ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
Bab 97


__ADS_3

"Ada apa Mas?"


Wanita cantik yang tengah menyisir surai indahnya yang berwarna pirang itu terlihat menatap Jacob dari balik cermin hiasnya.


Jacob terus menatapnya sedari tadi membuat Kanaya heran. Ia meletakkan sisir itu di atas meja rias berkumpul dengan perlatan kecantikan lainnya. Kemudian dia beranjak dari posisinya dan menghampiri Jacob.


"Apa ada yang ingin Mas katakan?"tanya nya.


"Ada undangan pesta dari Tuan Felix, kolega bisnis kantor,"ucapnya untuk mengawali segalanya.


"Iya, lalu?"


Jacob membuka layar ponselnya lalu memperlihatkan sebuah undangan pesta yang dikhususkan untuk dirinya dan pasangan.


"Mas mau kesana? Nggak apa-apa kok Mas, hadir saja,"ujar Kanaya.


"Itu undangan berpasangan, dan pastinya Aku juga harus sama kamu, Pasangan Saya Nay. Tapi..."


Sudut bibir Kanaya terangkat. Dia tahu arah pembicaraan sang suami. Pria itu pasti mengkhawatirkan dirinya jika harus ikut serta dalam acara yang belum pernah Kanaya hadiri serta kekhawatiran Jacob perihal dirinya yang tengah hamil muda.


"Aku ikut Mas, disana kan ada kamu yang pasti jagain Aku,"ucap Kanaya.


"Tapi, kamu sedang hamil muda Nay. Aku khawatir dengan kondisi kamu dan Baby."


"Aku dan Baby akan baik-baik saja, selama Daddy-nya terus berada disisi Aku Mas. Jadi, besok malam Mas hadir saja, Aku ikut kok."


Jacob mengikis jarak antara dirinya dan Kanaya lalu memeluk sayang wanita cantik bermata abu-abu itu.


"Tidak akan lama, setelah mengucapkan selamat pada Tuan Felix, kita langsung meninggalkan pesta,"ujar Jacob.


"Iya Mas."


***


Keesokan harinya, sesuai agenda yang telah Jacob katakan jika malam harinya akan menghadiri pesta Tuan Felix.


Dari sore hari, pria itu telah mengirimkan dua orang wanita yang bertugas untuk membawakan pakaian yang akan Kanaya gunakan, sedangkan untuk riasan. Kanaya dengan halus menolaknya dan mengatakan akan berhias sendiri. Beruntungnya Jacob bisa mengerti.


"Mas, ini Naya langsung siap-siap ya?"tanya Kanaya dibalik panggilan yang tengah wanita itu lakukan.


"Iya, nanti Mas pulang buat jemput Kamu dan kita langsung berangkat ke pesta,"ucap Jacob.


"Kalau gitu, hati-hati di jalan Mas."


"Iya Naya Sayang."


Panggilan berakhir dengan ucapan salam dari Jacob untuk istri cantiknya.


Usai panggilan bersama Jacob, Kanaya melanjutkan niatannya untuk bersiap-siap. Dengan gamis panjang berwarna putih tulang serta cadar dan kerudung yang sesuai.

__ADS_1


Tidak perlu riasan tebal pada wajahnya. Bukan karena alasan telah memakai cadar semata. Namun memang dasarnya Kanaya sudah cantik tanpa balutan make up.


Beberapa saat kemudian, suara deru mobil terdengar dari luar mansion. Kanaya yang telah siap melangkah keluar menyambut sang suami.


"Mas,"panggilnya seraya mengambil tangan Jacob dan mencium punggung tangan pria itu.


Sebuah kecupan Jacob berikan pada kening sang istri membuat bulu mata lentik Kanaya bergerak-gerak dengan sangat menggemaskan.


Andai saja tidak ada agenda pesta, sudah tentu Jacob lebih memilih untuk mengurung sang istri. Karena meskipun tertutup cadar, rasanya tidak bisa menghapus kesan cantik wajahnya.


"Kamu sudah siap, Nay?"tanya pria itu diangguki Kanaya.


"Mas, Naya deg-degan sekali. Ini untuk pertama kalinya Naya hadir di acara pesta, Naya takut..."


"Shuuut, bukannya ada Daddy-nya Baby. Kenapa kamu harus takut,"ucap Jacob sukses membuat Kanaya tersipu dan hilang rasa khawatir di hatinya.


Jacob membimbing sang istri untuk masuk dan duduk di kursi kiri kemudi. Tidak lupa, Jacob juga memasangkan sabuk pengaman untuk sang istri. Baru setelah itu, Jacob memutari body mobil dan duduk di kursi kemudi.


Tidak ada Riko yang biasanya selalu ada menemani Jacob. Karena pria itu mendapat tugas untuk menghandle pekerjaan Jacob yang tinggal sedikit. Baru setelah itu, Riko akan menyusul.


"Ingat selama disana, Kamu jangan jauh-jauh dari Saya Nay. Sejengkal pun tidak Saya perbolehkan,"titah Jacob posesif.


