Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
90


__ADS_3

Vino berlari kecil sambil mendorong brankar yang di atasnya ada Keisya bersama dua perawat laki-laki. Pulang hajatan tadi sore malamnya Keisya mengeluh sakit pada perutnya untung belum tengah malam soalnya susah nanti nyari rumah sakit yang buka 24 jam itupun kalo ada dokter yang bersedia menangani Keisya, mengetahui bahwa itu tanda-tanda tanpa ba-bi-bu Vino langsung membopong badan Keisya dan membawanya ke rumah sakit, tak lupa juga menghubungi sang Mama untuk menemainya nanti disana tapi Zahra belum bisa karena kereta yang akan ia tumpangi jadwal nya besok terpaksa kepulangannya ditunda.


"Kamu temani Keisya dulu ya sayang, Mama sama Papa akan usahakan untuk segera pulang," ujar nya di seberang telpon membuat Vino iya-iya saja yang penting sekarang Keisya harus sampai di rumah sakit. Saking paniknya sampai lupa menghubungi orang tua Keisya. Bahkan saat sampai di rumah sakit Vino berkoar-koar kayak orang gila, perawat disana jadi heran kenapa laki-laki ini teriak-teriak gak jelas. Vino merasa geram karena gak ada pergerakan sama sekali dari para staf rumah sakit itu.


"Heh bodoh, tolongin istri saya dia akan melahirkan, apa kalian tuli?" Vino menarik kerah baju laki-laki tersebut karena kesal.


"Ba-baik tuan, akan saya tangani istri anda. Hey cepat ambil brankar!" Vino melepaskan kerah baju laki-laki itu dan berlari ke dalam mobil untuk membawa sang istri yang tengah berjuang melawan rasa sakit yang teramat sangat.


Keisya langsung dipindahkan ke atas brankar.


"Tahan ya sayang, demi anak kita," mereka menautkan tangan saling memberi kekuatan masing-masing. Keisya yang kesakitan meremat jemari Vino dengan kuat, sepertinya rasa sakit itu kian bertambah. Vino amat tersiksa melihatnya, jika saja rasa sakit yang dialami sang istri bisa dibagi, dengan sukarela dia akan menanggung semuanya.


Ruang bersalin kini diisi oleh Keisya yang tadinya kosong, wahh dokter bisa naik gaji kalo begini secara Vino tuh CEO muda kaya raya siapa tau bayarannya di lipat gandakan, asal Keisya dan bayi nya selamat sih.


"Kepada suami pasien dipersilahkan masuk," tanpa menjawab Vino langsung nyelonong melewati dokter tersebut dan menghampiri brankar Keisya. Vino menggenggam erat telapak tangan istri kecilnya sembari berdoa agar Keisya diberi kekuatan.


"Kak, sakit," Keisya terus saja mengerang kesakitan. Vino jadi frustasi tidak tau harus berbuat apa selain membisikkan kata-kata penyemangat.


"Tahan sayang, kamu pasti bisa melahirkan bayi mungil kita," sekilas Vino mengecup kening Keisya. Keisya mengangguk samar sambil terus meremat ujung baju nya kuat-kuat. Kini Keisya sudah siap untuk mengeluarkan calon beban negara, canda beban. Maksudnya anak mereka.

__ADS_1


Satu jam berlalu, akhirnya bayi yang sudah Keisya kandung selama 9 bulan telah lahir dan berjenis kelamin laki-laki sesuai perkiraan mereka. Bayi mereka lahir dengan selamat begitu juga Keisya keadaannya baik-baik saja hanya sedikit lelah saja habis ditawar nyawanya oleh malaikat maut.


Tak henti henti nya Vino menciumi seluruh wajah Keisya dengan penuh sayang, tersirat rasa terima kasih yang besar pada wanita yang berstatus sebagai istrinya ini. Vino kini mengerti betapa besarnya perjuangan seorang wanita dalam melahirkan sang buah hati.


