
Rumah keluarga Sita tampak ramai dipenuhi oleh sanak saudara ada juga tetangga sebelah rumah mereka yang datang meramaikan suasana. Sepertinya akan ada acara hajatan besar besaran.
Semua orang tampak sibuk, kaum emak-emak masak daging di dapur sambil ngerumpi, sementara kaum bapak-bapak main gundu di halaman depan rumah, the real masa kecil kurang bahagia. Kegiatan kaum bapak-bapak ini walaupun tidak berguna tapi ada kesan nya, ini jadi sebuah kenang-kenangan mereka zaman dulu main gundu sampai lupa waktu.
"Bukan bokap gue," sungut Reyhan melihat tingkah Papa nya yang jika sudah bertemu dengan sahabat lama, permainan apapun akan dilakukannya untuk mengingat masa kanak-kanaknya dulu, contoh nya ya itu main gundu, selesai main gundu mereka melanjutkannya dengan ngopi bersama sambil gibahin istri, ehh kebalik gak sih? Gak apa-apa deh sekali-sekali bapak-bapak jadi sedikit feminim.
Sebuah mobil sport warna biru langit terlihat memasuki pekarangan rumah, seluruh atensi semua orang teralihkan karena nya. Semua nya menatap takjub, kira-kira siapa yang ada di dalam mobil mewah tersebut, pertanyaan yang berkecamuk dalam benak semua orang.
Tak menunggu lama, dari dalam mobil keluar seorang laki-laki yang auranya langsung terpancar, tubuh tinggi tegapnya membuat siapa saja akan terpikat tak terkecuali dengan wajah tampannya, dia adalah Vino putra dari pasangan Zahra dan Gibran.
Lelaki dengan kaos putih dan celana jeans warna hitam itu berjalan ke sisi kiri mobil, membukakan pintu untuk sang istri tercinta. Benar-benar suami idaman semua orang, udah ganteng, kaya, penyayang, setia, kurang apa lagi coba.
Tatapan semua orang tidak bisa lepas, bahkan para kaum laki-laki saja bisa terpana sekaligus insecure oleh ketampanan Vino. Sumpah gak bohong Vino jika pakai kaos dipadukan dengan jeans aura ketampanannya makin bertambah.
Keisya yang berjalan di samping Vino menunduk malu karena seluruh pasang mata tertuju ke arah mereka berdua.
"Oh lihat siapa yang datang, astaga Mama kagum banget jika melihat pasangan ini bawaannya pengen balik lagi ke masa muda," Gea bersorak kala melihat kedatangan dua tamu istimewa ini. Keisya tersenyum malu sementara Vino hanya diam membisu, sudah kebal dia sama pujian semua orang jadi gak ada waktunya buat salting atau malu.
__ADS_1
"Ayo masuk sayang, semua orang sudah menunggu loh di dalem, Bapak sama Ibu kamu juga sudah dateng loh," Gea memimpin jalan diikuti oleh Keisya dan juga Vino yang terlihat malas jika berada dalam keramaian. Vino tidak suka menjadi pusat perhatian tapi mau gimana lagi sudah takdir dia, siapa suruh ganteng mapan pulak tu.
Ternyata keadaan dalam rumah tidak kalah rame daripada di luar. Ini hajatan apa kenduri ya banyak banget. Acara ini untuk merayakan kehamilan Fitri dan makanan yang dibuat sebegitu banyak bukan buat tamu saja tetapi akan dibagikan ke panti asuhan dan panti jompo yang lebih membutuhkan makanya masak banyak, satu kampung di undang buat bantu-bantu memang legend Mama Gea, ini semua ide dari dia. Saat mendengar berita ini beliau bukan main senangnya sampai jingkrak-jingkrak, ia yang awalnya ada di luar kota memutuskan untuk balik pulang untuk merayakannya.
"Ehh kakak ipar, adek lo tuh dateng bareng suaminya," Sita menunjuk menggunakan dagunya, Fitri yang lagi enak-enaknya dipijitin sama suaminya di sofa langsung mengalihkan atensinya.
