
Hari demi hari, minggu demi minggu berlalu dengan cepat, tidak terasa kecebong Vino sudah tumbuh menjadi enam bulan, perut Keisya terlihat membuncit badannya pun ikutan berisi, pipi Keisya jadi lebih gemoy dari biasanya, salah satu kesukaan baru Vino yaitu menguyel pipi gembul Keisya sampai merah.
"Bisa diem gak, aku lagi makan," gerutu Keisya karena Vino mencubit pipinya bahkan sampai melahap nya saking gemes sama Keisya.
"Siapa suruh punya pipi gembul," sahut Vino tanpa dosa.
"Udah takdir. Ck lepasin gak, lama-lama ku tampol nih pake sendok kepalamu kak," Keisya sudah bersiap mengayunkan sendok yang dipegangnya.
"Iya-iya maaf, gak lagi deh," Vino mengatupkan tangannya minta maaf. Keisya tersenyum puas, akhirnya dia bisa makan dengan tenang.
"Gimana gak gendut kalo sehari aja kamu makan lima piring," Vino geleng-geleng kepala, akhir-akhir ini nafsu makan Keisya bertambah yang awalnya tiga piring jadi lima piring sehari. Sekarang nasi dirumah selalu cepat habis, pelayan disini jadi sering masak nasi untuk mencukupi nafsu makan Keisya yang berlebih, bahkan sehari bisa tiga kali nanak nasi nya.
"Bawaan anakmu loh ini kak, ada kehidupan nih disini jadi kita harus memberinya makan, kalo aku sendirian mah gak mungkin makan segini banyak," Keisya mengusap-usap perutnya lembut. Vino terkekeh geli kemudian tangannya ikut ikutan mengusap perut buncit Keisya.
"Udah selesai, sekarang waktunya tidur," Keisya membawa piring kotor ke wastafel meninggalkan Vino yang menatap gerak geriknya yang terlihat lucu di matanya, kek apa ya Keisya kalo lagi bunting terus badannya pendek badan berisi, lucu aja gitu liat dia jalan.
"Lamunin apaan sih? Gak mau tidur?" Keisya membuyarkan lamunan Vino.
__ADS_1
"Kamu duluan saja, aku belum ngantuk," jawab Vino.
"Hmm ya udah, kalo sudah selesai kunci pintu habis itu ke kamar, aku gak bisa tidur tanpa pelukan kakak," Keisya melenggang pergi menuju lantai dua alias kamar mereka, kedua orang tua mereka sebenarnya sedang pergi ke luar kota selama dua minggu tinggallah mereka berdua dirumah bersama pelayan yang lain, namun sisanya sedang balik kampung jadi totalnya dirumah ada tiga pelayan termasuk didalamnya sang kepala pelayan.
Vino melirik jam dinding, jarum pendeknya menunjuk angka 10 dan jarm panjang menunjuk angka 6 itu artinya hampir larut malam. Saat ini ia harus mengerjakan sesuatu dari kantor, karena selama dua minggu ia tidak masuk kerja jadi perkembangan di kantor ia kurang tau, soalnya jarang dapet kabar dari Aldi, Vino juga sih yang minta buat urus semuanya dan gak perlu ganggu momentnya bersama istri di rumah dan gak perlu kirim apapun selain itu tugas penting yang butuh tenaga dari Vino sendiri selaku CEO Perusahaan.
Dan tiba-tiba saja Aldi mengirim email tadi sore terpaksa Vino harus kerja ekstra, mau tidak mau ya harus begadang.
Tangannya mulai bergerak lihai diatas keyboard laptop, sepertinya ini akan cepat selesai batinnya. Tapi manusia tidak bisa berpaling dari kata 'Realita tak seindah ekspektasi', nyatanya sekarang sampai jam 2 dini hari mata Vino masih terbuka menatap layar monitor dihadapannya, kerjaan masih banyak yang belum kelar. Astaga dia sampai lupa sama Keisya, perempuan itu tidak bisa tidur jika tidak dipeluk, tapi kok daritadi dia gak nyamperin. Ahh mungkin dia sudah terlelap batin Vino.
Tepat pukul 4:30 akhirnya Vino bisa meregangkan otot otot nya yang kelelahan. Lehernya sampai mau patah karena selalu nunduk lima jam lebih. Gak kram tuh leher sama tangan.
