Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
Eps 16


__ADS_3

Setelah aku merasa jauh lebih baik, aku putuskan untuk keluar menemui tuan Amar.


Karena menurutku ini sudah larut dan ibu pasti menghawatirkan aku nanti.


Aku melihat tuan Amar sedang duduk didepan ruangan dimana istrinya ditangani.


"Permisi tuan" ucapku membuyarkan lamunannya.


"Ah, Ratih. Bagaimana keadaanmu?" tanyanya seraya mempersilahkan aku duduk.


"Saya sudah merasa sehat tuan,dan saya izin mau pulang. Karena ini sudah larut takut ibu saya kawatir, karena beliau hanya berdua dengan adik saya." jelasku.


"Benarkah, lalu dimana ayahmu?" tanyanya lagi..


Pertanyaan itu membuat ku mengingat kejadian 2 pekan yang lalu.


"Ayaah.....,sudah meninggal 2 minggu yang lalu tuan. " jawab ku dengan merunduk.


Saat aku dongkak kan kepala ku,terlihat ekspresi kaget di wajah tuan Amar.


"Oh.., maaf. Aku tidak tahu" ucapnya.


" Ahh, tak apa tuan,jika begitu saya pamit pulang." ucapku.


" Saya antarkan, mari" ajaknya.

__ADS_1


Tadinya aku menolak karena ini sudah larut,tapi dia mendesak dengan alasan ingin menghantarkanku untuk ucapan terima kasihnya pada ku karena telah menolong istrinya. Mau bagaimana lagi dari pada menjadi masalah aku menerimanya.


Saat diperjalanan dia sempat bercerita, bahwa istrinya baru pulang dari Amerika.Dia pulang karena dia mendapat telvon dari putranya bahwa ia telah menemukan orang yang selama ini istri nya cari. Dan orang itu bekerja di Resto tempat aku bekerja.


Aku sempat tertegun, dan berfikir siapa ya orang itu. Ah mungkin orang lain kan di Resto aku hanya mengenal Ana dan Bagas saja.


Mobil berhenti dan aku bergegas turun dengan sebelumnya mengucap kan terima kasih. Dan yang aku tidak menyangka tuan Amar berkata bahwa jika aku dan dia bertemu aku di minta memanggilnya Ayah dan bukan dengan sebutan tuan,alasannya karena dia sudah lama menginginkan seorang anak perempuan namun tidak dikaruniai selama ini, alhasil dia ingin menganggapku seperti anak sendiri.


"Ah, Ratih. Tunggu sebentar. " Ucap Ayah maksudnya adalah Tuan Ama,saat aku membalikkan badan untuk membuka gerbang.


"Ya tuan..., eh ayah" jawabku sedikit canggung.


"Boleh saya meminta nomor ponselmu?" tanyanya dengan menyerahkan ponselnya.


"B... Boleh." jawabku dengan mengambil ponselnya dan memasukan nomor ponselku kemudian mengembalikannya setelah yakim nomorku telah tersimpan.


Aku pun membalas dengan anggukan dan senyuman. Kemudian masuk setelah mobil tuan Amar melaju menembus angin malam.


"Asallamualikum.." ucapku dengan membuka pintu.


"Waalikumsalam..." Jawab ibu


"Kenapa larut sekali pulangnya nak?" tanya ibu dengan ekspresi terpampang kekawatiran.


Akhirnya aku mengajak ibu duduk kemudian menceritakan semua nya termasuk keinginan tuan Amar yang menurutku aneh itu.

__ADS_1


Ibu memahami cerita ku dan tersenyum..


"Bersyukur lah nak, kau bertemu dengan orang yang tepat." ucap ibu yang mebuatku semakin bingung.


Saat aku akan mengutarakan niatku untuk bertanya namun ibu terburu menyuruhku istirahat dengan alasan besok harus bangun pagi agar tidak terlambat masuk kerja.


******


Pagi ini saat aku akan berangkat ke Resto.


Dert dert dert...


🎶...His coge kucepko


negasintero


nowoni thenkoceka


Saranghe nomoola


terdengar lagu dari grup band korea ( Wanna One ) yang sengaja aku pasang sebagi nada dering. Sebelum lagunya mati aku segera mengangkatnya..


"Selamat siang, dengan nona Ratih Dyah Parsla? ". Tanya seseorang dari seberang.


"Iya saya sendiri." balasku.

__ADS_1


"Maaf mengganggu waktunya, tetapi tuan Amar ingin anda menemuinya di Rumah Sakit sekarang. Ini mengenai kondisi Nyonya Dahlia selaku istri dari Tuan Amar." jelasnya.


"Baik saya akan segera kesana secepatnya" jawabku dan seseorang Itu mengucapkan terima kasih kemudian mematikan telfonnya.


__ADS_2