
Beberapa hari kemudian. Setelah perihal masalah Felix yang telah selesai serta pria itu juga telah pergi meninggalkan Indonsia. Kini kehidupan Jacob dan Kanaya semakin harmonis saja.
Seperti malam ini, dimansion milik Jacob. Tampak Jacob dan Riko tengah bergulat dengan segala peralatan dapur.
Keadaan dapur mansion telah sangat kacau karena ulah kedua pria yang sama-sama tidak paham perdapuran itu dan hanya mengandalkan tutorial Youtube saja.
Para pelayan sendiri hanya bisa bersembunyi menatap dapur was-was, karena mereka telah mendapat peringatan dari Jacob agar tidak mendekati area tersebut sebelum dirinya selesai disana.
"Mas!"
Jacob yang tengah berada di dapur menjengit kaget karena teriakan Kanaya. Pria itu segera melepaskan spatula begitu saja dari tangannya lalu pergi menghampiri Kanaya. Sebelum itu, Jacob menyempatkan diri meminta Riko menjaga masakannya.
"Rik, ingat jangan sampai gosong,"ucapnya meninggalkan sang asisten yang tampak kebingungan itu.
Riko menatap spatula yang kini ada ditangannya. Di jam ini seharusnya ia beristirahat, tetapi kini ia justru harus mendatangi mansion pribadi Jacob karena permintaan Tuannya itu.
Siapa sangka, peringatan urgent yang Jacob katakan padanya saat meminta Riko datang adalah sebuah ajakan agar Riko turut merasakan bagaimana kesusahan seorang Jacob dalam menghadapi ngidamnya Kanaya.
Dengan berbekal instingnya. Riko menyajikan makanan yang telah Jacob buat di atas piring tersebut.
"Pengaruh Nona Kanaya, memang tidak main,"gumam Riko.
Sementara itu di ruang TV, tampak Jacob yang telah berada di sisi Kanaya pun berkata.
"Ada apa Naya Sayang? Kenapa kamu berteriak,"tanya Jacob khawatir.
Kanaya mendongak menatap suaminya yang tampak begitu kacau karena ulahnya.
Beberapa waktu yang lalu, Kanaya telah berbuat ulah pada suami tercintanya itu. Dimana Kanaya yang menyuruh Jacob untuk menguasai dapur dengan membuat makanan kesukaannya, tumis kangkung dengan ikan asin.
Hanya sebuah makanan dari desa yang Kanaya inginkan, karena tiba-tiba rasa rindu muncul begitu saja dari hati Kanaya untuk desa dimana ia dilahirkan itu.
"Mas, kamu kenapa?"tanya Kanaya dengan wajah tanpa dosanya.
Helaan nafas Jacob terhempas begitu saja. Lihatlah betapa wajah cantik sang istri itu bertanya dengan tanpa dosanya tentang apa yang terjadi pada Jacob. Padahal sudah jelas Kanayalah sebab Jacob yang seumur-umur tidak pernah menginjakkan kakinya di area dapur harus rela melakukannya demi sang istri.
"Naya Sayang, kamu tidak lupa kan dengan apa yang Kamu minta Mas lakukan,"ucap Jacob dengan bahu meluruhnya.
Bulu mata lentik Kanaya mengerjap dengan indah, dan hal itu cukup membuat seorang Jacob was-was.
Dia tidak ingin makanan yang sudah susah payah ia buat hingga membuat cipratan minyak panas mengenai tangannya sia-sia karena Kanaya yang tidak mengingat akan permintaannya.
__ADS_1
"Ah iya, hampir saja Aku lupa mas. Kamu sudah membuatnya kan?"tanya Kanaya.
Senyuman lebar Jacob terbit secerah mentari di pagi hari. Segera pria itu meminta Kanaya untuk menunggunya sebentar karena Jacob harus ke dapur kembali untuk mengambil makanan yang telah ia buat dengan susah payah.
"Sebentar, Naya Sayang. Mas ambil dulu, sebentar ya,"ujar Jacob lalu berlari meninggalkan Kanaya yang menatap pria itu heran.
Jacob yang begitu senang karena Kanaya meminta mahakarya miliknya itu tampak berlari dengan riang.
Sayangnya pria yang tengah berbunga-bunga itu harus mengalami nasib naas. Pria itu tergelincir karena cipratan minyak pada lantai dapur disana.
"Woooah!"
Bruk.
"Tuan Muda Pertama,"seru pelayan meringis menatap Jacob yang jatuh telungkup di atas kerasnya lantai.
Namun para pelayan itu segera membalik tubuhnya ketika Riko memberi peringatan dengan spatulanya pada para pelayan-pelayan itu.
