
Keisya tercengan, diam mematung di tempatnya. Really? Zahra membelikan semua barang ini untuknya, ehh ralat untuk bayinya yang belum lahir?
"Mah, ini terlalu banyak," gerutu Keisya yang tengah memandangi bermacam-macam merek baju celana khusus bayi, ruang tengah full dengan semua itu.
"Sstttt diam, kita persiapkan dari awal biar besok nggak buru-buru beli nya," sanggah Zahra merasa diprotes oleh Keisya.
"Tapi kan bisa beli secukupnya dulu," Keisya masih tidak mau kalah.
"Biar sekali sekali. Nanti capek bolak-balik, gini saja biar lengkap."
Keisya tak habis pikir, orang kaya memang beda. Sikap Zahra ini muncul ketika kemarin sore Keisya dan Vino yang pergi ke dokter untuk USG kandungannya, setelah dipastikan bahwa bayi yang akan lahir tersebut berjenis kelamin laki-laki. Vino yang mendengar hal itu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, selama ini dia memang mengidamkam anak laki-laki. Bukan berarti Vino tidak suka jika Keisya melahirkan anak perempuan, Vino sih anaknya jenis kelamin apa saja yang penting sehat asal jangan bencong aja, ribet ntar diaturnya.
Tak kalah bahagianya, Zahra yang mendengar kabar baik ini sampai lompat dari gedung lantai 10. Gak, canda. Zahra lantas memeluk erat tubuh sang menantu sampai membuatnya sesak seketika, untung gak ke pangkuan Tuhan si Keisya.
Nah besoknya, datanglah para kurir COD berbondong-bondong membawakan semua pesanan Zahra. Sampai jalanan penuh sama mas kurir cuma buat nganter barang doang tapi banyaknya Masya Allah.
"Nanti untuk kamar bayinya kita buat saja di sebelah kamar kalian, biar gak buru-buru nanti kalo anak kalian nangis atau rewel," ujar Zahra layaknya tukang bangunan yang memeriksa dimana cocoknya buat dijadikan kamar untuk bayi laki-laki yang sebentar lagi akan lahir.
"Satu ruangan saja Mah sama kamar kita berdua biar gak makan waktu dan gak ngerepotin Mama juga," usul Keisya yang tentu saja gak akan dihiraukan oleh Zahra. Zahra itu anti dibantah dan anti sama yang namanya diatur, jadi apapun kemauan dia harus diturutin. Ini yang bakalan punya anak siapa sih, Keisya atau justru Mama mertuanya, tau ah pusing.
"Udah, kamu mending istirahat ya pasti capek mondar mandir mulu ikutin Mama kesana kemari, " Zahra mendorong pelan bahu Keisya menuju kamarnya dan Vino.
__ADS_1
Zahra memanfaatkan ruangan kosong yang tepat berada di sebelah kamar Vino dan Keisya, bukan gudang sih lebih tepatnya tempat penyimpanan barang, tapi bukan gudang ya everybody.
Zahrab menyewa orang untuk mengangkat semua barang-barang yang memenuhi ruangan tetsebut dan memindakannya ke gudang yang ada di lantai bawah. Tak lupa Zahra juga memerintahkan orang yang disewanya tadi buat nge cat kamar itu. Sebentar, Zahra mau mikir dulu. Warna apa ya kira-kira yang cocok untuk anak laki-laki? Hitam? Tidak itu terlalu horor. Putih? Putih bukan warna yang cocok. Pink? Oh astaga itu untuk perempuan. Setelah lama berfikir warna cat yang sesuai dengan anak laki-laki, akhirnua otaknya mengeluarkan ide yang brilian. Pilihannya jatuh kepada warna navy. Yah, navy. Walaupun tidak jauh beda dari warna hitam entah kenapa navy sangat cocok untuk anak laki-laki. Tapi itu terserah Zahra saja.
"Kei sayang, mau ikut Mama nggak?" Zahra menyembulkan kepalanya dari balik pintu menatap Keisya yang tengah membaca sebuah novel di sofa.
