
"Kamu yakin ingin melakukan semua ini? Jangan gegabah, "ucap Tuan Garadha.
Jacob menghela nafasnya panjang. Dia juga tidak ingin berpisah dengan Kanaya. Namun dia disana tidaklah sebentar.
Dan lagi ia masih merasa jika dia adalah penyebab segala penderitaan dalam hidup Kanaya.
"Iya Pa,"ucapnya.
"Apa tidak sebaiknya Kamu menemui Kanaya lebih dulu dan bicarakan dengan baik-baik, "ucap Tuan Garadha.
"Tidak Pah, Jacob takut tidak bisa mengontrol diri jika berhadapan dengan Kanaya langsung, "balas Jacob.
Tuan Garadha meraih map yang diberikan sang putra sulung itu. Sebuah map berisi surat cerai yang telah pria itu tanda tangani dan hanya menunggu tanda tangan dari Kanaya saja.
"Baiklah, Papa akan memberikannya besok saat Kanaya keluar dari rumah sakit, "ucap Tuan Garadha.
"Terima kasih Pa, Jacob kembali ke kamar dulu, "ucap Jacob lalu beranjak dari hadapan Tuan Garadha dan melangkah keluar ruangan belajar milik pria paru baya itu.
Ya, setelah ini Jacob akan ke Amerika. Dia ingin mengobati IED-nya dengan dokter spesialis disana.
Kurun waktu yang tidak tahu kapan berakhir masa pengobatannya itu, membuat Jacob memilih untuk melepaskan Kanaya.
Jacob ingin Kanaya mendapatkan sosok pria yang jauh lebih baik darinya.
Itulah pikiran dari sisi Jacob, hanya saja pria itu tidak pernah berpikir akan bagaimana hidup Kanaya jika ia pergi dari sisi gadis itu.
"Jika jodoh masih terhubung, Aku ingin kembali dalam versi lebih baik lagi,"gumam Jacob.
Pria itu berjalan dengan langkah kaki pelan. Tanpa sengaja dia juga berpapasan dengan sosok Mark yang hari ini akan pergi ke Paris, Perancis.
Di belakang Mark, tampak Indri yang tengah menggeret koper besar miliki pria itu dan satu koper kecil milik Indri.
Ya, setelah perdebatan kemarin tentang persyaratan yang diajukan Mark supaya dia mau kembali ke Paris.
Entah ancaman atau tawaran seperti apa yang Indri dapatkan dari pria itu. Yang jelas keesokan harinya Indri yang tadinya menolak mentah-mentah permintaan Mark, dengan kerelaannya menghadap Tuan Garadha dan Nyonya Seline dan mengatakan jika dirinya sanggup mengikuti Mark.
"Aku kembali kalah darimu Kak,"ucap Mark tersenyum sinis.
"Tidak ada pemenang diantara kita,"saut Jacob dengan wajah datarnya.
Mark tertawa keras mendengar ucapan dari Jacob itu. Bahkan tawa keras itu cukup membuat Indri yang dibelakangnya terperanjat hingga mengelus dadanya.
"Aku sedari dulu memang harus mengalah sama kamu Kak. Papa yang selalu mendahulukan kamu, Mama yang terus memperhatikan Aneth. Setiap kita liburan Aku bahkan sering tidak dianggap akan keberadaannya. Setiap kali Papa keluar negeri, dia hanya menanyakan oleh-oleh yang diinginkan Kakak dan Aneth. Sementara Aku? Aku hanya selalu mendapat oleh-oleh yang sama dengan kamu. Padahal selera Aku bukan itu, "ucap Mark panjang lebar.
Jacob tertegun mendengar segala keluh kesah sang adik. Dia sendiri tidak pernah sadar akan hal itu. Memang Tuan Garadha terkadang lebih mendahulukan dirinya daripada kedua adik Jacob.
__ADS_1
Namun itu bukan tanpa sebab, hal itu dikarenakan IED Jacob yang sering kambuh.
"Mark... "lirih Jacob.
"Dan sekali lagi, Aku harus melepaskan Kanaya untuk kakak."
"Mark, "panggil Jacob dengan suara pelannya lagi.
"Sudahlah Kak, tidak perlu memperlihatkan wajah bersalah itu. Karena bagaimanapun hari ini Aku akan kembali ke Paris, "ucapnya.
"Aku harus berangkat hari ini, "lanjut Mark lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Jacob diikuti Indri dibelakangnya.
Jacob tampak semakin kalut dan semakin merasa bersalah. Tidak cukup rasa bersalahnya dengan Kanaya, kini dia juga harus menanggung beban rasa bersalahnya pada Mark.
"Semuanya memang karena Aku, "ucap pria itu frustasi.
