ISTRI CANTIK TUAN JACOB

ISTRI CANTIK TUAN JACOB
BAB 57


__ADS_3

Di meja makan terlihat Tuan Garadha, Nyonya Seline, dan Mark telah duduk di kursi masing-masing. Tetapi ketiganya belum juga memulai sarapan di pagi hari ini dikarenakan masih menunggu Jacob dan Kanaya.


Sampai kedua orang yang ditunggu-tunggu akhirnya terlihat tengah menuruni anak tangga dengan Jacob yang menuntun Kanaya.


"Selamat pagi Ma, Pa,"sapa Kanaya.


"Pagi Sayang, ayo sini,"ajak Mama Seline.


Mark memalingkan wajahnya kal melihat Jacob yang tengah menggenggam erat tangan Kanaya dengan langkah kaki mendekati meja makan.


Hatinya masih tak rela namun di depan kedua orang tuanya dia harus bersikap biasa.


"Maaf ya Pah, Mah sudah membuat kalian menunggu, "ujar Kanaya merasa tidak enak saat melihat dari ketiga orang itu belum ada yang menyentuh makanan sama sekali.


"Tidak apa kok Nay, kami memang sengaja nungguin kalian."ujar Nyonya Seline.


Jacob menarik kursi lalu mempersilakan Kanaya duduk disana, setelah itu dia menarik kursi persis di samping wanita itu untuk dirinya sendiri.


Acara sarapan pagi itu pun di mulai, Jacob yang dengan misi ingin berubah dan lebih memperhatikan Kanaya terlihat mulai menyajikan makanan untuk wanita itu walaupun Kanaya berulang kali menolaknya.


"Mas, biar Naya sendiri saja ya,"pinta wanita itu.


"Jangan menolaknya Nay, Aku sedang berusaha menjadi suami yang baik, "jawab Jacob.


"Cih, "decih Mark pelan melihat pemandangan tak mengenakan di depannya.


Jacob tahu akan sorot mata penuh amarah dan tidak suka dari adiknya itu. Namun dia memilih abai karena tekadnya sudah bulat untuk mempertahankan Kanaya.


Jacob menyendok lauk dengan bahan utama udang dan akan memberikannya pada piring Kanaya. Pria itu pikir jika istrinya menyukai lauk itu karena di lidahnya sangat lezat.


tak!


"Mark, "seru Jacob dengan nada tinggi kala tangannya ditampik keras oleh adiknya itu.


Mark yang baru saja menampik sendok berisi udang tersebut membuat beberapa udang berceceran di atas meja dan lantai. Terlihat pria itu juga membalas sorot tajam Jacob padanya.


"Dia tidak suka udang dan mungkin saja dia alergi, "hardik Mark.


Semua orang menatap pria yang baru saja mengatakan akan alasan tindakannya barusan.


Sementara Jacob sendiri yang mendengar itu kini beralih menatap wajah Kanaya yang menunduk.


'Benar Nay? "tanya Jacob pelan.

__ADS_1


Kanaya mendongakkan kepalanya menatap manik hitam Jacob. Dia tengah bingung dengan kalimat seperti apa yang harus ia katakan agar pria di sampingnya itu tak sakit hati.


"Kalau sedikit nggak papa kok Mas, "cicit Kanaya.


Jacob meletakkan sendok dan piring berisi udang tersebut di atas meja dengan lemas.


Kembali lagi dia mendapatkan fakta yang memojokkan dirinya sendiri, pria lain atau lebih tepatnya disebut adiknya saja tahu akan makanan yang di sukai oleh istrinya.


Sedangkan dia sendiri tidak tahu apa-apa tentang Kanaya.


"Mas, "panggil Kanaya lirih.


Kanaya meletakkan tangannya pada tangan Jacob yang berada di atas paha pria itu lalu menggenggamnya erat.


"Tidak apa Mas, niat Mas sudah sangar baik kok, "ucapnya tersenyum.


"Ck, suami macam apa. Bahkan kesukaan dan alergi istrinya saja tidak tahu, "sindir Mark pedas.


"Mark! Fokus dengan sarapanmu, "seru Tuan Garadha.


Mark melipat bibirnya saat mendapatkan seruan dari pria yang paling di hormati di kediaman Garadha itu.


