Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
37


__ADS_3

Siapa yang tau jika selama ini kehidupan Vino selalu diintai oleh bahaya yang entah mereka tidak tau bagaimana rupa dan bentuknya, asal mereka selalu berhati-hati saja dan percaya satu sama lain. Vilia sang mantan kekasih yang tidak pernah sudi jika Vino diembat orang lain, dan masih tetap kekeuh untuk mendapatkan Vino kembali walaupun dia tau jika Vino sudah tidak menginginkannya lagi tapi untuk membuat Vino jatuh cinta kembali itu sangat mudah baginya, dengan sedikit bumbu ancaman pasti Vino akan tunduk padanya, Vilia sudah tau letak kelemahan Vino sudah pasti adalah Keisya, terlihat dari bagaimana ia memberika perhatian yang begitu berlebihan padanya, membuat Vilia jijik akan hal itu. Selama mereka berhubungan Vino tidak pernah seperhatian itu padanya.


"Akkhhh memikirkan nya saja sudah membuatku geram, rencanaku sudah matang tapi peluang untuk melakukannya selalu saja tidak ada," Vilia berteriak kesal sehingga membuat ruangan menggema akan suaranya yang keras. Oh iya Vilia tidak tinggal dirumahnya lagi karena untuk menjalankan dan menyusun rencana butuh konsentrasi yang besar agar tepat dan hasilnya tidak mengecewakan jadi dia mendiami sebuah gudang kecil tapi luas, ruangannya sungguh gelap tidak ada penerangan sama sekali hanya diterangi oleh cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah yang bolong.


"Baiklah gue akan tunggu rumah itu sepi baru rencana ini berjalan," senyum ngeri ia pasang diwajahnya, pisau lipat kesayangannya ia goreskan di sofa hingga membuat sofa tersebut sobek.


*******


Herman sudah berada dirumah, kondisinya juga alhamdulillah sudah membaik. Kini satu keluarga sudah berkumpul dirumah orang tua Keisya, biasa bertamu ke rumah besan mumpung hari libur. Gak perlu jauh-jauh ke pantai atau taman hiburan buat habisin waktu libur cukup mengunjungi rumah besan sudah lebih dari cukup untuk menjalin silaturahmi mereka juga.


"Besok datang kerumah ya semua, kita dinner bareng dirumah. Sekalian kumpul-kumpul," ajak Zahra.


"Ide bagus tuh Mah, Papa boleh juga kan ajak rekan Papa," sambung Gibran yang setuju dengan usul Zahra.


"Enak saja. Kalo mau dinner sama rekan jangan ikutan dinner diluar saja ini tuh khusus untuk keluarga besar orang luar gak diajak," ketus Zahra seraya melengus menatap Gibran.


"Tadi katanya mau kumpul, ya udah ajak teman-teman Papa biar kumpulnya rame," Gibran yang masih tetap kokoh dengan permintaan nya.


"Emang kita keluarga? Enggak kan? Sekali lagi Mama ucapkan ini tuh khusus keluarga gak boleh ajak yang bukan keluarga, paham Papa?" Zahra tersenyum mengancam, yang menyaksikan drama suami istri tersebut tersenyum karena tingkah mereka. Gibran mengedikkan bahu kesal.


"Udah Papa diem aja gak bakal menang lawan Mama," Vino menengahi seraya mengusap pundak Gibran.

__ADS_1


"Terharu. Vino paling ngerti sama Mama," Zahra bertingkah sok imut membuat Gibran ingin muntah.


"Semuanya setuju kan? Besok malam kalian datang saja, masalah kendaraan nanti pak Rudi yang jemput," sambung Zahra lagi kembali ke topik awal. Herman dan Erna memang daritadi memikirkan kendaraan apa yang akan dipakai buat kesana, sedangkan angkot sangat jarang lewat apalagi taksi. Kabar bagusnya disini, besok malam atau besok pagi adalah tanggal ulang tahun Keisya jadi Zahra berencana untuk merayakan ultah nya Keisya sama-sama dirumahnya, Keisya sendiri tidak curiga sama sekali dengan usulan Zahra selagi kegiatan yang dilakukan ada kaitannya dengan keluarganya ya dia ngikut-ngikut aja, ni orang gak sadar sama sekali kalo besok adalah hari ulang tahunnya yang 19 tahun. Awalnya sih rencananya mau buat dekor yang mewah untuk Keisya tapi karena sudah terlambat jadi acaranya diganti makan-makan saja dan semoga Keisya suka.


