
Satu persatu tamu undangan mulai meninggalkan acara karena memang sudah selesai. Semua pergi kecuali kedua sahabat Fitri serta Keisya dengan suaminya, kalo kedua orang tua mereka udah jelas diam disana.
"Anjir lah ada Mas Vino yang tampan itu, kok gue gak sadar beliau datang. Wihh Fitri lo beruntung banget acara pernikahan lo dihadiri oleh CEO ternama di kota ini," celetuk Gita seraya berdecak kagum karena dia baru sadar ternyata Vino ikut hadir, sekarang dia lagi berbicara dengan orang tua Sita dan juga Reyhan tepat di hadapan mereka bertiga. Biasa, masalah bisnis. Pokoknya dimanapun dan kapanpun selalu pekerjaan nomor satu, mungkin itu motto Vino, tapi tetap istri dan keluarga yang paling utama.
"Lebay banget lo sumpah, gue malu tau punya temen kayak lo," sergah Lena yang sudah muak dengan kelakuan Gita yang menurutnya berlebihan ini.
"Bilang aja lo juga kaget kan?" protes Gita mendelik tidak suka.
"Nggak, biasa aja. Gue gak lebay kayak lo. Orang tadi gue liat kok Tuan Vino berdiri disebelah sana bersama istrinya," Lena mengedikkan bahunya acuh, tidak terlalu tertarik untuk membahas nya.
"Idih sok gak peduli, jujur aja kali," Gita yang masih tidak mau kalah. Lena mengibaskan tangannya, tidak mau lagi meladeni bocah satu ini.
"Kalian gak pulang?" tanya Sita yang tiba-tiba ikut nimbrung ditempat ketiga sahabatnya yang tengah duduk sambil gibah di sofa depan.
"Ngusir nih ceritanya?" sahut Lena yang merasa kalimat Sita menyakitkan empedu nya.
"Anjir nanya gak boleh? Gue nanya baik-baik loh Len," Sita mendengus kesal.
"Halah itu sama aja namanya ngusir," celetuk Gita ikut ikutan manas manasin. Sita menggeleng pelan, hafal banget sama kelakuan mereka jadi gak heran lagi.
Keisya diseberang berjarak empat meter menyaksikan interaksi antara Fitri dengan sahabatnya yang lain membuat ia ragu untuk menghampirnya takut mengganggu.
"Sudah selesai?" tanya Keisya pada Vino yang terlihat berjalan dengan senyuman simpul ke arahnya. Anggukan singkat Vino berikan untuk menjawab pertanyaan sang istri. Tangan kekarnya bergerak mengusap pelan perut Keisya yang sudah membuncit, tinggal tunggu lahiran aja. Sang empunya hanya terkekeh pelan mendapat perlakuan seperti itu.
"Mau pulang sekarang?" tanya Vino karena disini juga sudah sepi sekali hanya tersisa keluarga mempelai wanita dan pria saja disana beserta WO dan beberapa pegawainya yang tengah sibuk melepas dekorasi yang dipasang di dalam ruangan. Orang tua Reyhan sendiri yang minta buat melepas semuanya jika acaranya sudah selesai biar gak capek bolak balik WO-nya kan kasian.
"Tadi sih mau ngomong sebentar sama Kak Fitri tapi kayaknya sibuk sama teman-temannya jadi kita samperin Ibu sama Bapak dulu, pamitan." Keisya menarik lengan kekar Vino menuju dapur untuk menjumpai Ibu nya, beliau tengah berbincang dengan Mama dari Reyhan alias besannya.
"Ibu, Keisya sama Kak Vino mau balik dulu," Keisya menghentikan aksi bergosip dari kedua wanita paruh baya ini. Keduanya langsung mengalihkan atensinya pada sumber suara.
"Kok cepet sekali Nak, gak makan dulu?" tanya Gea.
__ADS_1
"Gak usah Mah, Kak Vino masih ada urusan jadi harus cepat cepat balik ke Kantor," jawab Keisya ramah.
"Bapak di mana Buk?" Keisya beralih menatap Erna yang daritadi hanya menyimak.
"Di kamar tamu, Bapak lagi istirahat," jawab Erna, Keisya ber-oh ria.
"Kalo begitu kami pamit undur diri."
