
"Ini kok malah pada du jotos disini?" tanya Zahra yang kebetulan melintas didepan mereka, dan melihat kedua insan laki-laki ini tengah adu panco dilantai. Melihat Zahra keduanya langsung menghentikan aksi mereka tanpa ada yang menang. Vino berdehem begitu juga dengan Angga.
"Vino kamu kan yang manggil Angga kesini? Bukannya disambut malah diajak adu panco, tapi tunggu buat apa Angga datang kesini kalo gak ada yang sakit? Jangan bilang kamu cuma mau ajak dia main panco? Kok kayak gak ada kerjaan sih kamu," ujar Zahra mencecar Vino dengan berbagai peetanyaan yang tidak masuk akal diotaknya.
"Bukan Mah. Vino panggil si begundal ini kesini buat periksa Keisya, dia daritadi mual-mual terus Vino jadi bingung mau ngapain," jelas Vino agar Zahra tidak cepat dalam mengambil kesimpulan alias salah paham. Mendengar dirinya dipanggil begundal otomatis Angga tidak terima, tanpa aba-aba dia langsung menampar pipi kanan Vino tidak terlalu keras tapi berhasil membuat Vino mengaduh kesakitan plus kaget.
"Apa-apaan sih lo," Vino hendak membalas namun ditahan oleh Zahra.
"Sudah. Gak usah pada gelut disini, kalo mau gelut lagi nanti Mama sewain ring nah kalian saling tumbuk disana saja, sebaiknya kita periksa dulu keadaan Keisya Mama sudah tidak sabar mendengar hasilnya," Zahra senyum-senyum misterius. Vino dan Angga saling ejek lalu mereka bertiga masuk ke dalam kamar untuk memeriksa Keisya. Yang hendak diperiksa malah molor ditempat tidur.
"Kei, bangun!" Vino menggoyangkan tubuh Keisya pelan. Keisya mendengus lalu bangun.
"Wow istrimu sangat cantik Vino," ujar Angga terpesona dengan Keisya. Angga langsung mendapat geplakan dari Vino.
"Berani lo tatap istri gue retak jantung lo," ancam Vino kejam. Angga hanya tertawa puas.
"Nona silahkan berbaring kembali," ucap Angga, tatapannya tak bisa lepas dari wajah Keisya. Vino sadar akan tatapan itu kembali menggeplak punggung Angga.
"Tatap Keisya seperti itu lagi kubutakan juga mata kau lama-lama," kesabaran Vino sudah habis, dia gak habis pikir dengan Angga yang mata keranjang ini. Bagaimana mau menikah coba dia aja gak cukup sama satu perempuan, ada perempuan cantik dikit langsung diembat sama dia kalo udah bosan ditinggalin, the real buaya darat. Siapa sih yang gak tertarik pada bule blasteran satu ini, mungkin kecuali Keisya ya soalnya dia biasa aja saat melihat Angga tadi, Keisya hanya mentapnya sekilas lalu membuang muka tidak ada reaksi berlebihan sama sekali. Mungkin matanya sudah terlatih kali ya soalnya kan suaminya Vino yang tampan, atau mungkin Vino adalah satu satunya pria tampan yang pernah ia temui makanya tidak tertarik kalo liat pria tampan lain, bagi Keisya Vino adalah lelaki tertampan dihatinya asiqueee...
Vino nya aja yang berlebihan, padahal Keisya mah gak tertarik sama Angga.
"Aduh kalian ini ribut mulu, Mama capek tau. Kamu juga Vino bisa gak sih biarin Angga tenang buat periksa Keisya, ganggu banget," Zahra menimpali dan malah menyalahkan Vino.
"Loh kok Mama belain begundal ini, Mama gak lihat cara dia natap Keisya tadi gimana, kayak penjahat yang ingin merebut istri temannya tau nggak," Vino memprotes karena Zahra tidak berpihak padanya, padahal sudah jelas-jelas Angga yang salah.
__ADS_1
"Untuk sekarang Mama belain Angga dulu karena dia bersedia memeriksa Keisya, nanti kalo Angga sudah pergi baru Mama belain kamu," jawab Zahra seadanya. Jawaban yang sangat tidak etis.
"Lah kok bisa gitu?" kini Angga yang menyahut.
