
Keisya berlari ke arah Zahra yang sedang melambai kepadanya mengisyaratkan bahwa ia ada disana. Keisya langsung memeluk Zahra erat, lumayan lama tidak bertemu. Vino masih ketinggalan di belakang memang kebiasaan si Keisya suka ninggalin suaminya kalo udah jauh bari diinget, gapapa lah yang penting Vino gak marah.
Zahra bersama Gibran disana, Keisya menanyakan tentang Ibu atau Bapaknya kenapa tidak ikut Zahra hanya menggeleng karena kedua orang tua Keisya sibuk katanya dari kemarin Herman dibawa kerumah sakit karena maag nya kambuh lagi tapi untung saja sudah dibawa pulang karena sudah baikan sekarang Herman dirawat oleh istrinya di desa. Sejenak rasa khawatir muncul di benak Keisya namun segera ditepis karena Zahra sudah dapat menenangkannya, mungkin besok Herman sudah bisa menjalankan aktivitas seperti biasa lagi.
"Keisya mau ketemu bapak sama Ibu," rengek Keisya dalam mobil.
"Kamu kan masih capek, tadi aja dipesawat kamu tidurnya pulas banget. Besok ya istirahat dulu," bujuk Vino sembari memeluknya.
"Vino benar sayang kamu pasti capek banget, sebaiknya istirahat dulu besok baru boleh pergi nanti perginya sama Mama yah," Zahra yang berada di kursi depan mendengar dialog menantu dan anaknya ikut nimbrung buat nenangin Keisya yang saat ini rasa paniknya muncul lagi. Mau tidak mau Keisya hanya mengangguk, mau pergi sendiri tapi dia gak bisa nyetir mobil, oke tunggu besok pagi.
Sampai dirumah utama, Gibran bantu membawa koper milik Vino yang tadinya ditaruh di bagasi mobil.
"Sini Pah biar Vino saja yang bawa," Vino hendak meraih kopernya namun dihentikan oleh Gibran.
"Sudah biar Papa saja, Papa tau kamu lelah udah sana masuk! Lagian ini gak berat-berat amat dibawa pake satu jari saja bisa," ujar Gibran bercanda mengundang tawa bagi yang mendengarnya.
"Bik buatkan minum untuk Keisya sama Vino ya," Zahra balik ke sofa setelah memerintah salah satu pelayan dirumahnya untuk membuatkan minuman.
"Gimana liburan kalian di Jepang? Menyenangkan?" tanya Zahra memulai topik.
"Menyenangkan banget Mah, Keisya main lempar bola salju terus pungut bunga sakura, ditambah kamar hotelnya mewah banget tapi lebih mewah kamar kak Vino sih hehe," Keisya menceritakan semua kegiatannya selama di Jepang bersama Vino. Zahra mendengarkan dengan serius karena ya tertarik juga siapa tau beliau langsung terbang ke Jepang sekarang, biasa holang kaya...
__ADS_1
"Oh iya kalian makan dengan teratur kan disana? Usahakan buat makan makanan yang mengandung protein tinggi biar baik untuk tubuh," jelas Zahra.
"Iya sudah pasti itu Mah, kami makan dengan teratur kok," jawab Keisya.
"Tapi tau gak Mah, makanan disana tuh sedikit banget, nih kan Keisya pesen sushi digambarnya ada enam tapi yang dateng cuma tiga biji kan gak sesuai sama aslinya," Keisya protes soal makanan pada mama mertuanya. Zahra, Gibran dan Vino yang mendengar keluhan Keisya sontak tertawa keras. Keisya yang bingung dimana letak lucunya cuma diam dan mengerucutkan mulutnya kesal.
"Ya ampun Kei sayang kamu ini lucu banget sih," Zahra mencubit kedua pipi Keisya gemas.
"Kan Keisya gak tau, gak pernah makan makanan mahal," Keisya mengedikkan bahu malu sekali rasanya.
"Gapapa, jangan terlalu dipikirkan. Kalo kamu mau sushi lagi ada kok disekitar sini yang jual nanti kita makan sama-sama lagi ya," tawar Zahra, Keisya mengangguk setuju.
