Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
61


__ADS_3

"Yakin mau pulang sekarang?" Keisya menggenggam erat tangan Vina seakan tak membiarkannya pergi. Vina terkekeh geli melihat perubahan raut wajah sahabatnya yang seperti tidak rela jika ia pulang.


"Iya dong Keisya, masa gue nginep seminggu disini gak enak dong," Vina mencubit gemas pipi Keisya sehingga mempuat empunya mengaduh kesakitan.


"Ya gak apa-apa tinggal disini juga boleh kok," sahut Zahra dari belakang seraya membawa nampan berisi kopi yang akan disuguhkan pada suaminya karena mumpung hari ini weekend jadi sekeluarga memilih bersantai di rumah atau bahkan jalan-jalan mungkin.


"Haha Tante bisa aja, Vina masih punya rumah kok. Besok deh kalo Vina di coret dari kartu keluarga baru tinggal disini." Jawaban Vina langsung membuat Zahra dan Keisya tertawa.


"Ehh ngomong-ngomong terima kasih atas semuanya ya Tante, makanannya terus dikasih tempat nginap pokoknya semua deh," Vina nyengir kuda.


"Aduh ngapain bilang makasih, sudah Tante bilang anggap aja rumah sendiri, kamu datang kapan saja pintu selalu terbuka untuk kamu Vina, mau datang tengah malem juga bisa pokoknya kapan pun kamu mau," ucap Zahra penuh dengan keseriusan.


"Duh saya kok berasa jadi orang penting kalo begini," Vina menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena mendapat perlakuan yang sangat spesial.


"Vina kalo mau pulang sekarang diantar sopir ya biar gak capek pesen taksi online," Zahra menawarkan.


"Hmm boleh deh Tante," Vina mengangguk mantap. Lagian menolak juga gak ada artinya pasti akan terus dipaksa.


Pagi yang indah harus dinikmati bukan, yah beginilah rutinitas keluarga lawak ini di rumah menghabiskan hari weekend dengan bersantai di taman belakang rumah di pinggir kolam sambil berjemur dibawah matahari pagi yang menyehatkan, jadi bukan matahari terik pas siang hari ya auto hitam legam badan mereka.


"Keisya sayang mau berenang nggak?" tawar Zahra seraya melakukan pemanasan dipinggir kolam karena wanita anak satu ini hendak berenang karena sudah lama dia tidak melakukannya.


"Emm nggak deh Mah, Keisya gak pandai renang nanti tenggelam kan bisa mati," jawab Keisya menolak lantas duduk dikursi dekat Vino yang tengah memainkan ponselnya kemudian balik menatap Keisya yang sudah menyandarkan kepalanya pada bahu lebar Vino.


"Dih umur segini gak bisa renang," ejek Vino sembari menatap tubuh Keisya dari atas sampai bawah dengan sinis. Tenang aja guys Vino cuma bercanda kok, dia kan seneng banget godain istrinya.


"Biarin, terserah aku dong. Kok Kakak yang komplain," ketus Keisya dan langsung mengangkat kepalanya dari bahu Vino, tidak terima atas penghinaan dari suaminya ini.


"Baperan," semprot Vino kemudian beralih menatap layar ponselnya, tidak menghiraukan Keisya yang sudah amat kesal. Tanpa pikir panjang Keisya masuk ke dalam rumah, beberapa menit kemudian dia keluar dan sudah siap dengan baju renang nya, siap-siap ikut berenang bersama Zahra.


Byurrrrr!!


Keisya melompat begitu saja ke dalam air sehingga membuat atensi yang lain teralihkan ke arahnya. Keisya tampak lihai di dalam air berenang sambil menggerakkan kakinya, membawa tubuhnya meluncur kesana kemari bak putri duyung. Sutradara tolong jadikan Keisya pemeran putri duyung soalnya dia jago renang. Vino mengerjap beberapa kali melihat aksi Keisya yang memukau, Zahra saja sampai menganga karena tak percaya Keisya selincah itu dalam air. Padahal tadi dia bilang tidak pandai renang, dapat hinaan dari Vino kok langsung jadi pandai. Masa gara-gara ucapan Vino dia jadi kayak gitu?

