
Keesokan harinya, Kanaya yang masih takut diketahui keberadaannya oleh Jacob. Karena pria itu yang ada di kota Solo, membuatnya untuk memutuskan tidak pergi ke toko.
Urusan toko, ia serahkan kepada Layla dan rekan-rekannya.
"Kamu beneran melihat Jacob, Nay? "tanya Nenek Risma di sela sarapan pagi mereka.
Sarapan pagi yang berisikan nasi putih, sayur sop dan tempe goreng itu sudah sangat terasa nikmat.
Walaupun kini keadaan Kanaya sudah dibilang mampu, namun wanita cantik bermata abu-abu itu tetap seperti dulu yang hidup dalam kesederhanaan.
"Iya Nek, Naya takut. Makanya hari ini sampai beberapa hari nanti Naya nggak bakal ke toko dulu, "ucap Kanaya.
"Kalau ke pesantren gimana Nay? Soalnya ini Nenek buat kue lapis yang niatnya mau dikasihkan sama santrinya Umi Aminah, "ujar Nenek Risma sembari menunjuk tumpukan wadah berisi kue lapis di dalamnya.
Kanaya memalingkan wajahnya menatap tumpukan wadah itu. Dia baru sadar jika disana ada kue lapis buatan Nenek Risma, mungkin karena dia yang terlalu memikirkan pertemuannya dengan Jacob sampai ia tidak memperhatikan sekitarnya.
Ke pesantren, tadinya Kanaya benar-benar ingin mengurung dirinya di kontrakan tersebut. Namun, jika membiarkan Nenek Risma yang membawanya itu tidak mungkin. Dan mau tidak mau harus Kanaya yang Mengantarkanny.
"Ya sudah, setelah sarapan ya Nek, "putus Kanaya.
Keduanya kembali melanjutkan sarapan paginya dengan khidmat. Sampai beberapa menit kemudian Kanaya yang telah selesai sarapan dan membereskan piring mereka bersiap untuk ke pesantren.
"Naya ke pesantren dulu ya Nek, Assalamualaikum, "pamitnya.
"Waalaikumsalam. "
Dengan gamis berwarna navy serta cadar berwarna senada, Kanaya berjalan menenteng dua wadah besar berisi kue lapis itu ke pesantren. Sesampainya disana, Kanaya menemui Umi Aminah lebih dulu untuk menyerahkan kue lapis tersebut.
"Terima kasih Naya, salam kan juga sama Nenek Risma ya, "ucap Umi Aminah.
"Iya Umi,"balas Kanaya.
"O iya, Umi boleh minta tolong sama kamu untuk bantuin para santri nyiapin acara hataman nanti malam nggak Nay? "tanya Umi Aminah.
"Bisa Umi, kebetulan Naya hari ini tidak ke toko kok, "jawab Kanaya senang.
Dengan membantu Umi Aminah bersama para santrinya mempersiapkan acara hataman nanti malam, tentu saja cukup membuat Kanaya senang. Karena dia tidak akan merasa kebingungan jika hanya berdiam diri di kontrakan saja.
__ADS_1
Mulailah wanita bermata abu-abu itu turut berjibaku dengan para santriwati di dapur bersama umi Aminah juga.
Disaat Kanaya tengah menikmati kebersamaan dengan para santri, diam-diam ada sepasang mata yang terus menatapnya dengan tatapan memuja.
"Ehem, "dehem Umi Aminah.
Sadar jika dirinya telah ketahuan tengah memperhatikan Kanaya, Gus Yusuf gegas memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Jangan cuma diliatin saja Nak, jika suka maka tunjukkan niat baikmu sama Kanaya dan Neneknya,"ucap Umi Aminah.
Gus Yusuf terbelalak, dia tidak salah dengar bukan? Jika uminya telah memberi lampu hijau untuk ia meminang sosok bidadari bercadar di depannya itu.
"Apa Umi ridho?"tanya Gus Yusuf yang mendapat anggukan dari Umi Aminah.
"Umi ridlo, Usia kamu sudah cukup, kesiapan lahir dan batin juga sudah kamu miliki. Dan Kanaya adalah sosok yang memang pantas untuk kamu jadikan istri, "ujar Umi Aminah.
Senang, tentu saja perasaan itu sangat membuncah pada dada Gus Yusuf. Karena rasa senangnya itu, sampai membuat Gus Yusuf menciumi punggung tangan dan telapak tangan Umi Aminah berulang kali.
