Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
91


__ADS_3

Akhirnya setelah satu minggu menjalani perawatan di rumah sakit, Keisya bisa menghirup udara luar lagi dan tidak lagi mencium aroma obat-obatan yang menyeruak memenuhi ruangan, yah walaupun terbilang luas tetapi tidak menutup kemungkinan jika Keisya merasa pengap jika ruangannya dipenuhi bau obat-obatan mana menusuk banget lagi bau nya, Keisya kan benci itu.


"Aku bisa jalan sendiri kak, gak perlu pake kursi roda begini, kakak gak sadar apa tiap hari aku bolak balik kamar mandi," Keisya memprotes niat baik Vino yang membawakan nya kursi roda untuknya.


"Udah jangan protes, biar kamu gak capek jalan," Vino menuntun Keisya untuk duduk di atas kursi roda.


"Sudah beres kan semuanya?" Zahra menyembulkan kepalanya dari balik pintu, tadi dia habis bayar semua biaya selama Keisya di rawat di rumah sakit ini. Bayangin aja berapa total semuanya, dirawat selama seminggu di ruangan VVIP lagi. Tapi sepertinya itu masih kecil nominalnya jika menurut keluarga kaya ini.


....


Seminggu lamanya Keisya tidak memandangi bangunan besar nan megah yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama ini, seutas senyum bahagia ia ukir di bibirnya dan bergumam 'aku pulang'. Bagi Keisya rumah adalah tempat yang paling nyaman, jika dibandingkan dengan hotel bintang 10 pun Keisya akan lebih memilih rumah.


Sambil memangku Zayyan, Vino mendorong kursi roda Keisya untuk masuk ke dalam rumah karena sepertinya baby Zayyan juga sudah capek tidur di rumah sakit, dan sekarang waktunya tour kamar baru yeayy.


Zahra membukakan pintu yang akan menjadi kamar baby Zayyan, kamar dengan nuansa navy yang dipadukan dengan warna abu-abu di setiap sudut.


"Ini Mama yang cat semuanya?" tanya Vino melirik Zahra yang senyam senyum gak jelas.


"Oohh tentu saja,,,, bukan. Mama mana bisa naik ke atas plafon buat cat semuanya, gak ahli juga dalam hal beginian," jawab Zahra. FYI plafon nya juga di cat warna navy ya biar adil masa temboknya doang yang berwarna.


Keisya segera menidurkam baby Zayyan di atas box bayi yang uniknya juga berwarna navi campur hitam, keluarga ini lagi mabok warna navy jadi jangan heran. Baby Zayyan tampak nyaman di atas tempat tidur barunya terbukti dengan dia yang tidur sangat nyenyak padahal waktu di rumah sakit sering kebangun tengah malam kalo denger suara sedikit langsung nangis. Tapi sekarang beda, walaupun telinganya diteriakin pake toa masjid gak bakal kebangun, maaf lebay hehe.

__ADS_1


Setelah selesai menidurkan bayi manisnya, Keisya segera membersihkan diri karena terhitung sudah tiga hari dia tidak mandi selama di rumah sakit. Vino? Lelaki jangkung itu masih setia mantau anaknya tidur di kamar sebelah, semenit pun gak akan ia lepas pandangan teduhnya pada sang bayi. Maklumilah baru seminggu jadi ayah, masih gak nyangka dia kalo udah punya anak.


Vino mengusap lembut pipi baby Zayyan yang sedang tertidur lelap, tidak ada pergerakan sama sekali.


"Kak Vino ihh jangan diganggu baby nya nanti bangun," Keisya yang masih mengenakan handuk kimononya berjalan mendekat menyalahkan Vino karena daritadi terus terusan menguyel pipi gembul Zayyan.


"Tenang sayang, anak kita gak keganggu sama sekali, lihat! Daritadi aku sampe gigit tangannya dia gak bangun kok," kekeh Vino. Keisya mengintip ke dalam box bayi, tidak bisa ia bantah ucapan Vino karena menang benar, bayi mereka anteng tidur tanpa mempedulikan sekitar.