"Dan kalian, Jacob dan Kanaya lanjutkan sarapan kalian juga, "lanjutnya lagi.


Sarapan pagi yang terjeda karena insiden itupun kembali dilanjutkan. Walaupun nafsu makan Jacob terlihat benar-benar tak tersisa.


Pria itu tetap bertahan disana karena tangan Kanaya yang terus menggenggamnya sampai acara sarapan pagi mereka telah selesai.


"Nanti siang, Aku pulang. Kamu sama Baby baik-baik di sini ya, "ujar Jacob seraya mengelus perut Kanaya.


Pria itu terlihat memegang tangan Kanaya dan berhadapan dengan wanita cantik itu.


"Iya Mas,"jawab Kanaya tersenyum.


Melihat senyum cantik dan manis itu membuat sudut bibir Jacob turut terangkat. Pria itu masih berdiru menghadap Kanaya selama beberapa saat.


Sampai deheman Riko, sang asisten yang cukup keras membuat Jacob mendengus kesal.


"Ehem... ehem, Maaf Tuan Muda Pertama kita harus berangkat sekarang juga karena ada meeting pagi, "ucap Riko memperingatkan.


Jacob masih enggan beranjak dari posisinya, wajah cantik Kanaya rasanya seperti magnet yang sangat sulit untuk ia lepaskan dan terus menarik dirinya agar lengket pad wanita itu.


"Mas, sudah sana berangkat dulu, "ucap Kanaya.

__ADS_1


"Bisa tidak sih, hari ini Saya disini saja menemani kamu, "kesah Jacob.


"Maaf Tuan Muda Pertama, rapat kali ini bersama calon investor kita yang berasal dari Jepang, dan harus Anda yang menemuinya, "ucap Riko lugas.


Kanaya tekekeh kecil saat melihat wajah kesal Jacob karena peringat dari Riko itu.


"Sudah, berangkat ke kantor Mas, "ujar Kanaya seraya mendorong tubuh tegap pria itu mendekati mobil yang telah terbuka pintunya itu.


"Nanti Aku video call ya saat di jalan, saat sampai juga, ingat harus di angkat loh, "ucap Jacob yang terlihat menggemaskan itu.


"Iya iya, hati-hati di jalan Mas. Asisten Riko, silahkan bawa suami Saya itu, "perintah Kanaya.


"Baik Nona, kalau begitu permisi, "ujar Riko lalu menutup pintu dimana Jacob telah dipaksa masuk itu dan berlari memutari body mobil.


Jacob yang tak ingin ketinggalan cara terlihat membuka kaca jendela mobilnya lalu mengeluarkan kepalanya untuk melihat wajah Kanaya.


"Banyakin istirahat, kalau bisa di atas tidur terus. Aku memantau Kamu Nay, "teriak pria itu.


"Iya Mas, "saut Kanaya menggelengkan kepalanya.


Wanita itu terus berada disana dengan tangan yang ia lambaikan mengiringi kepergian Jacob ke kantor sampai mobil itu benar-benar hilang dari pandangannya.


Setelah itu Kanaya membalikkan badannya untuk masuk kembali ke dalam kediaman Garadha.


"Astaghfirullah, "pekik Kanaya kaget.


Wanita itu memegang dadanya karena rasa kaget akibat sosok Mark yang entah sejak kapan berada di belakang tubuhnya hingga saat ia berbalik secara tidak langsung berhadapan persis.


"Nay, "panggil Mark pelan.


"Maaf Mark, Aku mau kembali ke kamar, "ucap Kanaya bermaksud menghindari pria yang berstatus adik iparnya itu.


"Nay, jangan menghindar, "ucap Mark sambil mencekal pergelengan tangan wanita itu.


"Mark tolong jangan kayak gini, banyak pelayan yang akan salah paham jika melihatnya, "ucap Kanaya seraya berusaha melepaskan cekalan Mark.


Mark masih terus mencekal pergelangan tangan Kanaya itu dan melihat raut muka Kanaya yang memelas.


Barulah saat rasa tak tega menghampiri pria itu kala Kanaya tampak hampir menangis, barulah Mark melepaskannya.


Kanaya tak membuang waktu lama lagi, setelah cekalan itu lepas. Kanaya gegas mengambil langkah seribu menjauhi Mark yang terus menatap dirinya dari belakang.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2