Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
81


__ADS_3

Hari ini Keisya akan menepati janjinya pada Fitri yaitu akan pergi menemui orang tuanya di desa, dan Fitri juga memutuskan untuk mengajak Reyhan sekalian memberi taukan bahwa ia akan menikah bulan depan.


"Wah mantu Mama udah rapi aja, memangnya mau kemana nih?" Zahra berdiri diambang pintu memperhatikan Keisya yang tengah bercermin dan memoles wajahnya sedikit tidak terlalu berlebihan.


"Keisya mau ke rumah Ibu, Mah," jawab Keisya memandang Zahra sekilas dan melemparkan senyum manisnya kemudian lanjut melakukan aktivitas yang lain, seperti memasukkan baju ke dalam koper membuat Zahra mengernyit heran, kan cuma berkunjung kok malah bawa baju.


"Kamu mau pindahan ya kok bawa baju banyak banget, pake koper lagi?" tanya Zahra memperhatikan gerak gerik Keisya yang masih sibuk memindahkan baju nya untuk dimasukkan ke dalam koper.


"Bukan Mah, ini baju Keisya yang udah gak muat mau disumbangin ke panti asuhan, lumayan masih baru, gak pernah Keisya pake," jawab Keisya. Zahra hanya mengangguk paham.


"Pergi sama siapa?" tanya Zahra lagi seraya mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.


"Sama kak Fitri Mah."


"Kakak kamu sudah pulang?"


"Iya kemarin, dan sekarang kita mau pergi buat ketemu Ibu sama Bapak sekalian minta restu juga."


"Restu? Buat apa? Fitri mau nikah? Sama siapa?" Inilah Zahra, gak bisa satu-satu kalo bertanya.


"Katanya sih Kakak dari temennya, yah siapapun itu Keisya berharap bahwa lelaki itu akan menjaga kak Fitri dan selalu menemaninya baik dikeadaan susah maupun senang." Zahra langsung mengacungi jempol ucapan Keisya, menyetujui perkataannya.


Mobil yang akan ditumpangi Keisya datang, alias mobil Reyhan calon suaminya Fitri. Tadinya Vino menawarkan diri untuk ikut tapi Keisya menolaknya karena hari ini Vino akan ke Kantor gak mungkin kan cuti mulu bisa-bisa perusahaannya bangkrut.

__ADS_1


"Tapi inget jangan pulang sendiri, suruh tuh kakak kamu anterin sampai depan pintu gak boleh kurang harus pas depan pintu, pulang harus jam 4 sore, takutnya kamu diculik lagi, gak seru kalo harus keluyuran cari kamu sampai kerjaan aku tinggalin," pesan Vino yang membuat Keisya jengkel.


"Iya-iya bawel banget sih," Keisya mendengus kesal kemudian memasuki mobil. Mobil melaju dengan kecepatan sedang memecah jalanan.


Keisya duduk anteng di kursi belakang sementara Fitri dan sang pengemudi aks Reyhan yang duduk dikursi depan sibuk mengobrol, Keisya sedikit menguping pembicaraan mereka yang hanya membahas seputar acara pernikahan mereka satu bulan lagi. Keisya berasa jadi nyamuk daritadi cuma planga plongo doang di belakang.


"Tau begini mending ajak kak Vino aja tadi," gumam Keisya untung saja gak didenger oleh oknum yang didepan.


Setelah perjalanan yang membosankan menurut Keisya karena tidak ada ayang disampingnya, ia bergegas turun dari mobil begitu juga dengan Fitri dan Reyhan.


"Akhirnya sampai juga," tutur Keisya lalu berjalan ke arah bagasi buat ngambil kopernya.


"Buset Key, kamu mau balik tinggal disini?" tanya Fitri kaget melihat Keisya yang menyeret sebuah koper berukuran sedang.


"Bukan, ini tuh baju aku yang udah gak muat mau disumbangin," jelas Keisya, Fitri adalah orang kedua yang bertanya pasal kopernya.


Pintu rumah tampak tertutup rapat, seperti tidak ada yang menghuni rumah itu. Fitri diam sejenak, menghentikan langkahnya tepat didepan rumah orang tuanya, sekelebat memory mulai terbayang diotaknya, mengingat bagaimana dia sangat suka bermain dihalaman rumah waktu ia masih kecil, bulir bening berhasil lolos melewati pipinya. Keisya yang menyadari itu langsung saja mengusap bahu Fitri menenangkan. Suara pintu terbuka mengalihkan atensi mereka semua, Fitri menahan nafas takut jika yang keluar adalah Ibu atau Bapaknya, eh tapi kok?.