"Kalian minum dulu, Mama mau ke toilet sebentar," Zahra meninggalkan Keisya dan Vino disofa sedangkan Gibran sudah hilang entah kemana tadi mungkin cari tumbal hehe bercanda Papa Gibran jangan dianggap serius.
"Apa liat-liat? Gak pernah lihat orang haus apa?" ketus Keisya karena salting ditatap kayak gitu sama Vino, tapi cara salting Keisya beda gak kayak perempuan pada umumnya. Kan perempuan lain salting langsung senyum-senyum gak jelas terus buang muka nah kalo Keisya dibentak dulu orangnya baru senyum tapi senyumnya senyum pshycopat bukan senyum tulus. Udah ahh skip skip suka lupa sama topik awal.
Sekarang Vino dan Keisya ada di kamar, biasa rurinitas mereka rebahan dulu baru mandi. Waktu juga masih jam 3 jadi nunggu sore sambil rebahan, Keisya berbaring sambil nonton drama Korea dan Jepang mumpung didua negara ini ada bunga sakuranya. Nontonnya pake laptop punya Vino soalnya lagi gak dipake sama yang punya jadi pinjem buat nonton drama.
*****
Pagi harinya Keisya sudah siap-siap untuk pergi ke rumah orang tuanya bersama Zahra sesuai dengan janjinya kemarin. Vino sudah berangkat kerja jadi tinggal mereka berdua dirumah. Karena sudah sama-sama siap jadi langsung berangkat saja tanpa menunda waktu. Di perjalanan tak henti-hentinya mereka bercerita entah apa yang tengah mereka bahas tapi tampaknya seru sampai membuat tertawa ngakak hingga banting stir.
__ADS_1
Sudah cukup tertawa keadaan sudah senyap, keduanya diam mungkin kehabisan topik. Tapi untung saja sudah sampai jadi diam nya gak berlangsung lama. Keadaan rumah tampak sepi, pintu tertutup rapat, tumben gak ada satupun orang diluar rumah biasanya Erna bersih-bersih diluar atau nggak jemur baju dihalaman tapi kali ini kosong melompong gak ada orang sama sekali bahkan tetangganya tidak ada yang berlalu lalang seperti biasanya. Suasana pagi sudah seperti malam hari saja.
"Assalamualaikum! Buk! Pak! Kak Fitri!" panggil Keisya dari luar seraya mengetuk pintu berharap ada yang dengar. Tak berselang lama pintu terbuka menampilkan Fitri yang rambutnya acak-acakan mungkin baru bangun tidur, sudah terlihat jelas sih dari matanya saja masih ketutup sebelah.
"Ada apa sih pagi-pagi ganggu orang tidur saja," ujar Fitri ketus saat melihat wajah Keisya dibalik pintu.
"Ibu sama Bapak dimana?" tanya Keisya sedikit takut mendapat jawaban dari Fitri karena daritadi perasaannya tidak enak.
"Mereka dirumah sakit, bapak sakit," jawab Fitri singkat masih dengan wajah ketusnya.
"Apa? Rumah sakit mana? Terus Kakak kenapa gak ikut ke rumah sakit temenin Bapak?" tanya Keisya. Dugaan nya benar, perasaan memang tidak pernah salah dalam mendeteksi masalah.
"Eh gue sudah kesana ya Munaroh tapi Ibu suruh gue pulang karena gak ada yang jaga rumah, lo nya aja yang ngilang," ujar Fitri ngegas.
"Bapak ada dirumah sakit mana, kami akan kesana?"
"Rumah sakit Pelita di pinggir jalan," jawab Fitri.
"Kalo begitu Kei pergi dulu kak, jangan lupa nanti pulang kakak kuliah jenguk bapak," pesan Keisya.
"Iya ish bawel banget," Fitri langsung menutup pintu rumah.
__ADS_1
"Mah bapak ada dirumah sakit Pelita kita kesana sekarang yah," pinta Keisya memelas.
"Iya sayang kita akan kesana sekarang."