
"Huwaaa..."
Jacob menggaruk kepalanya saat melihat Aneth yang tidak tahu malunya menangis bak anak kecil. Bahkan gadis itu tidak malu untuk berguling-guling di basement apartemen miliknya itu.
"Aduh Tuan, itu pacarnya kenapa sampai kayak gitu? kasihan, "celetuk seorang penghuni apartemen yang tidak sengaja melihat tingkah Aneth.
Pacar, yang benar saja gadis yang usianya sama seperti Kanaya itu adalah pacarnya. Kelakuannya saja sangat jauh berbeda dengan istrinya. Tapi Jacob bisa apa? Karena kini tidak hanya orang tadi yang tengah menyaksikan akting Aneth itu, beberapa penghuni lainnya pun turut berhenti lalu memojokkan pria itu.
"Dia bukan pacar Saya tapi Adik Saya, "jelas Jacob yang justru semakin menimbulkan pandangan negatif dari orang-orang itu pada Jacob.
"Sudah hentikan Aneth, kakak mau temanin Kamu ke Solo, "ucap Jacob akhirnya.
Dan setelah keputusan itu keluar dari bibir Jacob. Tangis Aneth yang nyaring itu pun berhenti. Lalu wajah gadis itu berubah sumringah.
"Tidak bisa ditarik, ayo kita berangkat, "ucap Aneth dengan senyuman lebarnya.
Gadis itu berbalik lalu mengucapkan kata maaf karena sudah mengganggu aktivitas semua orang karena tingkahnya. Setelah itu, Aneth langsung menyeret tangan Jacob dan mendorong pria itu masuk ke dalam mobilnya.
"Jalan Pak, "seru Aneth pada supir pribadinya.
"Hey! Kakak tidak bawa apa-apa, "teriak Jacob.
"Tenang Kak, Aneth sudah siapkan pakaian Kakak beserta dalemannya di koper yang ada di bagasi, "ucap Aneth dengan entengnya, bahkan gadis itu tidak merasa canggung usai mengatakan sesuatu yang bersifat pribadi walaupun itu milik kakaknya.
"Kamu ini, selalu saja menyusahkan. Padahal Kamu tahu, kakak sedang mencari kakak iparmu, "sungut Jacob.
Aneth acuh, dia hanya menghendikan bahunya seraya memasang handsets pada telinganya.
Helaan nafas terdengar dari Jacob. Ada perasaan menyesal pada pria itu katena sudah masuk dalam jebakan Aneth, padahal dia tengah fokus melakukan pencarian istrinya.
__ADS_1
"Tahu gini, tadi Aku biarkan kamu menangis, "ucap Jacob.
Sampai beberapa jam kemudian, sampailah mereka di Solo. Sebuah tempat dimana Aneth akan menghadiri fashion show karya rekannya. Sedangkan Jacob akan menjadi pengawal gadis manja itu.
"Kamar kita sebelahan ya Kak. Ini kunci kamar hotelnya, "ujar Aneth seraya memberikan sebuah kartu akses untuk sebuah president suit untuk Jacob.
Tanpa adanya niatan untuk membalas ucapan Aneth. Jacob menyambar kartu itu lalu melenggang meninggalkan Aneth beserta kopernya di depan meja resepsionis.
"Iiih kakak. Tungguin! "pekik Aneth dengan hentakan kakinya.
Aneth melihat sisi kanan dan kirinya untuk mencari orang yang bisa ia perintahkan untuk membawakan kopernya.
"Hey kamu! sini bawakan koper Saya,"perintah Aneth pada sopir pribadinya yang berdiri dengan jarak lumayan jauh darinya.
Supir itu berjalan mendekati Aneth lalu mulai menjalankan perintah gadis itu.
Sementara itu di sebuah kamar, Jacob tengah disibukkan dengan laptop dan ponselnya. Ada sedikit keberuntungan dimana tadi dia sempat membawa laptopnya yang kebetulan tengah pria itu tenteng.
"Apa kamu perlu Saya beritahu cara bekerja, Riko, "saut Jacob penuh penekanan.
"Tidak Tuan, Saya akan menyeleksi semuanya dan mencari yang benar-benar valid."
"Hem, kalau gitu terus lakukan pencarian. Pastikan juga orang kita mulai bergerak, "ucap Jacob.
"Baik Tuan. "
Tut...tut... tut.
Panggilan itu diputuskan begitu saja oleh Jacob. Dia tidak butuh informasi yang belum jelas mengenai keberadaan Kanaya, dan apa yang disampaikan Riko tadi termasuk sesuatu yang tidak ingin pria itu dengar.
__ADS_1
Ponsel mewah itu teronggok begitu saja di atas sofa, sementara Jacob memilih memfokuskan dirinya untuk menyelidiki melalui berbagai rekaman cctv, baik di rumah sakit, Vila Cendana. Jacob juga mengecek riwayat transaksi pada kartu ATM yang dulu pernah dia kasihkan pada Kanaya.
"Tidak ada transaksi sama sekali. Naya... Sebenarnya kamu ada dimana? Aku merasa kita ini dekat tapi kenapa sulit sekali untuk menemukanmu, "kesah Jacob frustasi.
Sementara itu sosok wanita yang tengah dicari Jacob itu tampak berlari tergesa-gesa.
Berita pencariannya benar-benar telah ramai diperbincangkan dan setiap stasiun televisi menayangkannya. Dan itu penyebab Kanaya yang tergesa untuk pulang ke kontrakan gadis itu.
Sesampainya di kontrakan Kanaya langsung mengunci pintu dan masuk ke dalam kamarnya. Sempat saat ia berpapasan dengan Nenek Risma membuat wanita renta itu bertanya-tanya.
Beruntung Kanaya berhasil mengelabui neneknya sehingga ia percaya.
"Sebenarnya siapa yang telah membuat berita seheboh ini? Apa ini perbuatan keluarga Garadha? Tapi kenapa baru sekarang gembar-gembornya? Tidak disaat Aku baru kabur, "gumam Kanaya.
Beruntung Kanaya saat ini mengenakan cadar, entah bagaimana jadinya jika dia tidak memakai cadar.
Pasti para penggila uang akan mengejar dirinya demi hadiah senilai dua ratus juta itu.
"Apa dia sudah kembali? Tapi dia tidak mungkin mencari diriku karena Aku tahu dia sangat ingin Aku pergi"lanjutnya lagi.
Perlahan Kanaya melepaskan cadarnya. Lalu kaki wanita itu berjalan mendekati lemari pakaian dan mencari sesuatu disana.
Sebuah cincin pernikahan yang hingga saat ini masih ia simpan. Cincin yang sempat ingin ia buang namun hatinya mendadak mencegah tindakan Kanaya saat itu.
"Kenapa sesulit ini, padahal sudah satu tahun berlalu. Kenapa juga baru mencariku disaat Aku mulai berdamai dengan masa lalu, "ucap Kanaya menatap sendu cincin tersebut.
Rasa sakit hati itu masih menggores pada hati Kanaya. Tapi entah kenapa wanita cantik itu tidak bisa melupakan sosok Jacob. Pria yang mengajarinya cara mencintai namun juga pria yang pertama menyakiti hatinya.
Entah dosa apa yang pernah ia lakukan di masa lalu sehingga kini dia terus berurutan dengan keluarga Garadha, terlebih putra sulungnya.
__ADS_1
***
TBC