Mata sayu Vino tak menangkap objek yang dicari nya, dimana Keisya kok gak ada di ranjangnya. Ahh mungkin di kamar mandi, karena sudah tidak kuat menahan rasa kantuknya yang terus menyerang, Vino ambruk diatas kasur berguling guling mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Baru juga terlelap udah dikagetin aja.
"Kak Vino! Kak, bangun ihh lihat udah jam berapa itu, ayo sholat subuh!" Keisya menyingkap selimut yang membaluti tubuh tinggi Vino. Keisya habis dari kamar mandi ambil air wudhu
"Hmm 20 menit lagi," jawab Vino dibalik selimutnya.
__ADS_1
"Sholat dulu habis itu baru tidur," ujar Keisya. Sebenarnya sih dia tau kalo Vino begadang buat selesaikan pekerjaannya, buktinya tadi ia turun ke bawah karena Vino lama banget naik ke atas jadi Keisya inisiatif buat turun dan liat apa yang sedang dilakukan oleh suaminya ini. Alhasil Keisya lihat Vino tengah sibuk berkutat dengan laptopnya sampai kehadiran Keisya pun tidak ia sadari. Memang Vino itu orangnya pekerja keras banget gak kenal waktu, kalo kerjaan belum kelar gak ada tuh yang namanya nunda-nunda pokoknya hari itu harus kelar semuanya biar gak ada beban.
Walaupun malas tapi Vino berusaha melawannya, kalo menyangkut ibadah mah ia gak pernah telat walaupun dulu kadang sering lalai karena terlalu memikirkan dunia, tapi sekarang sudah tobat kok setelah mendapat peringatan berupa ujian yang sangat berat yang menimpanya, jadi sekarang dia harus lebih mendekatkan diri lagi kepada Allah agar senantiasa terhindar dari bahaya ataupun ujian yang besar.
Selesai sholat berjamaah berdua dikamar, Vino lamgsung terlelap diranjang, matanya sudah tidak bisa dipaksakan lagi, berkedip saja susah.
Keisya menghela nafas, kasihan juga melihat Vino kayak gini. Keisya berlalu pergi buat ke dapur tapi bukan mau masak cuma keliling doang, soalnya dia kalo udah bangun gak bisa tidur lagi kecuali kalo capek banget bisa sampai satu hari gak bangun-bangun.
"Keisya hari ini mau dimasakin apa?" tanya Bik Asti yang gak sengaja lewat habis ngepel lantai diluar.
"Hmm apa aja deh Bik, tapi jangan banyak-banyak ya soalnya nanti Keisya mau ajak kak Vino buat makan diluar, sudah lama gak nyoba makanan dipinggir jalan," jawab Keisya dan langsung dijawab anggukan oleh Bik Asti.
Keisya mengambil sepotong roti lalu mengolesinya dengan selai blueberry tak lupa parutan keju ia tambahkan diatas agar terlihat menarik, lalu Keisya mengambil sepotong lagi untuk menutupinya. Kebiasaan Keisya kalo sarapan selalu pake roti tambah selai, untuk ganjal perut doang soalnya Bik Asti belum masak. Nanti lanjut sarapan lagi kalo Vino sudah bangun.
Sudah hampir jam 9 dan Vino masih belum bangun, masih ngorok di tempat tidur. Keisya menggoyangkan badan Vino beberapa kali tapi sang empunya tak bergerak sama sekali.
"Ya sudahlah biarkan saja, mungkin masih lelah," Keisya mengedikkan bahunya kemudian kembali duduk disofa sambil nonton drakor. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Keisya, membuat acara nontonnya jadi terganggu.
__ADS_1
"Kenapa Bik?" tanya Keisya setelah tau yang mengetuk pintu itu adalah pelayannya yang tak lain adalah Bik Silvi.
"Itu Non Keisya, ada seseorang yang ingin bertemu, dia sekarang sedang menunggu diruang tengah," jawab Bik Silvi kemudian berlalu pergi. Keisya mengerutkan dahinya, siapa yang bertamu pagi-pagi begini. Tanpa pikir panjang, Keisya bergegas turun tak lupa menutup pintu kamar membiarkan Vino terlelap dulu, kalo nanti sampai dia kembali belum bangun, siap-siap aja air mendidih akan menimpa wajah tampannya.