
Hari yang cerah ditambah hari ini adalah weekend, sekeluarga besar ingin berkumpul untuk menghabiskan waktu bersama mumpung semuanya lagi libur gak ada kegiatan sama sekali, jadi Zahra sebagai otak dari semua rencana ini menginginkan agar semua keluarga maupun besan baik dekat ataupun jauh harus berkumpul di rumah nya karena akan mengadakan pesta kecil kecilan, entah untuk merayakan apa yang penting semua harus hadir tanpa terkecuali. Kini rumah bak istana itu sudah ramai dipenuhi oleh para keluarga jauh dan dekat, FYI yang di maksud keluarga jauh dan dekat itu orang tua Keisya yakini besannya, seluruh anggota keluarga Reyhan dan Sita, jangan lupakan juga keluarga Alfan sebagai pendatang, karena baru join dalam keluarga milyader.
Kaum emak-emak pada masak di dapur, kaum bapak-bapak ngerumpi bahas tentang pekerjaan ditemani secangkir kopi do taman belakang mumpung luas, sementara para anak-anak mereka lagi sibuk berbincang hangat di ruang tengah minus Vino dikarenakan nih CEO satu anti join-join club, paling gak suka kalo udah kumpul kayak begini, jadi dia terpkasa ngurung diri di kamar bareng baby Zayyan mumpung lagi tidur juga jadi bisa digangguin sepuasnya.
"Bentar lagi lahiran ya kak?" tanya Keisya melirik perut Fitri yang sudah membesar.
"Iya kayaknya dua bulan lagi," jawabnya simple.
"Kalo Sita kandungannya udah berapa bulan?"
"Uhukk....Uhukk..," Sita yang tengah meneguk jus nya langsung tersedak mendengar pertanyaan Keisya yang blak blakan. Alfan yang duduk di sampingnya langsung mengelus punggung sang istri dan dengan gesit menarik selembar tisu buat ngelap jus yang tumpah mengenai baju nya.
"Minumnya pelan-pelan dong," gerutu Alfan sambil terus membersihkan sisa noda dengan telaten. Keisya yang menjadi tersangka utamanya jadi merasa bersalah dan menunduk lesu.
"Maaf ya Sita, tadi pertanyaanku tidak sopan," Keisya menggaruk tengkuknya tidak enak. Sita menggeleng pelan seraya mengulum senyum agar si penanya gak merasa bersalah.
"Ehh Kei, kok suami kamu gak ikutan nongkrong di sini? Baby Zayyan juga kok gak ada?" tanya Fitri mencairkan suasan biar gak tegang-tegang amat.
__ADS_1
"Zayyan nya belum bangun dan kak Vino ada di kamar lagi nungguin Zayyan bangun sih katanya," jawab Keisya seadanya.
Bicara soal rumah tangga Sita dan Alfan yang baru berjalan satu bulan, mereka terlihat baik-baik saja dan juga harmonis. Iya harmonis, kalo di depan semua orang tapi jika mereka sedang berdua di situlah masalah akan terjadi, misalnya Sita minta pisah ranjang, gak ada dialog sama sekali, kalo saling sahut juga kadang hamm hemm doang itupun kadang-kadang, rumit memang kalo jadi korban perjodohan apalagi kalo dijodohkan dengan orang yang gak disukai, beda lagi kalo Alfan dia mah selalu sabar menghadapi perangai Sita yang kekanak kanakan, seharusnya dia bisa mikir lebih jauh lagi untuk mempertimbangkan keadaan rumah tangga mereka, tapi ya sudahlah mungkin ini ujian pertama untuk dirinya, Alfan berharap untuk tahun berikutnya tidak ada drama-drama lagi diantara mereka, tidak perlu pasang wajah palsu di depan semua orang terutama pada kedua orang tua yang setiap hari selalu menanyakan perihal cucu, gimana mau buat anak kalo Sita nya aja gak mau disentuh, terpaksa deh Alfan harus berbohong dan bilang jika Allah belum kasih kepercayaan kepada dirinya dan Sita.