"Iya Mas, posesif sekali Suaminya Kanaya ini sih,"balas Kanaya dengan kekehan kecilnya.


"Semuanya demi kamu dan baby Nay,"ucap Jacob.


Tiga puluh menit kemudian, mereka telah sampai di sebuah hotel bintang lima yang menjadi tempat pesta milik Felix.


Dengan sigap, Jacob mengapit tangan Kanaya pada lengan tangannya dan melangkah pelan memasuki ballroom hotel tersebut.


Satu langkah pada pintu ballroom, suasan sudah berubah. Gaya ala modern menjadi pilihan pesta tersebut.


Kening Jacob mengernyit saat melihat beberapa tamu yang hadir tidak semuanya berpasangan. Rasa curiga sempat menghampirinya sebelum sosok Septian datang dan menawarkan dirinya untuk menduduki kursi yang telah disediakan untuk Jacob dan Kanaya.


"Tuan Jacob silahkan kemari,"ucap Septian.


Jacob tentu saja sedikit mengingat sosok Septian, karena pria itu sebelumnya pernah bertemu dengan dirinya.


"Silahkan duduk, pesta akan segera dimulai Tuan,"lanjut Septian.


"Hem,"balas Jacob dengan deheman.


Sebelum dirinya duduk, Jacob lebih dulu menarik kursi untuk Kanaya baru setelah itu menarik kursi untuk dirinya sendiri.


Sementara Kanaya, sedari pertama kali kakinya menginjak ballroom dia mendadak menjadi diam seribu bahasa karena banyak netra yang berpusat pada dirinya.


"Naya, kamu baik-baik saja?"tanya Jacob.


"I-iya Mas,"gagap Kanaya.

__ADS_1


Jacob mengedarkan pandangannya lalu mendadak tatapan pria itu berubah dingin saat melihat banyaknya tamu yang menatap Kanaya penuh tanda tanya. Dan tatapan dingin Jacob itu berhasil menghentikan aksi mereka.


"Mau minum hem?"tanya Jacob mencoba mengalihkan atensi Kanaya agar nyaman di pesta tersebut.


"Boleh Mas,"balas Kanaya.


Jacob mengangkat jarinya memanggil pelayan yang sedari tadi berkeliling menghampiri setiap meja dengan nampan berisi minuman di tangannya.


Pelayan itu mendekat, lalu Jacob meminta dua gelas jus untuk dirinya dan Kanaya.


"Terima kasih,"ucap Kanaya pada pelayan tersebut.


"S-sama - sama,"gagap pelayan itu.


Seorang MC telah berdiri di depan panggung kecil untuk membuka acara pesta tersebut. Lalu setelah itu sosok Felix muncul dari samping dan berdiri di tengah.


Suara tepuk tangan menggema menyambut sosok Felix yang sudah lama berada di luar negeri.


"AMT Group adalah perusahaan yang memiliki jaringan sampai di luar negeri. Dan Saya selaku CEO AMT Group menyatakan akan memberikan perubahan dunia bisnis di negeri ini, AMT Group juga memberi peluang untuk perusahaan kecil maupun yang besar untuk bekerja sama,"ucap Felix.


Suara tepuk tangan para tamu semakin terdengar meriah usai Felix mengatakan peluang bekerja sama dengan perusahaannya.


"Ini kesempatan emas yang tidak bisa kita lewati begitu saja,"celetuk seorang tamu menanggapi ucapan Felix tersebut.


"Dan untuk kalian semua, silahkan nikmati pesta ini,"lanjut Felix di akhir sambutannya.


Pria itu menuruni podium dan menghampiri para koleganya.


"Kita menemui Tuan Felix sebentar ya Nay, setelah itu pamit meninggalkan pesta,"ujar Jacob.


"Iya Mas,"balas Kanaya.


Keduanya beranjak dari kursi mereka untuk mendekati Felix.


Lampu secara tiba-tiba mati. Suasana pesta mendadak gelap gulita, gasak-gusuk para tamu pun mulai terdengar di dalam pesta tersebut. Tidak hanya itu suara alarm bahaya juga terdengar membuat para tamu pesta menjadi kocar-kacir.


"Nay...Naya! Jangan lepaskan pegangan tangan Saya,"seru Jacob seraya memegang tangan sosok yang ia pikir adalah Kanaya.


Petugas keamanan dengan senter besar memasuki area pesta lalu mulai menertibkan seluruh tamu agar keluar dari ballroom tersebut.


Begitu juga dengan Jacob, di tengah-tengah kekacauan dan minimnya cahaya. Pria itu berusaha memegang tangan yang dia pikir Kanaya dengan sangat erat dan berjalan sesuai arahan petugas keamanan.


"Syukurlah, kita bisa keluar,"celetuk Jacob dengan nafas leganya.


"Te-terima kasih Tuan,"ujar sosok bergaun putih yang tangannya masih dalam genggaman Jacob.


"Kamu bukan Kanaya? Lalu dimana Kanayaku?"


***

__ADS_1


__ADS_2