Salah seorang perawat wanita menyerahkan bayi mungil mereka yang sudah dibersihkan. Tampan sekali, hidung nya mancung bibirnya tipis matanya lebar ditambah rambutnya hitam dan lebat.


"Lihat sayang putra kita sangat tampan, mirip sepertiku," kekeh Vino mengagumi darah dagingnya sendiri. Jika tidak dalam kondisi lemah ingin sekali rasanya Keisya menyinyir ucapan Vino yang tingkat kepedeannya terlalu tinggi, tapi kembali lagi pada fakta bahwa Vino memang tampan. Vino segera meletakkan bayi kecil tersebut di samping Keisya untuk diberi ASI.


Di tengah kegembiraannya tiba-tiba pintu terbuka menampilkan Zahra yang sudah lengkap dengan raut wajah panik, setelah Vino mengirim alamatnya tadi sebelum sampai rumah sakit Zahra bergegas mengajak Gibran untuk pulang malam ini saja, mereka nekat nego-nego sama masinis kereta api untuk mengantarnya sekarang juga karena dalam kondisi tergesa-gesa.


"Ya Allah cucu Oma, tampan sekali," Zahra melempar tas mahalnya ke sembarang arah, tak peduli dengan semua itu ia hanya ingin menemui cucunya.


"Sudah, namanya Zayyan. Zayyan Arkani Pratama," sahut Vino.


"Nama yang sangat cocok untuk bayi tampan ini," Zahra memuji nama yang diberikan oleh Vino menurutnya itu bagus dan cocok sekali.


.....


Keisya sudah dipindahkan ke ruang rawat inap yang pastinya VVIP, jadi ruangannya lumayan luas tersedia sofa panjang beserta mejanya kayak di rumah deh pokoknya. Vino mau Keisya mendapat perawatan yang ekstra biar cepat pulih itu juga saran dari sang Mama.

__ADS_1


Sofa panjang kini sudah terisi full oleh keluarga besar yang ingin menjenguk Keisya, untung muat bisa-bisa Vino bakal protes kepada pihak rumah sakit karena sofa nya kurang muat untuk keluarga besarnya.


"Lihat hidungnya mancung banget, jadi pengen gigit," ujar Sita yang kebetulan ikut, ngekor di belakang abang dan kakak iparnya, katanya bosen di rumah sendirian mulu.


"Ehh tangan lo banyak kuman jangan disentuh nanti bayi nya terinfeksi," Reyhan menepis tangan Sita pelan yang hendak menyentuh pipi merah sang bayi.


"Ehh setan gue udah cuci tangan ya pake sabun dettol (gak di endorse)," protesny, niat ingin menyentuh pipi sang bayi jadi keurung karena keburu malu soalnya tatapan mata kedua pasangan yang merupakan orang tua sang bayi langsung menatap nya.


"Mampus di pelototin sama Papa nya," kekeh Reyhan puas. Sita mendelik tajam lalu kembali ke sofa, duduk sambil bersidekap dada. Lagi kesal ceritanya.


"Kei, melahirkan sakit gak sih?" tanya Fitri yang tiba-tiba menghampiri Keisya di ranjang nya. By the way Keisya gak rebahan di atas brankar ya tapi ranjang yang empuk nan nyaman, soalnya Vino protes. Bayar mahal kok ranjangnya itu-itu aja, harus beda dikit dong ini bayarnya pake uang loh bukan daun.


"Lumayan kak, tapi pas bayi kita sudah lahir sakitnya langsung hilang," jawab Keisya, nada suaranya masih lemah. Fitri mengangguk paham.


"Kakak takut ya?"


"Eng-enggak, ngapain takut kan udah jadi kewajiban semua wanita," elak Fitri sembari mendudukkan bokongnya pada kursi yang tersedia di samping ranjang sang adik.


Erna mengangkat tubuh cucunya untuk digendong. Dia tampak bahagia, sekelebat memory saat Keisya masih kecil terngiang di kepalanya. Kini putri kecilnya sudah menjadi seorang ibu, tidak terasa semua sudah berlalu putrinya tumbuh dengan cepat.

__ADS_1


......


__ADS_2