya sebuah perandaian yang tidak akan terjadi kembali dalam hidup Felix.
"Baiklah, mulai hari ini Aku akan pergi dari hidupmu, Aya. Tapi mengenai rasa cinta ini, Aku tidak bisa membuangnya, kamu terlalu berharga untuk Aku lupakan,"ucap Felix.
Ditutupnya kotak hitam itu lalu ia beranjak dari duduknya.
"Tapi sebelumnya, bisakah satir ini dibuka. Aku ingin melihat manik indahmu sebagai perpisahan ini,"pinta Felix.
"TIDAK! Pergi atau Saya usir,"tolak Jacob mentah-mentah.
Tawa Felix terdengar menggelegar usai mendapat penolakan yang Jacob berikan.
"Dia memang sangat mencintaimu, Aya. Berbahagialah selalu, dan untukmu Jacob Garadha. Aku pergi bukan berarti melepaskan Kanaya begitu saja, jika Kamu membuatnya terluka sedikit saja, maka Aku akan kembali untuk mengambilnya lagi secara paksa,"ucap Felix lalu berjalan meninggalkan ruang tamu mansion Garadha itu.
Sesampainya diluar, Felix langsung masuk ke dalam mobilnya.
"Tuan,"panggil Septian yang masih berdiri.
"Saya gagal mendapatkannya kembali. Tian, hari ini urus kepergian Saya kembali ke luar negeri,"titah Felix.
__ADS_1
"Baik Tuan Felix."
Septian menghidupkan mesin mobilnya lalu mulai melajukan mobil tersebut meninggalkan mansion milik Jacob diikuti pengawal mereka dibelakangnya.