"Mau kemana Mah? Udah selesai dengan renovasi kamar?" Keisya menutup asal novel tadi kemudian beranjak dan menghampiri sang Mama.
"Udah beres, gak perlu riasu. Sekarang kamu ikut saja."
"Kemana Mah?"
"Ke Mall dong."
"Beli kambing buat akikah nanti," Zahra merenggut dengan pertanyaan Keisya.
"Loh emang ada yang jual kambing di Mall? Kok Keisya baru tau," Keisya mendongak membayangkan jika benar ada yang jual kambing di Mall.
Zahra geram, sampai-sampai mengetok kepala Keisya pelan membuat sang empunya mengaduh kesakitan.
"Lama-lama Mama emosi nih gara-gara kamu, kita ke Mall ya buat shopping dong aduh. Beli barang-barang buat isi kamar anak kamu."
__ADS_1
"Bukannya tadi pagi udah beli Mah? Mana banyak banget lagi."
"Itu baru baju dan celana, belum kasurnya, lemarinya, kereta bayi dan macam-macam lagi lah."
"Udah yuk kita pergi sekarang, keburu Mall nya tutup," menarik lengan Keisya untuk menemaninya ke Mall.
"Mah ini masih jam 9 loh, mana mungkin Mall tutup jam segini."
"Ya kan siapa tau pemilik Mall mau buldoser bangunanya, udah ah jangan banyak omong."
....
2 troli besar sudah penuh dengan semua perlengkapan bayi, mulai dari minyak telon, bedak, minyak rambut dan banyak lagi. Yang lebih mencengangkan lagi, Zahra gak cuma beli satu atau dua pack doang, dia mah beli nya gak tanggung-tanggung langsung diborong tuh semua yang tersisa di rak, makanya troli mereka cepat penuh. Karena gak sanggup bawa, Zahra menitipkannya sementara pada tempat penitipan barang soalnya mana mungkin dia sanggup dorong 2 troli sendirian, mana ukurannya besar lagi. Mau suruh Keisya juga kan gak mungkin, bisa-bisa nanti anaknya jebol disana. Hilang deh rezeki dokter yang sudah siap menangani proses melahirkannya Keisya. Lumayan bayarannya dua kali lipat kalo nanganin istri CEO.
"Kayaknya ini semua sudah cukup deh Mah, kita balik aja ya. Lagipula ini sudah 4 troli loh," Keisya sudah kewalahan jalan kesana kemari menguntit Zahra yang sepertinya belum puas untuk belanja, kakinya seakan gak pernah cape. Liat barang bagus dikit langsung taruh troli.
"Nanti dulu, masih ada satu barang lagi yang belum kebeli. Kamu kalo mau istirahat disana aja, nanti kalo Mama udah selesai Mama akan samperin kamu," usul Zahra seraya menunjuk sebuah bangku panjang disebelah toko baju. Keisya menghela nafas pelan kemudian mengangguk mengiyakan. Kakinya udah lemes banget daritadi gak berhenti-berhenti jalan.
"Kalo mau beli es krim atau air minum pake ini yah," Zahra menyerahkan dua lembar uang seratus ribu untuk bekal Keisya nunggu disana. Keisya merasa seperti anak kecil ketika Zahra ngomong seperti tadi.
Zahra melenggang pergi meninggalkan Keisya yang planga plongo ditempat.
__ADS_1
Mau beli minum tapi dia gak haus, mau beli makanan juga dia gak laper. Please deh Keisya itu cuma capek doang bukan haus ataupun lapar, dia butuh rebahan. Tapi gak mungkin dia rebahan diatas bangku panjang ini, walaupun panjang tapi gak muat sama tubuh Keisya yang besar ini.
"Rebahan dilantai aja kali ya. Ehh jangan deh nanti dikira pengemis lagi, mau ditaruh dimana nanti muka Mama kalo ketahuan menantunya itu dikira pengemis," Keisya terkekeh sendiri membayangkan jika semua itu benar-benar terjadi.