
"Senyum dikit napa biar kelihatan lebih cantik," Reyhan mencolek dagu sang adik yang tengah duduk di sofa ruang tengah, Sita menatap Reyhan dengan tajam mengisyaratkan untuk tidak menganggunya karena dia sangat lelah harus berpura-pura bahagia dan memasang senyuman palsu di hadapan para tamu undangan yang kebanyakan dari kalangan kerabat mertua nya, jadi harus kelihatan sopan sedikit. Acara sudah selesai, tidak terlalu besar-besaran yang sederhana saja sudah cukup meriah, ini juga usul dari Sita sendiri.
Di antara banyak orang yang bahagia menyambut pernikahannya mungkin hanya Sita yang sepanjang acara cuma cemberut doang, bahkan untuk senyum sedikit saja kayak gak minat hidup sama sekali. MUA nya sampai kewalahan untuk merias Sita karena ekspresi nya yang datar, yang paling susah sih pas dipakaiin lipstik Sita susah banget buat buka mulut, sampai dibujuk beberapa kali agar dia mau buka mulut.
Alfan berlari kecil menghampiri Sita yang kini sudah berstatus menjadi istrinya, di tangannya ia membawa dua piring makanan satu untuknya satu lagi untuk Sita, senyum sumringah tak lupa di tampilkan.
"Suami lo perhatian banget, tau aja lo dari pagi belum makan," kekeh Reyhan menertawai tingkah kocak adik iparnya yang kelewat perhatian menyerempet bego, udah tau tangannya penuh masih aja nekat gondol air mineral yang di jepit di antara leher dan pipinya.
"Bacot banget lo setan, mending enyah dari hadapan gue!" geram Sita kemudian mendorong tubuh Reyhan sehingga sang empunya hampir tersungkur ke bawah kalau-kalau tidak bisa menahan keseimbangan.
"Nih, kata bang Reyhan kamu belum makan dari pagi," Alfan menyerahkan sepiring penuh nasi dan lauk pada Sita. Sita menatap Alfan jengah lalu beralih pada sodoran itu.
"Lo kalo mau ngasih gue makan kira-kira dulu lah bego, gue mana mungkin makan segini banyak anjir lah, dikira gue apaan makan segini banyak," Sita mendengus kesal tapi tuh makanan tetep diambil membuat Alfan mengernyit heran, padahal tadi nya mau di ganti sama yang baru tapi Sita nya nerima ya udah gak jadi.
"Halah mulut lo kalo bicara tidak sesuai fakta, padahal tiap hari lo makan tiga piring itu pun masih kurang," Reyhan ikit nimbrung karena merasa terganggu dengan ucapan Sita yang kelewat bohong.
"Lo doyan banget ikut campur urusan orang, sana pergi sebelum nih sendal mendarat indah di mulut lo," Sita sudah siap mengangkat alas kaki nya. Reyhan hanya ngedumel kesal lalu pergi menghampiri sang istri yang asik berbincang dengan adik nya.
Lagi-lagi Alfan dibuat bingung oleh Sita, katanya tadi gak bisa makan segitu banyak ehh kok malah dia duluan yang habis, entahlah Alfan tidak terlalu mempermasalahkan nya asal Sita nya nyaman.
"Sita, nih hadiah dari gue," Lena menyerahkan sebuah bingkisan yang dibungkus kertas kado motif batik ke arah Sita dengan senyuman jahil.
__ADS_1
"Wihh apa nih?" Sita menatap setiap sudut kado dari Lena, mencoba menebak apa isinya.
"Ehh dibukanya nanti saja kalo kalian lagi berdua, jangan disini gak enak dilihatin sama yang lain. Jangan lupa dipake ya pas malem pertama," Lena terkikik geli. Sita menghentikan aksi tangannya yang tidak sabaran ingin membuka kado itu karena penasaran, tapi setelah mendengar penuturan Lena dia jadi kesal.
"Tanpa lo kasih tau gue juga udah tau isi nya. Lo apa-apaan sih ngasih kado gak jelas banget, gue gak bakalan terima. Ngadi-ngadi lo," Sita menyerahkan nya kembali.