"Kei, mau kemana?" Fitri berdiri menghampiri Keisya yang hendak melangkah keluar.
"Kok cepet banget pulang nya? Gak nginep sehari dua hari kek disini."
"Hmm besok deh kapan-kapan, lagipula kan pasti kakak sibuk malam ini," Keisya mengerlingkan matanya, pipi Fitri memerah seperti tomat karena sepertinya otaknya menangkap apa yang dikatakan oleh adik nya ini. Dia sudah tidak polos lagi.
"Hey otakmu perlu dicuci, dimana adikku yang dulunya polos hmm?" Fitri menjewer telinga Keisya.
"Iya iya maaf kak, bercanda," Keisya mengatupkan kedua telapak tangannya.
"Ya sudah hati-hati."
Butuh 30 menit perjalanan untuk sampai dirumah dari lokasi acara tadi karena memang sedikit jauh.
Setelah melalui perjalanan yang membosankan tanpa sadar mereka sudah memasuki area komplek tempat tinggal mereka. Keisya turun dari mobil sendiri karena Vino yang akan pergi lagi ke Kantor, ada urusan mendadak.
"Istirahat langsung, jangan keluar ataupun keluyuran dengan alasan belanja atau apapun itu, jika mau makan suruh Bik Silvi yang anterin ke kamar jadi gak perlu naik turun tangga. Nanti kalo urusannya sudah selesai aku akan pulang secepatnya, inget jangan keluar selangkap pun dari pintu," ujar Vino berpesan dari dalam mobil.
"Iya, bawel banget sih. Lagian aku mau kemana coba siang-siang begini mana panas banget lagi," celetuk Keisya.
"Ya udah sana masuk, disini juga panas nanti kulit kamu gosong." Keisya segera menuruti apa kata sang suami, tanpa menunggu lama dia melenggang pergi memasuki rumah.
....
__ADS_1
....
"Ngapain lo disini? Keluar sana!" ketus Reyhan yang mendapati Sita sedang asik tiduran di kamarnya bersama Fitri disampingnya. Sita memutar bola matanya malas, kemudian menatap lekay wajah abangnya itu.
"Boleh ya gue tidur disini, satu malam aja ehh gak deh tiga malam, boleh ya," Sita masang wajah memelasnya.
"Dih gak ada ga ada, buruan keluar gue mau mandi," Reyhan menarik kerah belakang baju Sita untuk turun dari ranjang empuknya.
"Iya gue keluar gak usah pake ditarik segala juga bego," Sita menepis tangan Reyhan.
"Eh nanti kalo lagi malam pertama suaranya pelanin dikit ya biar gak menganggu gue tidur apalagi kamar kita sebelahan," ujar Sita disambung dengan tawa khas nya. Reyhan sudah siap ambil ancang-ancang buat menyumpal mulut Sita dengan sendal yang saat ini ia pakai, mengetahui dirinya dalam bahaya Sita langsung melesat lari dan mengunci pintu kamarnya.
"Ya Tuhan dosa apa yang telah kuperbuat sampai-sampai engkau mendatangkan titisan dajjal itu sebagai adikku," ucap Reyhan seraya menggelengkan kepalanya pusing.
"Mau mandi duluan atau mandi bareng?" pertanyaan spontan dari Reyhan membuat pipi Fitri bersemu merah, ni orang satu kalo ngomong suka blak blakan.
"Dasar mesum."
"Masih mending mesum sama istri sendiri daripada mesum sama istri tetangga." Satu geplakan manja mendarat di lengan Reyhan membuatnya mengaduh kesakitan.
"Gak usah ngada-ada, buruan sana mandi," refleks Fitri mendorong tubuh Reyhan buat masuk ke dalam kamar mandi.
"Udah gak sabar ya mau di unboxing sama aku?" goda Reyhan.
"Heh mulutnya gak bisa difilter, pengen ku sumpal pake ****** tetangga."
"Cium aja gak apa-apa, ikhlas lahir batin aku mah."
"Ini kapan mandi nya kalo kayak begini?"
.....
__ADS_1
.....
...Udah gak bisa berkata apa apa lagi, cerita kali ini sangat membosankan. Maafkan author yang kehabisan ide iniðŸ˜. Satu alasan yang sama yaitu 'tugas' . Maaf curhat dikit....