Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
98


__ADS_3

"Ihh lucu banget, bayi Sita kembar," ujar Keisya merasa gemas dengan dua malaikat kecil yang tidur berpelukan dalam box bayi.


"Mau juga gak?" tanya Vino dengan berbisik. Tanpa sadar Keisya mengangguk mantap.


"Ya sudah ayo buat lagi, mumpung Zayyan juga sudah cocok buat punya adik," ujar Vino lagi setelah mendapat lampu hijau dari Keisya. Karena sadar Keisya langsung melirik Vino dengan takut yang tersenyum seperti pedofil ke arahnya.


"Kalian gak ada niatan buat nambah anak lagi?" tanya Fitri.


"Ahh i-itu bisa dipikirkan nanti," jawab Keisya gagu.


"Oh iya nama putri kembar kalian siapa nih? Mau gue aja yang kasih nama?" ucap Reyhan menawarkan diri.


"Gak gak gak, enak aja. Siapa yang punya anak siapa yang kasih nama, kalo lo yang kasih nama ntar anak gue ikutan aneh kayak lo," tolak Sita tegas.


"Idih kayak nggak aneh aja lo," Reyhan beranjak pergi, pundung dia tuh karena ditolak mentah-mentah padahal niatnya baik, nama yang dia siapin juga kayaknya cocok sama putri kembar dari adiknya.


"Aku kasih nama Zoa Asyifa dan Zea Asyifa. gimana? Cocok kan?" tanya Alfan, ragu-ragu akan respon Sita terhadap nama yang dia sebutkan tadi.


"Bagus, aku suka. Cocok banget," jawab Sita senang. Reyhan kembali lagi ke sisi brankar Sita dengan memasang muka mengejek.


"Dih bagusan juga nama yang akan gue kasih tadi," ujarnya songong sambil bersidekap dada.


"Emang tadi lo mau kasih nama siapa anak gue hah?" tanya Sita, kalo boleh jujur dia juga penasaran.


"Jenna Zyiria sama Jenni Zyiria, kalo lidah lo belibet tinggal panggil Upin Ipin saja dijamin nyahut mereka," ujar Reyhan bangga.


"Dih apaan si anying, nyesel banget gue dengerin saran nama dari lo sana pergi!" Sita agak nyesel, tapi di samping itu nama yang disarankan Reyhan juga bagus tapi lebih bagus yang pertama.


Empat tahun kemudian

__ADS_1


"Halo para emak-emak julid. bagaimana kalo kita ajak anak kita buat main di pantai mumpung weekend," Sita memasuki rumah dengan diiringi dua tuyul pesugihan kembarnya di samping.


"Hmm ide bagus, udah lama juga gak pergi liburan. Kehitung sudah tiga tahun gak bepergian, gimana menurut kamu Kei?" tanya Fitri meminta saran.


"Aku sih ngikut aja, Zayyan setuju kan kalo hari ini kita ke pantai?" Keisya beralih menatap Zayyan yang sedang menulis serius, sepertinya dia sedang mengerjakan tugas dari sekolahnya. Ngomong-ngomong Zayyan sudah umur 6 tahun dan masih kelas 1 SD, anak Fitri masih TK umurnya juga masuk 5 tahun namanya Reyna Afifi, kalo tuyul kembar Sita masih empat tahun jadi belum masuk sekolah.


"Ajak Papa juga ya, soalnya kasian Papa tiap hari selalu ngurung diri di ruang kerjanya, pasti Papa juga butuh liburan," jawab Zayyan yang segera menghentikan acara menulisnya kemudian menatap lekat manik mata Keisya.


"Ya ampun Zayyan pengertian banget, tau semua kesibukan Papa nya, semoga besar nanti bisa jadi anak yang sukses dan bisa membahagiakan orang tua ya sayang," Fitri yang terlampau gemas mencubit pipi Zayyan.


"Aamiinn," sahut Keisya. Dalam hati ia juga bersyukur karena dikaruniai anak yang cerdas, pintar dan pengertian, diumurnya yang masih 6 tahun sudah paham dengan kesibukan orang tuanya, Keisya sungguh bangga.


Dari arah pintu datanglah pangeran kodok alias Reyhan bersama Reyna, mereka tadi habis ke alfamei buat beli es krim karena bocah itu nangis-nangis pengen makan es krim.


"Kak Zayyan lagi nulis apa?" tanya Reyna menghampiri Zayyan sambil terus menjilati es krimnya yang perlahan meleleh.