****


"Kak mau makan snack gak biar ku ambilin dibawah," tawar Keisya pada Vino yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya.


"Iya mau," tatapan Vino tidak teralihkan dari layar laptop.


"Ya udah, Kei kebawah dulu."


"Nih kak snack nya," Keisya menyodorkan satu bungkus keripik singkong pada Vino. Vino menoleh dan meraihnya tapi kembali lagi ia berikan pada Keisya.


"Suapin," ujarnya singkat tapi sedikit memelas manja. Keisya menurutinya lalu membuka bungkus keripik tadi dan menyuapi satu persatu keripik ke mulut Vino.


"Kok rasanya pedas?" tanya Vino seraya mengipas lidahnya karena terkena bubuk cabe yang ada dikeripik itu. Vino memang tidak bisa makan makanan pedas jadi dia paling anti sama pedas, sekalinya makan pasti langsung mencret mungkin ini yang dinamakan alergi. Keisya melihat bungkus keripik itu dan disana tertulis 'Keripik singkong pedas level 70'.


"Loh kak Vino gak suka pedas ya?" tanya Keisya dengan muka tanpa dosa. Vino yang habis meneguk satu gelas air langsung menoleh.


"Gak suka," jawabnya datar.

__ADS_1


"Duh Kei minta maaf ya, gak tau soalnya. Keisya kira kakak suka pedes, mau Keisya ambilin cemilan yang manis dibawah? Ada puding, jelly, dan banyak lagi," Keisya mengabsen satu persatu makanan yang ada didapur.


"Gak perlu, minum air sudah cukup," jawab Vino masih dengan wajah datar namun dia sedang kepedesan akibat makan keripik level 70. Bayangin woy gimana pedasnya tuh keripik masih mending kan kalo level 15 atau 20 lah ini 70. Keisya merasa bersalah, dia juga ngambilnya asal soalnya ini tinggal satu dilemari jadi diambil deh tanpa melihat merek. Setelah mendingan Vino kembali duduk di sofa membuka laptopnya kemudian menatap kearah Keisya yang tengah menunduk, ditangannya masih tergenggam keripik tadi.


"Kamu kenapa?" tanya Vino. Keisya tak menjawab dan masih tetap menunduk, tiba-tiba terdengar suara isakan tangis. Vino langsung kaget.


"Kamu nangis?" Vino meraih dagu Keisya dan benar saja Keisya tengah menangis.


"Hey, i'm fine. Jangan khawatir, kamu gak salah kok! Jika ada kesalahan dalam ucapanku tadi maaf, aku tadi tidak sadar jika terlalu keras sama kamu," Vino jadi ikutan merasa bersalah. Karena Keisya tak kunjung memberikan jawaban Vino langsung merengkuh tubuh kecil Keisya kedalam pelukannya.


"Udah ya jangan nangis. Kamu jelek kalo nangis," Vino menertawai Keisya yang tengah mewek.


"Kak Vino jahat, orang lagi nangis digangguin," Keisya memukul punggung Vino kesal.


"Iya iya aku minta maaf, berhenti nangis dulu tapi nanti diliat Mama aku juga yang digeplak pake wajan."


"Keisya juga minta maaf, gara-gara Keisya wajah kak Vino jadi memerah karena kepedesan."


"Masa sih mukaku jadi merah?" Vino tak percaya.


"Iya tadi wajah kakak kayak habis dibakar," Keisya tertawa membayangkan raut muka Vino, tadi padahal dia sedang menangis tapi sempat sempatnya tertawa lucu. Vino ikut tertawa, tidak peduli gimana ekspresinya tadi yang penting mereka baikan.

__ADS_1


__ADS_2