"Apa yang kalian lihat,"tegur Jacob menahan rasa malunya.
"Tidak Tuan Muda Pertama, kami fokus dengan pekerjaan kami,"ujar mereka.
Riko melepas apron pada tubuhnya mendekati Jacob dengan sepiring makanan di tangannya.
Jacob yang tadinya tengah emosi pun seketika pandangannya melembut. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Jacob mengambil alih sepiring makanan yang telah ia buat lengkap dengan jus di dalam gelas.
"Malam ini, menginaplah disini,"pesan Jacob sebelum meninggalkan Riko.
"Baik Tuan,"balas Riko dengan anggukan kepalanya.
Setelah kepergian Jacob, Riko menatap para pelayan yang tadi menjadi saksi jatuhnya seorang Jacob.
"Bereskan dapur, dan ingat jangan pernah ada yang membahas perihal peristiwa tadi,"ucap Riko dengan suara tegasnya.
Suara tegas yang selalu membuat lawan bicaranya tunduk pada perintahnya.
"Baik Tuan Riko,"balas para pelayan itu kompak.
Setelah memberi perintah pada para pelayan tersebut. Riko melangkah meninggalkan mereka menuju sebuah kamar yang memang telah Jacob sediakan khusus untuk dirinya.
Kini Riko tahu, sebab dulu Jacob memesankan sebuah kamar yang katanya dikhususkan untuk dirinya ternyata agar Riko selalu siap sedia kala Jacob membutuhkannya walau diluar jam kantor.
__ADS_1
Sementara disisi lain, terlihat Jacob tengah menatap Kanaya lamat. Pria itu tidak sabar menunggu respon sang istri akan masakan yang dibuatnya untuk pertama kala seumur dia hidup.
"Ini sebenarnya sangat asin, lidahku juga merasah keluh karenanya. Tapi, Aku tidak bisa berhenti, Aku benar-benar ingin terus melahapnya,"batin Kanaya.
Kanaya terus mengambil suapan demi suapan lainnya dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Wanita itu terkesan sangat lahap dan begitu menikmati makanan tersebut, membuat Jacob lega juga ada rasa penasaran menggelitiknya.
"Apa seenak itu, Naya Sayang? Boleh Mas coba,"ucapnya penasaran.
Jika memang masakannya benar lezat. Jacob akan sangat senang karenanya, dia akan merasa menjadi suami dan calon ayah yang begitu hebat karena berhasil menciptakan makanan lezat.
"Mas mau?"tanya Kanaya membalas tatapan Jacob.
Jacob mengangguk yakin, dia juga merasa penasaran dengan masakannya sendiri.
"Coba buka mulutnya, Naya yang suapin Mas,"ucap Kanaya menyodorkan satu sendok berisi makanan pada mulut Jacob.
Dengan senang hati, Jacob membuka mulutnya bersiap menerima suapan dari sang istri.
Bola mata Jacob melebar sempurna, pria itu gegas bangkit lalu lari menuju kamar mandi. Jacob memuntahkan makanan yang telah masuk ke dalam mulutnya.
"Ini asin dan bahkan hampir pahit,"maki Jacob.
Setelah membasuh mulutnya, Jacob kembali berlari ke arah Kanaya. Dia harus menyingkirkan Kanaya dari makanan yang tidak layak itu.
Ya, tidak layak karena rasanya terlampau asin itu.
"Jangan makan lagi, Naya. Ini sangat asin,"ucap Jacob mengambil alih piring tersebut.
"Mas, Naya suka. Baby dalam perut Naya juga suka. Jangan ambil piringnya,"rengek Kanaya dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak Naya, anak kita akan keracunan jika memakan makanan asin ini,"kekeuh Jacob.
Bibir Kanaya turun, genangan air mata semakin mengembun pada kelopak matanya pertanda wanita cantik itu akan menangis jika Jacob tidak menurutinya.
"Naya mau makanannya, Mas. Tolong jangan diambil,"ucapnya dengan isak tangis.
"Aduh, iya iya. Kamu bisa makan kok,"ucap Jacob akhirnya pasrah.
Ajaibnya, setelah piring itu kembali di tangan Kanaya. Wanita itu berhenti menangis dan kembali fokus dengan menyantap makanan tersebut.
Jacob meringis ngeri, istri cantiknya tampak sangat menikmati makanan asin ciptaan dirinya itu. Padahal Jacob yang hanya mencecapi sedikit saja sudah terasa keluh lidahnya. Tetapi Kanaya justru menikmatinya hingga seluruh isi piring itu tandas tak bersisa.
__ADS_1
"Sepertinya, Aku harus kursus masak. Agar Kanaya tidak makan, makanan beracun seperti tadi,"gumam Jacob.