"Jika Umi berkenan besok sore apakah bisa menemani Saya meminang Kanaya, Umi? "tanya Gus Yusuf.
Memang dasarnya hati sudah tertambat pada bidadari bercadar itu (Kanaya), sampai membuat Gus Yusuf tidak bisa menahan diri lebih lama lagi untuk tidak segera meminang Kanaya saat ia telah mendapat restu dari Umi Aminah.
"Baik Umi, sekarang Saya langsung menemui Abi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam wr. wb. "
Umi Aminah tersenyum kecil melihat bagaimana Gus Yusuf yang sangat senang dan antusias untuk meminang Kanaya itu. Walaupun mereka dalam keluarga kiayi, dan beberapa biasanya melakukan perjodohan. Namun bagi Umi Aminah itu tidak berlaku. Tidak ada perjodohan untuk Gus Yusuf, jikapun putranya itu memiliki hati pada seorang perempuan maka Umi Aminah akan memintanya untuk menjadikan sebagai istri dengan melihat bagaimana juga sikap dan akhlak dari wanita tersebut.
Sementara disisi lain, Jacob dan yang baru saja sampai di Jakarta dan setelah mengantarkan Aneth ke kediaman Garadha kini pria itu telah berada di depan apartemennya.
Ya, walaupun ia mengantarkan Aneth ke kediaman Garadha. Jacob sama sekali tidak masuk dan gegas menuju apartemennya.
Jacob yang baru saja memarkirkan mobilnya kini sudah disambut dengan Riko yang menghadang pria itu agar tidak lanjut menuju unitnya.
Asisten Jacob itu telah melakukan olahraga yang begitu menguras tenaganya. Dia yang telah mendapat kabar keberadan Kanaya mencoba menghubungi Jacob, namun sialnya ponsel Jacob justru mati.
Dan hal itu yang membuatnya harus bergagas menuju apartemen pria itu.
__ADS_1
"Tuan, Saya membawa seseorang yang tahu keberadaan Nona Kanaya, "ucap Riko.
Seseorang yang sedari tadi berada di belakang punggung Riko pun muncul, seorang wanita bertubuh tambun dengan dandanan ala keibuan itu pun berseru.
"Saya tahu tuan, Saya sering melihat Nona Kanaya, "ujar wanita itu.
"Dimana dia? katakan! "tegas Jacob.
"Solo, Nona tinggal di Solo. Dia mempunyai toko pakaian, saya pelanggang setia tokonya, "jelas wanita itu.
"Kamu yakin? "tanya Jacob sembari menatap tajam wanita bertubuh tambun itu.
"Saya sangat yakin, Tuan, "ujar wanita itu balas menatap Jacob agar pria itu percaya padanya.
"Kita ke Solo, "seru Jacob seraya masuk kembali ke dalam mobilnya.
Riko tentu saja terkejut akan keputusan pria itu, pasalnya Jacob baru saja tiba di Jakarta dari Solo. Kini pria itu hendak kembali ke kota Solo.
Perjalanan dua kota itu tidaklah sebentar, dan tentunya Jacob tengah dalam fase kelelahan.
"Tuan Muda Pertama, Anda baru saja dari Kota Solo. Apa sebaiknya kita tunda hingga esok. Agar Anda bisa istirahat sejenak, "ucap Riko.
"Saya tidak bisa menunggu lebih lama lagi,"balasnya.
Melihat Tuannya yang tidak bisa diganggu gugat akan keputusan kembali ke Solo. Pada akhirnya, Riko memutuskan untuk ikut dan juga wanita yang tadi memberi informasi tentang keberadaan Kanaya tentu saja ikut serta bersama mereka.
Perjalanan ke kembali ke kota Solo pun mereka lakukan lagi. Besar harapan Jacob akan bisa bertemu dengan Kanaya disana.
"Aku kira kemarin hanya firasatku saja, ternyata kamu memang ada disana, Nay. Tunggu Aku, "batin Jacob.
Selama perjalanan ke Solo, sekalipun mereka tidak melakukan pemberhentian. Jika Riko lelah maka mereka mengubah posisi untuk bergantian menyetir, begitu pula sebaliknya.
Hal itu atas perintah Jacob yang tidak ingin lebih lama untuk bisa menemukan Kanayanya.
"Setelah bertemu, Aku tidak akan melepaskanmu lagi, Naya! "
***
__ADS_1
TBC