__ADS_1


"Katanya tadi gak pandai renang kok malah sebaliknya," Zahra menghampiri Keisya dipinggir kolam sedang beristirahat karena sudah capek mendayu dayu diatas air.


"Hehe Keisya dulu pernah jadi perwakilan sekolah saat lomba renang, Keisya pikir bakalan lupa cara berenang karena sudah lama gak renang lagi," kekeh Keisya seraya menyeka air diwajahnya. Vino masih terdiam, antara heran dan takjub.


Haha rasain tuh. Makanya jangan asal hina orang kalo belum tau kemampuan yang sebenarnya


Kurang lebih begitulah gumaman Keisya dalam hati, puas melihat ekspresi Vino yang susah dijelaskan.


Seorang pelayan datang dengan nampan berisi empat gelas jus leci dan aneka cemilan lainnya, haus juga habis berenang. Keisya menghampiri nampan diatas meja lalu meneguk jus tersebut sampai tinggal setengah. Vino yang gak mau kena semprot balik dari Keisya memilih kembali fokus pada ponselnya, entah apa yang sedang dia lakukan dengan benda pipih persegi panjang itu.


"Fokus amat bang, MINUM DULU NAPA MINUM," teriak Keisya tepat didepan telinga Vino membuat Vino tersentak kaget. Keisya tertawa ngakak karena ekspresi Vino menurutnya lucu, hampir saja jus yang ada ditangannya tumpah.


"KEISYA!!!! Bisa tidak gak usah teriak!" Vino menyimpan ponselnya diatas meja kemudian tangannya langsung mencubit hidung mancung Keisya.


"Iya iya maaf. Makanya jangan sok sibuk nanti aku curiga loh Kakak selingkuh, daritadi fokus mulu sama HP, sampai aku pun diabaikan," Keisya mengerucutkan bibirnya sedih membuat Vino gemas melihatnya.


'Gemes banget sih istriku kan jadi pengen anu..... pengen cubit maksudnya'.


"Hm apa?" Keisya mengernyit heran, gitu aja harus pake syarat gak etis sekali.


"Ada deh nanti di kamar aku kasih tau."


"Disini aja kenapa sih?" Keisya mendesak.


"Gak bisa disini ada Mama sama Papa."


"Emangnya kenapa?"


"Udah sih gak usah banyak protes," Vino langsung meraih jus leci miliknya kemudian meneguk nya sampai habis. Keisya masih penasaran, otaknya berusaha menerka apa kira-kira syarat yang akan diberikan oleh Vino ya. Keisya terlihat berfikir keras sampai otaknya mengeluarkan asap hitam, gak deh bercanda.


"Ada ada saja putramu itu Mah," tunjuk Gibran dengan dagunya karena tadi tidak sengaja menguping pembicaraan dua anak muda disebelahnya.


"Putramu itu Pah, jangan dilempar ke Mama dong."

__ADS_1


"Mama yang melahirkan ya jelas putra Mama sih."


"Papa yang buat, Mama kan cuma memproses doang."


"Iya juga, berarti Vino anak kita dong?"


"Bukan! Vino anak monyet, kita temuin ditengah hutan habis itu kita asuh sampai besar kayak gini."


"Ohh pantes."


"Pantes apa Pah?"


"Pantes mirip." Keduanya langsung tertawa terbahak-bahak karena lelucon yang mereka buat.


"Masih ku pantai belum ku bacok," gumam Vino mendengar kejulidan Mama sama Papa nya terhadap dirinya.


Seseorang tolong sadarkan Vino bahwa mereka adalah orang tuanya.


***


"Katanya mau kasih tau Keisya apa syaratnya kok malah ditindih begini, berat tau Kak. Turun!" Keisya berusaha mendorong dada bidang Vino untuk turun karena daritadi Vino sudah menindihnya.


"Ya ini syaratnya." Vino tersenyum penuh arti.


"Hmm?" Keisya masih tidak paham, tapi ada sebuah gambaran dari semua kelakuan Vino. Oh tidak, Keisya mulai paham.


"Aku tidak suka membuang waktu, aku sudah tidak tahan. Jadi aku mulai saja," Vino segera melepas bajunya dan kembali menindih Keisya.


"AAHH KAK VINO!! SAKITT!!!"


Maaf sedikit gaje😭.


Jangan lupa komen readers love you💗

__ADS_1


__ADS_2