
"Apa-apaan Kau Mark! "seru Jacob tak terima.
Pria itu sampai beranjak dari sofa karena rasa amarah yang membuncah akibat cletukan dari Mark, adiknya.
Tidak hanya Jacob yang terkejut dengan ucapan Mark. Semua yang ada disana juga tak kalah kagetnya.
Nyonya Selline dan Tuan Garadha juga tampak tercengang dengan ucapan putra keduanya itu. Sementara Nenek Risma yang tidak tahu duduk permasalahannya terlihat cengo dengan situasi di depannya itu.
"Mas, sudah Mas, duduk lagi saja, "cletuk Kanaya menarik - narik ujung kemeja Jacob.
Namun karena sang pria yang tengah diliputi amarah, terlihat acuh akan permintaan wanita itu.
Sedangkan Mark tampak santai dan tersenyum sinis pada kakak yang dulu sangat ia segani. Mark perlahan menuruni anak tangga untuk mendekati semua orang yang ada disana.
"Apa maksud dari perkataan kurang ajarmu, Mark, "desis Jacob.
"Apa lagi, apa perlu Aku ulang kalimatku lagi Kak. Baiklah karena Aku yang baik hati ini maka Aku ulangi lagi...Aku bilang kalau Kakak tidak bisa jaga Kanaya lebih baik ceraikan saja dia Kak, Kanaya terlalu mulia untuk bersanding bersama Kakak, "ucap Mark panjang lebar.
Jacob mengepalkan tangannya sangat kuat hingga urat berwarna hijau terlihat jelas karena kuatnya kepalan tangan tersebut.
"Mark, apa yang kamu katakan, berhenti bicara omong kosong, "hardik Nyonya Selline.
Nyonya Seline juga terlihat kaget karena ulah putra keduanya yang terang-terangan meminta Jacob menceraikan Kanaya.
"Omong kosong? Aku bicara yang sebenarnya Mah, pria itu tidak pantas bersanding dengan Kanaya, dia selalu membawa Kanaya dalam bahaya dan itu tidak hanya sekali sudah kesekian kalinya Kak Jacob... "
"MARK! "bentak Tuan Garadha.
Pria yang irit bicara itu pun akhirnya mengeluarkan suaranya membuat semua orang yang ada disana diam begitu pula Mark.
"Jaga bicaramu Mark, Papah menyuruhmu kuliah ke luar negeri agar Kau bisa menjadi pelukis hebat bukan menjadi berani pada Kakakmu,"ujar Tuan Garadha.
__ADS_1
"Pah... "
"Diam Mark! Berhenti membantah Papah, sekarang juga ikut Papa ke ruang kerja Papa, "seru Tuan Garadha lalu beranjak dari sana dan diikuti Mark di belakangnya.
Mark yang berjalan meninggalkan ruang tamu itu bersama Tuan Garadha kini sudah tidak ada lagi dari pandangan mereka. Sedangkan Jacob yang sedari tadi diam dengan amarah di dadanya tiba -tiba pergi begitu saja tanpa menghiraukan panggilan Kanaya.
"Mas... Mas, Mas mau kemana? "seru Kanaya.
"Nay, lebih baik kamu susul Jacob sekarang juga. Dia pasti sangat marah, "pinta Nyonya Seline.
"Iya Mah, "ujar Kanaya lalu beranjak dari posisi duduknya.
Nyonya Seline menatap Nenek Risma dengan perasaan tidak nyaman. Pasalnya kedatangan wanita itu di kediaman Garadha untuk menyambut Kanaya justru harus mendapati drama keluarga mereka.
"Tidak apa, Saya hanya masih terkejut dengan semua ini. Dan entah mengapa merasa Kanaya juga turut andil dalam masalah ini, "ujar Nenek Risma.
"Ah tidak tidak nek, Kanaya tidak tahu apa-apa kok, "ucap Nyonya Seline merasa tidak nyaman.
Kini langkah kaki Kanaya tertuju pada satu tempat yang ia yakini Jacob tengah ada di sana.
Pintu berbahan kayu jati asli berada di depannya. Di dalam sana adalah ruang kerja yang khusus digunakan oleh Jacob seorang.
Kanaya mengetuk pintu itu berulang kali dan juga memanggil Jacob.
"Mas... Mas ada di dalam kan? Ini Kanaya Mas, Naya boleh masuk ya, "ujar wanita itu.
Masih tidak ada sautan dari dalam sana. Merasa percuma jika harus menunggu pintu itu dibuka oleh Jacob. Kanaya memutuskan untuk membukanya sendiri.
Dengan sedikit ragu tangan Kanaya terulur untuk memegang gagang pintu itu dan juga memutarnya pelan.
"Dikunci, "gumam Kanaya dengan menhembuskan nafas panjangnya.
__ADS_1
Ia kembali mengetuk pintu nya dan memanggil Jacob seperti di awal.
"Naya tunggu di depan sini ya, Naya tahu Mas masih ada di dalam sana. Naya cuma minta Mas jangan berbuat sesuatu yang bisa melukai tubuh Mas, karena itu akan buat Naya takut dan sedih, "ucap Kanaya sembari menempelkan kening pada daun pintu itu.
Usai mengatakan itu, Kanaya mendudukan dirinya pada dinding yang terletak disamping pintu tersebut sesuai apa yang ia katakan pada Jacob.
Sementara itu di dalam ruangan tersebut, Jacob yang hendak melempar miniatur menara pizza itu urung dilakukannya.
Permintaan Kanaya untuk ia tak melukai tubuh dan menahan amarahnya berhasil menghentikan kegilaan Jacob.
Ia luruh di atas lantai dengan wajah frustasinya. Tatapan pria itu kosong dan wajahnya tampang sangat kusut.
Kata - kata Mark, nyatanya cukup membuat Jacob tak tenang dan memunculkan gejala stressnya.
Dia mendongak menatap langit-langit kamarnya dan mulai mengingat-ingat awal mula ia hadir dalam hidup Kanaya.
"Apa iya Aku penyebab setiap dia dalam bahaya dan terluka, "gumam Jacob.
"Apa jika Aku dan dia berpisah maka Kanaya akan hidup lebih baik lagi, "gumamnya lagi.
***
TBC
Author : Mas Jac, jangan gitu lah. Kasihan Neng Naya. tanggungjawab lah Mas Jac.
Jacob: Othor, ini Saya dibuat stress sama situ. Jadi yang seharusnya tanggung jawab itu Otor loh.
Author: Aku ya? Tapi kenapa Mas Jac mau aja jadi stress?
Jacob: Author... mau pilih kuburan apa rumah sakit nih (tangan terkepal siap mukul)
__ADS_1
Author: Wkwkwkwk, iya deh bercanda