"Kei! Sini-sini!" Suara Fitri menggelegar memenuhi ruangan sampai-sampai aktivitas para emak-emak berhenti karena mendengar suara lantang plus cempreng Fitri.
"Manggil nya biasa aja neng, kuping gue sensitif denger suara lo," Sita mengusap-usap daun telinga nya karena kebetulan dia duduknya bersebelahan dengan Fitri otomatis suaranya langsung masuk ke telinganya.
Fitri tak menghiraukan dan lebih memilih berlari menghampiri sang adik.
"Hey bro, sini duduk dekat gue," Reyhan memanggil Vino, sok kenal banget dia padahal mereka kenal nya pas si Reyhan akad itu pun karena Reyhan yang nyapa duluan, jadi belum terlaku akrab. Vino menatap jengah pada Reyhan, selain tidak suka keramaian Vino juga tidak suka sama orang yang sok akrab, aduhh semua selalu salah di mata Vino heran..
"Kak, dipanggil tuh," Keisya menyikut lengan Vino.
"Tau," dari raut wajah Vino sepertinya dia menyesal untuk ikut datang kesini, tau begini mending nganter Keisya saja terus dia ke kantor, dengan sukarela dia meliburkan diri hanya untuk menemani Keisya takut nanti istri kurcaci nya ini hilang diambil orang. Kasian ya Aldi harus kerja lembur, gara-gara bos nya yang suka seenaknya, namanya juga bos kan ya.
__ADS_1
Vino tidak mau jauh-jauh dari Keisya, sebab itu dia harus duduk berdua gak boleh ada yang dekat mereka. Fitri duluan yang duduk dengan Keisya di sofa yang hanya memuat dua orang tapi Vino keras kepala, dia memilih untuk nyempil saja di samping Keisya membuat sang istri sesak karena sempit, ditambah juga Keisya hamil otomatis sofa tersebut penuh.
"Kak, itu ada space kosong dekat kak Reyhan. Duduk disana," usir Keisya mendorong bahu Vino karena dia sudah terlalu sesak dihimpit begitu. Vino tak bergeming dari tempatnya, sungguh kepala batu. Keisya membuang nafas nya kasar. Fitri yang paham keadaan langsung berdiri dan memilih duduk dekat suaminya di sofa yang sebelah.
"Udah Kei gak apa-apa biar aku aja yang pindah," Fitri mengelus punggung tangan Keisya lembut. Sita yang menyaksikan adegan itu hanya geleng-geleng kepala. Keisya jadi malu karena tingkah suaminya ini, sekilas sorotan mata tajam Vino terima dari Keisya. Vino yang seperti orang bego ini bertanya dalam diam dengan gerakan bibir 'kenapa?'.
Daripada planga plongo gak jelas, Vino memilih untuk memainkan ponselnya sekedar mengusir rasa bosan, tidak berminat juga nimbrung obrolan para wanita yang dia sendiri tidak paham apa yang dibahas. Saking fokus nya sampai tidak sadar Keisya memanggil namanya daritadi.
"Kak Vino ihhh, dipanggil gak nyahut-nyahut lagi liatin apaan sih serius banget," Keisya merenggut kesal.
"Kenapa hmm?" Ucapan yang tidak ingin Keisya dengar, karena jika Vino sudah bertanya dengan akhiran 'hmm' sudah dipastikan jantung nya tidak baik-baik saja, ingin ngereog aja rasanya tapi sadar banyak pasang mata, mau ditaruh di mana nih muka.
"Tuh kak Reyhan ngajakin kak Vino main lompat tali," tunjuk Keisya pada Reyhan yang memasang cengiran kuda.
"Hah apaan? Gak-gak, aku masih punya harga diri sebagai lelaki. Main lompat tali kan mainan anak perempuan," tolak Vino, baru kali ini ketiga oknum yang tidak terlalu akrab dengan Vino mendengar sang CEO muda itu berbicara panjang lebar mana sambil protes lagi, biasa nya kan cuma ham hem doang, kalo gak gitu ya natap datar sudah pasti orang paham dengan raut wajahnya. Wah momen langka, abadikan di museum.
.....
__ADS_1
Up nya jarang soalnya ide author ketelen bumi.