"Ya walaupun begitu tapi tetap saja jangan diganggu nanti bisa bangun, kak Vino tau kan baby Zayyan kalo nangis volumenya ngalah ngalahin salon tetangga sebelah kalo nyetel musik dangdut," Keisya mengerucutkan bibirnya, sudah cukup dia begadang di rumah sakit dikarenakan baby Zayyan yang rewel nya minta ampun, nah sekarang mumpung masih tidur Keisya mau puas puasin rebahan santuy dulu.


"Kamu istirahat saja sekarang biar aku yang jaga anak kita," Vino mengacak rambut Keisya yang sedikit basah karena kena cipratan air tadi pas mandi. Keisya mengangguk patuh lalu keluar. Vino merebahkan tubuhnya di ranjang empuk milik baby Zayyan, bukan di box bayi ya guys ya kali Vino ikutan tidur di tempat sekecil itu yang ada anak mereka kegencet. Di sama juga sudah tersedia ranjang plus meja belajar, anak baru lahir udah ditaruhin meja belajar, oh iya jangan lupa dengan motto keluarga super kaya ini 'orang kaya mah bebas'.


....


"Malika Malika lo pikir gue kedelai, ku geprek juga lama-lama bibir lo," ketus Sita kesal dipanggil Malika.


"Habis nya lo pantes sih di panggil kayak gitu. Kenapa ya Mama dulu gak namain lo Malika," ujar Reyhan dengan tawa recehnya. Memang kulit Sita sedikit gelap dibanding Reyhan yang putih mulus kayak pantat panci.


"Laknat lo memang, enyahlah dari muka bumi ini," teriak Sita menggelegar sampai menggema seluruh ruangan.


"Aduhh perang dunia ke berapa lagi ini, Mama sudah cukup ya denger kalian berantem kayak gini, dibilangin berapa kalipun kalian berdua gak ada kapok kapoknya keras kepala sekali," Gea sudah lelah dengan aksi pertengkaran tidak bermutu dari kedua buah hati nya ini, susah sekali dibilangin.

__ADS_1


"Bang Reyhan yang mulai duluan Mah, masa Sita di panggil Malika. Mentang-mentang kulit Sita item dekil gini tapi bukan berarti Sita mirip keledai hitam pilihan yang di olah jadi kecap," Sita mengadu dengan detail. Mendengar penjelasan Sita, Gea langsung tertawa ngakak yang tadinya mau marah. Sita mengerucutkan bibirnya kesal, ternyata Mama sama saja batinnya.


"Tau ah, aku mau keluar aja. Kalo aku gak pulang sampai jam 7 malem itu artinya aku ketiduran di rumah Lena," Sita melangkah pergi keluar dari rumah yang sudah seperti tempat adu jotos bersama abangnga.


Gea menghentikan acara tertawanya kala melihat putri bungsu nya pergi.


"Kamu ngapain pagi-pagi udah sok sibuk di dapur kayak orang pinter masak saja, yang ada nanti nih dapur jadi kapal pecah gara-gara kamu," Gea memberikan tatapan mengintimidasi pada Reyhan.


"Itu Mah istri Rey katanya lagi ngidam nasi goreng buatanku sendiri, sudah ditawarin buat beli aja ehh dia nya nolak. Untung ngidamnya gampang walaupun Rey gak terlalu bisa masak, tapi kalo masih buat nasi goreng sih masih bisa," jelas Reyhan sambil mengaduk nasi di atas wajan.


"Ada yang bisa Mama tolong, misalnya kupas bawang kek atau tolong makan juga bisa," ucap Gea.


"Gak perlu repot-repot Mah, kan ada bubuk nasgor instan gak perlu ulek cabe sama bawang tinggal tuang aja deh terus aduk sampai merata. Kalo tolongin makan sebaiknya Mama buat nasi goreng sendiri deh, Rey malu soalnya baru pertama kali masak nanti asin kan gak lucu," kekeh Reyhan.


"Masih bagus Mama yang cobain, nanti kalo Fitri gimana bisa diamuk kamu. Kamu kan tau mood orang ngidam tuh kayak gimana."


"Gak kok Mah santai, kata Fitri bagaimanapun rasanya mau asin mau pagit gak apa-apa asal buatan Reyhan sendiri."


"Hmm ya sudah. Mama berangkat kerja dulu, inget habis masak diberesin."


Reyhan mengangkat tangannya hormat ala-ala anak pramuka.

__ADS_1


__ADS_2