"Lagi kerjain PR," jawab Zayyan ramah tak lupa dengan senyuman manisnya.


"Emang PR Reyna kayak gimana?" tanya Keisya yang kebetulan gak sengaja mendengar dialog mereka.


"Reyna disuruh sama bu guru buat bawa 20 butir kelereng itu pun masih kurang karena kelereng Reyna dicuri Papa buat main sama Om Alfan," jawabnya seraya melirik sinis ke arah Reyhan. Fitri terkekeh mendengar jawaban putrinya, Reyhan memang suka sekali mengganggu anaknya.


"Ini kita jadi gak sih ke pantai, mumpung masih pagi," Sita menengahi kemudian duduk lesehan di bawah diikuti si kembar.


"Ke pantai? Reyna mau ikut, ayo Mama kita berangkat sekarang," Reyna heboh sendiri seraya terus menarik pergelangan tangan Fitri.


"Iya sebentar sayang tunggu yang lain dulu."


Akhirnya personil lengkap juga, tanpa berlama-lama mending langsung gas ke pantai sekarang juga keburu siang ntar kepanasan di jalan. Mereka pergi menggunakan mobil masing-masing, Keisya dengan suami dan anaknya begitu juga dengan yang lain. Mereka sengaja gak ngajak orang tua soalnya ini mau quality time remaja walaupun sudah punya buah hati.

__ADS_1


Mereka pilih pantai yang deket aja, biar nanti kalo tsunami bisa langsung lari ke atas bangunan rumah megah Vino, mumpung tinggi ya kan siapa tau bisa mencegah air yang naik.


"Yang merasa laki-laki silahkan gelar tikar tapi jangan gulung tikar soalnya masih ada anak yang harus kita kasih duit, yang perempuan nunggu sambil ngemil, sementara anak-anak main di tengah pantai kalo tenggelam tinggal angkat tangan biar kita tau kalo dia beneran tenggelam atau nggak," ujar Sita, suaranya sudah kayak toa.


"Berisik lo kunti, gue buang lu ke dasar laut baru tau rasa," gerutu Reyhan.


Vino cuma geleng-geleng kepala heran, kenapa ya ada makhluk seperti Sita di dunia ini. Perasaan istrinya gak aneh kayak dia, Vino merenung sekaligus bersyukur karena gak berjodoh sama perempuan seperti Sita, bisa hilang kewarasannya jika menghadapi Sita.


Tikar sudah digelar membentang lebar, mereka semua langsung duduk karena siap akan terbang menuju samudra Hindia haha...


Sambil menikmati snack dan cemilan lainnya yang mereka semua bawa dari rumah, bukan dari rumah sih mereka belinya di alfamei sebelum berangkat.


"Mama, Zoa lapar," rengek nya mengadu pada Sita.


"Zea juga lapar, pengen makan itu," tunjuk Zea pada salad buah yang dimakan Reyhan.


"Jangan ya sayang, makanan itu hanya untuk orang gila saja, nanti kamu jadi gila bagaimana?" tolak Sita seraya mengambil roti keju untuk mengisi perut Zoa dan Zea.


"Gue denger ya apa yang lo katakan, jangan sampai batu karang itu melayang nimpuk muka lo," sinis Reyhan sambil terus memakan saladnya. Sita memasang eskpresi mengejek.


"Kak Zayyan, main yuk," ajak Reyna seraya menarik tangan Zayyan dan langsung diiyakan. Zoa dan Zea juga ikut ngekor di belakang Reyna dan Zayyan yang setia gandengan tangan.


Para orang tua tersenyum bahagia melihat keakraban anak-anak mereka, rasa bahagia itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, pokoknya mereka bahagia jika melihat anak mereka bahagia.


...[END]...


Huhu maaf endingnya agak maksa, gak rela sebenarnya namatin cerita ini tapi mau gimana lagi, mau buat novel baru juga tapi gak tau kapan. Mungkin selesai ujian bakal aku up novel baru, asal kalian setia aja nunggunya soalnya aku up jarang-jarang. Tunggu ya novel selanjutnya.....


BTW ADA YANG MAU SEASON 2 GAK NIH? KALO MAU KOMEN YA, SIAPA TAU AKU MOOD BUAT LANJUTAN KISAHNYA TAPI DI JUDUL YANG LAIN...

__ADS_1


SAMPAI JUMPA DI NOVEL SELANJUTNYA PARA READERS KESAYANGAN AKOEHHH😘 SEHAT TERUS YA**....


__ADS_2