Keesokan harinya, sesuai perintah dokter. Hari ini Kanaya diperbolehkan untuk keluar rumah sakit.
Tampak sosok Nenek Risma dan Nyonya Seline yang menjemput Kanaya.
"Ma... "panggil Kanaya pada wanita disampingnya itu.
Ya, Kanaya tampak heran karena sedari tadi Nyonya Seline yang biasanya banyak bicara kini lebih banyak diam.
Tidak hanya itu, Kanaya juga tampak heran karena tidak ada sosok Jacob yang menjemputnya.
"I-iya ada apa Nay? "tanya Nyonya Seline.
Nyonya Seline terlihat cukup terkejut karena panggilan Kanaya dan sentuhan lembut yang Kanaya lakukan di bahunya.
"Mama ada masalah? Apa ini ada hubungannya dengan Mas Jacob Ma? "
Nyonya Seline menatap manik indah Kanaya, wanita cantik yang berstatus menantunya namun sebentar lagi akan menjadi mantan menantu karena gugatan cerai dari sang putra.
"Kita bicarakan masalah ini kalau sudah sampai di kediaman Garadha ya, Nay, "ucap Nyonya Seline.
"Iya Mah, "ucap Kanaya pasrah.
Mobil itu terus melaju membela jalanan metropolitan. Selama perjalanan suasana di dalam mobil itu begitu hening. Karena semua orang sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sampai beberapa menit kemudian, mobil itu telah sampai di depan kediaman Garadha.
"Pak tolong bawakan barang di dalam ke kediaman Garadha ya, "titah Nyonya Seline pada sang supir.
Maksud barang-barang itu adalah, semua yang dibawa dari rumah sakit. Seperti pakaian Kanaya dan lainnya.
__ADS_1
"Baik Nyah, "saut supir itu seraya membuka bagasi mobil.
Kanaya berjalan pelan dengan bantuan Nenek Risma dan Nyonya Seline yang membinbingnya.
Tidak ada kursi roda, karena Kanaya menolak keras akan saran yang diberikan Nyonya Seline.
Wanita cantik itu berpikir jika dirinya masih sanggup berjalan.
Sesampainya di dalam kediaman Garadha, tampak pria parubaya yang selalu karismatik duduk tenang di ruang tamu menanti kedatangan mereka.
"Pa..."panggil Kanaya.
"Ma, antar Kanaya ke kamar Jacob. Nanti Papa menyusul, "ucap Tuan Garadha namun netranya tetap fokus menatap sosok Kanaya.
"Iya Pa, "saut Nyonya Seline.
"Nek Risma, sepertinya Anda cukup lelah. Biar pelayan saya mengantarkan Anda ke kamar tamu lebih dulu untuk beristirahat,"ucap Nyonya Seline pada Nenek Risma yang ada disamping Kanaya.
"Maaf jika merepotkan, "celetuk Nenek Risma dengan senyuman canggungnya.
"Tidak sama sekali Nek. Ida tolonf kamu antarkan Nenek Risma ke kamar tamu, "balas Nyonya Seline lalu memerintahkan seorang pelayan yang dipanggilnya, Ida.
Kanaya tampak sangat heran. Lipatan keningnya terlihat sangat jelas jika wanita itu tengah dipenuhi segudang tanda tanya.
Pertanyaan kenapa semua orang tampak serius juga sedih? pertanyaan tentang dimana suaminya yang hingga kini tidak keluar batang hidungnya? Serta banyak pertanyaan lainnya.
"Kamu berbaring dulu ya Nay, "ucap Nyonya Seline seraya merapikan selimut di atas tubuh Kanaya.
Terlihat dari pintu kamar, sosok Tuan Garadha berjalan masuk ke dalam kamar milik Jacob itu.
"Pa... Ma, sebenarnya ada apa?"tanya Kanaya dengan mimik muka serius.
Nyonya Seline menatap sang suami dengan gelengannya. Dia tidak ingin suaminya itu memberi kabar akan gugatan cerai putra pertama mereka pada Kanaya.
"Lebih cepat dia tahu lebih baik Ma, "ujar Tuan Garadha.
Nyonya Seline pasrah, dan dia hanya bisa menundukkan kepalanya serta ekor mata menatap sendu Kanaya.
"Pa, Ma. Jangan buat Kanaya ketakutan seperti ini, "ujarnya.
"Nay, lebih baik kamu baca ini saja. Kami tidaj tahu harus memulainya dari mana untuk menjelaskannya, "ujar Tuan Jacob seraya mengulurkan map berisi surat gugatan cerai itu.
Kanaya gegas meraih map itu, lalu membukanya dan membaca dengan seksama.
"Ma, Pa? I-ini apa m-maksudnya... "lirih Kanaya dengan raut muka sangat terkejutnya.
__ADS_1
***