Dari arah tangga turun Vino bersama baby Zayyan di gendongannya, nampaknya malaikat kecil mereka sudah terbangun dari arungan mimpi-mimpi indah. Vino masih memakai baju tidur yang motif domba warna navy, rambutnya acak-acakan (disuruh jaga baby Zayyan malah ikutan tidur), sendal yang dipakai lagi LDR alias beda sebelah, yang satu nya selop satu nya lagi sandal jepit merek swallow, kayaknya itu punya Papa nya deh soalnya kan Gibran paling suka pakai sendal jepit di dalam rumah, mungkin ketuker haha...
Tapi jujur sih, nih orang mau pakai apapun juga tetep cakep, mau kepalanya botak pun masih terlihat aura ketampanannya. Melihat penampilan Vino yang walaupun urak-urakan bikin dua insan laki-laki yang diduga sudah beristri yakni Reyhan dan Alfan menjadi insecure.
"Rambut acak-acakan terus pake baju tidur aja udah ganteng, lah apa kabar dengan gue, kalo kayak begitu malah mirip gelandangan pinggir jalan. Wahh jangan sampe istri gue oleng ke human satu ini," gumam Reyhan dalam hati.
"Astaga kak, ganti baju dulu kenapa sih," gerutu Keisya kala menatap outfit Vino dari atas sampai bawah, menurutnya itu tidak sopan di depan para tamu. Vino cuma ngang ngong mgeng aja sambil garuk-garuk pantat gak minat dengan ucapan Keisya, asal udah nyerahin baby Zayyan pada Mama nya dia mending lanjut ke kamar buat tidur, nanti kalo alarm yang sebenarnya alias suara Zahra sudah menggema di seluruh ruangan baru tuh dia turun.
"Kamar, sambung tidur tadi kepotong gara-gara suara tangisan Zayyan," jawabnya seraya menguap lebar.
"Gak-gak, gak boleh. Diem disini, gak sopan banget sama tamu sendiri, disapa dulu kek mereka jauh-jauh loh dateng kesini," Keisya menarik lengan Vino sehingga membuat lelaki itu langsung terduduk di sofa. Vino berdecak kesal kemudian menatap satu persatu tamunya yang kebetulan juga tengah menatap ke arahnya, Vino melempar senyuman paksa tanpa suara yang tentu saja dibalas senyuman juga oleh sang tamu biar terkesan ramah. Selesai dengan drama nya, raut wajah Vino kembali datar tanpa eskpresi.
......
__ADS_1
Sepulang dari rumah keluarga besar Keisya, Sita mengajak Alfan untuk ke rumahnya karena akan mengambil beberapa barang yang belum sempat dia angkut ke rumah baru nya, jadilah mereka ngekor di belakang mobil Reyhan dan Fitri.
"Sana gih masuk, susul Sita!" tutur Fitri saat melihat Alfan duduk di sofa untuk meregangkan kakinya, sementara Sita melesat pergi ke kamarnya. Alfan ragu, takut nanti kalo nyusul malah diusir.
Alfan menarik knop pintu yang tertutup rapat, dia tebak pasti ini kamar istrinya. Tidak dikunci, Alfan mengintip dari balik pintu dan mendapati Sita tengah menunduk dan duduk selonjoram di tepi ranjang. Alfan tertegun sekaligus kaget, dengan cepat ia berlari dan merengkuh tubuh lemah Sita.
"Hey kamu kenapa?" tanya Alfan, saat dipeluk tangis Sita semakin menjadi-jadi.
"Maaf," satu kata yang keluar dari belah bibir Sita yang bergetar hebat.
"Maaf untuk apa?"
"Selama ini gue banyak salah sama lo, gue gak pantes jadi istri yang baik, kenapa gak dari dulu aja lo ceraikan gue," Sita memukul dada bidang Alfan, dia tidak suka dengan tingkat kesabaran Alfan yang terlalu tinggi selalu menerima semua perlakuannya.
"Karena aku sayang sama kamu, bagaimanapun sikap kamu akan aku hadapi, tapi untuk bercerai maaf aku tidak bisa."
Hening sejenak. Hati Sita tersentuh mendengarnya, cinta Alfan benar-benar tulus. Sita mendongak menatap manik mata teduh itu.
__ADS_1
"Mulai sekarang gue bakalan belajar buat buka hati, dan perlahan lahan akan menerima cinta lo."