"Loh Buk Sinta, kok bisa ada disini?" tanya Keisya bingung. Yang keluar tadi adalah Buk Sinta tetangga sebelah rumah.


"Kenapa kalian gak masuk?" Bukannya menjawab malah nanya balik.


"Ini mau masuk, buk Sinta sendiri kenapa ada disini?" Keisya mengulang pertanyaannya lagi dengan beberapa perubahan kalimat, karena Keisya tau tetangga nya yang satu ini jarang banget kesini bahkan untuk sekedar silaturrahmi ke keluarganya, dia paling anti berkunjung ke rumah tetangga yang lain padahal rumahnya terbilang deket banget, tapi tiba-tiba saja dia keluar dari dalam.

__ADS_1


"Kalian gak tau? Bapak kalian sakitnya kambuh lagi, makanya saya kesini buat jenguk," jawab wanita paruh baya tersebut, setelah mengucapkan kalimat yang berhasil membuat dua anak perempuan ini shock, dia langsung pulang karena waktu menjenguknya sudah habis. Keisya dan Fitri lantas berlari ke dalam rumah, dan benar saja Herman terbaring lemas di teras dengan beralaskan karpet, disampingnya ada Erna yang setia menunggu suaminya. Jujur hati Keisya teririr melihat keadaan kedua orang tuanya begitu juga dengan Fitri, dia sungguh menyesal telah meninggalkan orang yang sudah selama ini merawatnya sampai sebesar ini, jika bukan karena kasih sayang mereka Fitri gak akan bisa sampai seperti ini dan Fitri gak akan bisa bertemu dengan lelaki yang saat ini akan menjadi suaminya, rasa terima kasih tidak akan cukup untuk membalas semua kebaikannya.


"Buk, Pak!" Tangis Fitri seketika pecah lalu dia berhambur ke pelukan Erna, Wanita paruh baya ini tampak kaget dengan kehadiran Fitri yang sudah lama hilang, rasa bahagia juga tidak bisa ia sembunyikan, Erna membalas pelukan Fitri tak kalah erat, sama-sama menyalurkan rasa rindu masing-masing. Keisya sangat terharu melihat keakraban keduanya.


....


Setelah semua tenang, Fitri mulai bercerita mulai dari tempat ia tinggal selama kabur dari rumah sampai akhirnya bertemu dengan pria yang baik dan ramah dan merencanakan untuk ke jenjang yang lebih serius yaitu menikah, untuk kedua kalinya Erna dibuat kaget dengan kenyataan bahwa Fitri yang bakalan nikah. Reyhan segera menperkenalkan diri sekaligus meminta restu dengan sopan.


"Pak, lihat anak kita mau nikah," Erna menggoyangkan lengan Herman yang terbaring lemas namun masih sadar.


"Kenapa gak bawa Bapak ke rumah sakit Buk? Kasian Bapak," Keisya gak bisa jika melihat Bapaknya seperti ini, harus ditangani dokter.


"Sudah Ibu bawa, tapi karena biaya administrasi nya mahal terpaksa Ibu bawa Bapak pulang lagi dan memilih buat rawat sendiri dirumah dan mengandalkan obat yang Ibu beli di apotek," jelas Erna sambil terisak. Keisya menutup mulutnya tak percaya, keadaan orang tuanya sungguh membuat hatinya terluka. Keisya merutuki dirinya sendiri, ini semua salahnya.


"Kenapa Ibu gak kasih tau Keisya kan bisa minta tolong juga sama Mama Zahra," Keisya menggenggam erat jemari Erna, air mata sudah tidak bisa dibendung lagi.


"Ibu malu Kei bila harus bergantung sama kamu, melihat kamu bahagia saja sudah cukup buat Ibu, Ibu sama Bapak gak mau mengganggu kenyamanan kamu, ini juga keinginan Bapak buat merahasiakan semuanya."


Keisya menggeleng kuat, ucapan Erna tadi salah besar justru Keisya sangat ingin direpotkan oleh kedua orang tuanya yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya.


"Keisya begini juga berkat Ibu sama Bapak, kenapa harus malu. Kalian bukan orang asing dihidup Keisya."


......

__ADS_1


***Yeay update lagi, tapi kurang dapet feel nya huhu...


Maaf hehe***..


__ADS_2