"Ya bisalah. Kalo sama Mama Zahra apa sih yang nggak bisa," Zahra tertawa menyeringai. Vino mendengus kesal lalu duduk disisi ranjang memperhatikan Angga yang sibuk memeriksa dan mencari penyakit apa sebenarnya yang dialami Keisya.
"Mual-mualnya dari kapan?" tanya Angga to the point.
"Daritadi pagi," Vino yang menjawab sebelum Keisya angkat suara.
"Istrimu tidak sakit apa-apa Vino, hanya saja ini gejala biasa yang dirasakan saat sedang hamil, bisa dibilang dengan morning sickness," ujar Angga panjang lebar.
"Sudahlah Angga jangan banyak bac..! Apa? Hamil?" Vino tak percaya dengan apa yang sedang dia dengar. Keisya sama terkejutnya dengan Vino, sedangkan Zahra memancarkan senyum bahagia karena dia sebenarnya sudah tau kemana arahnya jadi dia tidak terlalu kaget.
"Selamat Vino, sebentar lagi kamu akan jadi seorang Ayah. Yah kesempatanku untuk merebut istrimu tidak jadi," ucap Angga bercanda membuat Vino naik pitam.
"Santai bro! Hanya bercanda jangan dianggap serius. Jaga baik-baik istrimu dia sedang mengandung anakmu, usia kandunganya masih sangat kecil jadi jangan membuatnya stress," jelas Angga kali ini.
"Iya iya pasti, thanks yah," karena berita bahagia ini perasaannya jadi sedikit melunak pada Angga.
"Yoi santai, kalo begitu aku pamit undur diri. Mari Tante," ucap Angga sopan.
"Iya Angga hati-hati ya dan terima kasih," sahut Zahra.
"Nanti gue transfer bayarannya," teriak Vino.
__ADS_1
"Eyy santai saja, gak perlu sungkan," Angga menolak.
"No, no, no. Karena gue sedang bahagia hari ini bayarannya gue lipat gandakan jadi sepuluh kali lipat," ujar Vino.
"Terserah kau saja," Angga menggedikkan bahunya, mau menolak juga tidak bisa. Siapa yang mau menolak bayaran sepuluh kali lipat coba, rezeki tidak boleh ditolak nanti menyesal. Keisya masih shock dengan apa yang didengarnya sehingga daritadi dia hanya diam mencoba mencerna semuanya. Bahagia? Iya jelas bahagia, dia cuma berfikir ternyata begini rasanya pertama kali hamil.
Vino langsung merengkuh tubuh Keisya kedalam pelukannya dan tidak henti-henti menciumi pucuk kepala Keisya penuh sayang.
"Selamat ya sayang, sebentar lagi kalian berdua akan menjadi orang tua," Zahra ikut duduk diranjang dan menepuk paha Keisya mengucapkan selamat. Keisya membalasnya dengan senyuman yang sangat tulus.
Tiba-tiba ditengah kebahagiaan mereka, ponsel Vino berdering tanda panggilan masuk. Vino berdecak kesal lalu meraih dan mengangkatnya.
"Halo tuan, kenapa anda tidak ke kantor hari ini? Bukankah hari ini ada meeting penting?" tanya Aldi diseberang sana, ternyata dia daritadj menunggu Vino diambang pintu masuk.
"Oh iya saya lupa kalo hari ini cuti lagi, istri saya sedang hamil jadi harus menjaganya 24 jam," jawab Vino dengan bangga.
"Hah yang bener Pak? Wah selamat ya anda akan jadi seorang Ayah, semoga anaknya gak keras kepala kayak tuan," ujar Aldi sedikit berbisik agar tidak didengar oleh Vino.
"Saya mendengar ucapanmu, bulan depan gaji kamu saya potong. Oh iya untuk meeting nya dibatalkan saja," jawab Vino datar.
"Gak bisa gitu Tuan, gaji saya jangan dipotong dong, seharusnya di moment bahagia ini anda menaikkah gaji saya," Aldi protes dan meminta naik gaji.
"Justru karena saya bahagia makanya potong gaji kamu, saya jadi tambah bahagia."
"Sangat diluar nalar."
__ADS_1
"Sudah ya kamu mengganggu moment bahagia saya," Vino memutus sambungan telpon.