
Malam mulai larut, segerombolan manusia yang tengah asik dengan film horonya seperti tidak sadar. Film yang durasinya masih 30 menit lagi itu terpkasa dituntaskan karena jika tidak maka akan penasaran dengan endingnya hahaha. Berakhirlah kedua orang tua Keisya menginap disana karena sudah larut malam, supir juga sepertinya sudah tidur nyenyak menggapai beribu mimpi, lebay ihh.
Untung rumah ini besar jadi tersedia banyak kamar untuk tamu yang ingin menginap, mau ajak warga sekabupaten saja muat dirumah itu, gak ahh bercanda.
Erna dan Herman satu kamar sedangkan Fitri sendiri, kamar mereka dilantai satu karena disana khusus untuk para tamu, untung kamarnya bersebelahan jadi bisa saling panggil jika ada sesuatu. Walaupun kamar tamu tapi desain mewah tak pernah lepas.
"Seharusnya seperti ini aku hidup dari dulu, bukan jadi orang miskin," cibir Fitri seraya menghempaskan tubuhnya keatas ranjang empuk yang tersedia disana.
"Nginep selamanya boleh gak sih disini," sambungnya lagi. Kalo itu sih bukan nginep namanya Fitri tapi numpang tidur haha.
Keisya sendiri diruang tengah, sementara Zahra sedang mengantar kedua orang tuanya menuju kamar mereka sedangkan Gibran sudah lebih dulu ngorok didalam kamar. Keisya merasa ragu untuk ke kamar karena pasti disana ada Vino, rasanya pengen tidur sama Fitri saja di kamar tamu.
"Keisya kamu gak ke kamar?" Zahra tiba-tiba muncul membuat Keisya sadar dari lamunannya.
"Mmm Mah, kamar tamu masih ada kan?" tanya Keisya tanpa enggan menjawab pertanyaan Zahra.
"Masih, memangnya kenapa?"
"Keisya mau pake satu, soalnya canggung kalo tidur bareng kak Vino," Keisya cengengesan.
"No. Bukan seperti itu cara menyelesaikan semuanya sayang, kamu gak boleh menghindar dari masalah. Seharusnya kamu memperbaikinya. Sekarang kamu temui Vino dan bicarakan semuanya baik-baik, Vino bukan tipe orang pendendam dia akan luluh apalagi dengan orang yang paling dia sayang yaitu kamu."
"Tapi Mah..." Zahra langsung menghentikan ucapan Keisya dengan meletakkan jari telunjuknya tepat dimulut Keisya.
"Sekarang bukan waktunya mempermasalahkan siapa yang salah atau tidaknya, ini tentang kepercayaan dan kepedulian satu sama lain. Sudah ya jangan membantah lagi, sekarang kamu temui Vino dikamar habis itu selesaikan dengan baik," tak lupa Zahra mengusap lembut kepala Keisya sebelum ia pergi ke kamar.
__ADS_1
Langkah kakinya sih biasa aja ya tapi degup jantungnya berpacu sangat cepat, otak menyuruhnya untuk tidak melakukannya namun hatinya mendorong terus. Keisya benci perdebatan batin, karena dia jadi bingung akan memihak yang mana, hati atau pikiran. Namun, tekadnya sudah bulat bahwa ia akan tetap masuk ke kamar.
Ceklek!
Suara pintu dibuka, Keisya melongokkan kepalanya di daun pintu mengintip apakah Vino sudah tertidur pulas jika iya maka dia akan sangat mudah untuk masuk. Tapi nyatanya Vino masih diam disofa, tatapannga tidak teralihkan dan tetap fokus pada benda didepannya yaitu laptop. Keisya menelan ludah sejenak, ini sudah seperti uji nyali baginya. Keisya berjalan menuju ranjang tapi sebelum itu dia pergi ke kamar mandi terlebih dulu. Masih sama, Vino tidak mengalihkan pandangannya membuat Keisya berdecak kesal ingin mengumpat sejadi jadinya. Jika tau sutuasinya akan jadi seperti ini dia tidak akan berbicara ketus pada Vino, sekarang dia diabaikan tak diperhatikan sama sekali rasanya aneh banget. Keisya rindu pelukan hangat dan senyuman manis dari Vino disaat-saat seperti ini, memang penyesalan selalu datang diakhir jadi kamu harus sabar ya Keisya.
Keisya duduk di ranjang seraya menperhatikan Vino yang tengah menggerakkan jari jemarinya diatas keyboard laptop itu.