"Ihh lo kok gitu, gue susah loh buat nyariin lo kado soalnya gue gak tau apa barang kesukaan lo, tadi pagi gue buru-buru ajak Mama ke Mall buat beliin lo kado dan cuma ini yang ada di otak gue, masa lo gak mau terima kerja keras gue," Lena mengerucutkan bibirnya kecewa, sok sedih sih kalo kata author. Sita yang orang nya gak tegaan akhirnya meraih kembali tuh kado.
"Nah kalo gini kan enak gue jadi seneng," Lena kembali sumringah, Sita jadi jengah.
Sita meletakkan kado dari Lena sahabatnya di tumpukan kado lainnya, ada banyak sekali berderet di pojok ruangan gak tau dari siapa saja, sampai bingung sendiri mau buka yang mana dulu nanti pas acara unboxing kado.
"Kayaknya kalian berdua bakalan begadang buat unboxing tuh kado," ujar Fitri yang muncul tiba-tiba di belakang Sita, entah muncul sejak kapan, padahal tadi masih berbincang sama yang lain. Sita menghela nafas menanggapi ucapan Fitri karena baginya itu tidak penting, yang terpenting sekarang bagaimana caranya bebas dari penjata ruangan yang bertema pernikahan ini, dia sudah muak pengen balik ke kamar tapi sadar dia lah pemeran utamanya disini.
"Gak usah bahas gituan, gue gak minat," Sita berlalu pergi.
"Eh Sita gak boleh gitu, itu sudah kewajiban kamu loh sebagai istri."
"Tau, tapi gue lagi gak mood bahas hal itu, gue juga bakal minta sama Alfan buat nunggu gue sampai gue siap," Sita menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang tadi ia duduki.
"Kamu gak kasian gitu sama Alfan, pasti dia gak kuat buat nunggu kamu siap," Fitri ikutan duduk. Sita mengedikkan bahunya acuh.
__ADS_1
"Siapa suruh mau nikah sama gue, padahal udah gue bilang kalo gue gak cinta sama dia tapi tetep saja dia nekat, resiko."
Fitri hanya menggeleng pelan mendengar penuturan Sita yang cukup berani, padahal pernikahan itu sangat luar biasa pahalanya karena bisa menghindarkan dari hal yang berbau zina, tapi ya sudahnya itu sudah keputusan Sita, kasian juga dia harus nikah sama orang yang dia suka sama sekali.
"Kak Fitri, kita berdua mau pamit pulang," teriak Keisya membuat atensi Fitri teralihkan.
"Kok cepet banget? Kebiasaan deh kamu, baru juga selesai acara main pulang aja," tutur Fitri menolak kepulangan Keisya.
"Habisnya Zayyan rewel kak, gak betah kalo di ajak kemana-mana. ASI di botol juga sudah habis, mau aku susuin disini tapi kak Vino ngelarang katanya gak boleh buka-buka sembarangan," jelas Keisya membuat Sita mengangguk paham.
"Terus Zayyan nya mana?" tanya Fitri yang tidak melihat Keisya membawa bayi nya.
"Tuh sama Papa nya. Zayyan ketiduran makanya sekarang mau bawa dia pulang," Keisya menunjuk ke arah Vino yang berdiri sambil menggendong baby Zayyan, menatap datar lurus ke depan. Bisa Fitri rasakan tatapan Vino benar-benar dingin.
Sita di sofa hanya sebagai penyimak dialog kakak beradik di depannya ini, dia sudah seperti nyamuk demam berdarah kalo ada di perkumpulan dua perempuan ini.
"Kak Sita, aku pamit pulang. Sekali lagi selamat ya atas pernikahannya semoga sakinah mawaddah warahmah ya kak," ujar Keisya ramah. Sita segera berdiri dari duduk nya dan tersenyum ramah pada Keisya.
"Iya Key makasi ya, ngomong-ngomong jangan panggil pakai embel-embel 'kak' ya, panggil nama aja biar lebih akrab," kekeh Sita.
"Tapi kan...."
__ADS_1
"Udah ya, hati-hati di jalan. Suruh Papa nya Zayyan jangan ngebut kalo lagi nyetir."