"Bahkan kehadiranku pun tidak dihiraukan," monolog Keisya seraya membuang muka, air matanya sudah berkumpul disudut matanya siap-siap akan meluncur namun berusaha ia tahan, tidak ingin terlihat lemah disituasi seperti ini. Mau minta maaf tapi rasa gengsinya lagi-lagi menghalangi. Karena gengsi, Keisya memilih merebahkan tubuhnya saja diatas ranjang daripada ambil pusing, berbaring membelakangi Vino adalah cara yang tepat agar pikirannya tidak kemana-mana.
Vino memperhatikan gerak-gerik Keisya daritadi, namun dia sengaja acuh karena ingin melihat sampai berapa sih rasa bersalahnya Keisya pada dirinya. Sebenarnya pekerjaan Vino sudah selesai namun dia sengaja menyibukkan diri. Vino menutup laptopnya, pandangannya tidak bisa lepas dari Keisya yang tengah tidur sambil membelakanginya. Samar-samar Vino melihat tubuh Keisya bergetar dan sedikit terdengar suara isakan tangis. Vino membulatkan matanya, tanpa pikir panjang dia menghampiri Keisya.
"Sayang kamu kenapa?" Vino memegang bahu Keisya berusaha membalik badannya agar mereka berhadapan sehingga Vino bisa melihat apakah Keisya benar-benar menangis seperti dugaannya.
"Kak Vino jahat, beraninya cuekin Keisya," menangis tersedu-sedu setelah membalik badannya. Vino ingin tertawa tapi ia tahan takut Keisya tambah nangis nanti, Vino lalu langsung merengkuh Keisya dalam pelukannya.
"Jangan nangis lagi, jelek tau," tawa Vino seketika pecah, Keisya yang merasa diejek mencubit lengan Vino membuatnya mengaduh kesakitan.
"Kak Vino lebih jelek kalau tertawa."
"Kalo begitu aku cuek aja biar makin ganteng."
"Dih PD banget, ganteng darimana." Emang ganteng sih, dilihat dari lubang sedotan pun dia tetap ganteng, gumaman Keisya dalam hati nih.
"Tunggu sebentar ada yang mau aku kasih ke kamu, tunggu ya!" Vino berjalan ke arah lemari lalu mengambil sesuatu, terlihat seperti sebuah kado dihiasi dengan pita berwarna emas yang sangat cantik. Vino menyerahkan dua kotak kado tersebut yang satunya kotaknya lebih kecil sedangkan yang satunya agak besar, tapi gak besar-besar amat.
__ADS_1
"Apa ini kak? Boleh buka kan?" tanya Keisya antusias.
"Silahkan buka saja."
Keisya dengan semangat membuka kotak kado tadi dimulai dari yang lebih kecil dulu, dan kalian tau apa isinya? Keisya sangat senang sekali ketika mendapati sebuah ponsel Iphone 17 pro max, ini salah satu HP impiannya tapi tidak mampu kebeli, Keisya jingkrak-jingkrak diatas kasur lalu kemudian memeluk Vino. Kado yang kedua Keisya membukanya dengan hati yang penuh dengan rasa penasaran. Dan isinya adalah sebuah laptop dengan logo apel yang sudah digigit dibelakangnya. Kali ini Keisya tak kalah senang dari yang tadi.
"Ini kan semuanya barang mahal kak," ujar Keisya disela kebahagiannya.
"Gak mahal, itu harganya sama kok kayak harga permen satu biji," jawab Vino.
"Iya deh si paling kaya. Terima kasih kak atas hadiahnya, aku suka banget," Keisya lagi-lagi menghamburkan diri kedalam pelukan Vino, Vino sendiri juga ikut senang karena hadiahnya tidak ditolak oleh Keisya dengan alasan mahal, ya siapa juga yang mau nolak dikasih kado Handphone sama laptop merek nya mahal lagi.
"Author juga mau satu dong Vino hmmm..."
Vino belike: "Idih siapa lo minta-minta sama gue? Beli sendiri sono!"
Author:"Kutewaskan kau dalam dunia novel ini mampus kau."
Vino:"Eh iya maaf-maaf Author ku yang cantik!"
Author:"Haha takut kan lu..."
Dah lah capek berdialog sama diri sendiri kayak orang gila..
***
__ADS_1
Udah ya Keisya sama Vino udah baikan sekarang!!
Jangan lupa komen ya.