
Zahra sibuk melihat-lihat hasil potret yang ia dapat, tangan lentiknya bergerak lincah diatas layar ponselnya, mencari yang bagus dan cocok untuk di upload di story Instagram miliknya pribadi. Sampai akhirnya tangan lentik itu berhenti menggeser layar, sepertinya dia sudah berhasil menemukan pict yang cocok.
Vino sedang sibuk dengan ponselnya tiba-tiba datang notifikasi pemberitahuan. Vino mengernyit, karena notifikasi tersebut bukan SMS ataupun chat melainkan pemberitahuan bahwa Zahra menandai dirinya dalam postingan di Instagram. Vino menekan nya dan melihat gambar mereka berempat tapi sayangnya hanya baju Vino yang tampak kepala dan badannya tidak ada, posisi Zahra yang berada di depan membuatnya tidak terlalu kelihatan.
"Kalo kayak gini gambarnya gak usah tandain Vino," dengus nya. Vino beralih melihat caption yang ditulis oleh Zahra, sedikit geli membaca caption emak-emak.
"Lagi piknik bareng keluarga di bukit, yang mau ikut silahkan jual diri dulu"
"Sungguh aneh binti gila," gumam Vino berdecak. Belum sampai disana, Vino dibuat tercengang lagi oleh hastag yang digunakan Zahra.
#Zahracans#likedong#follback#belum_kawin# masih_single#yg_gak_like_kakinya_buntung#
Orang yang liat postingan Zahra jadi gak berani abaikan ya, harus di like kalo nggak ntar kakinya buntung, cepat-cepat Vino menekan tombol like walaupun masih kesal dengan potonya yang hanya menampilkan bajunya saja. Sungguh kejam.
Zahra yang duduk disamping tertawa puas karena postingan nya mendapat banyak sekali like termasuk dari Vino, Zahra yang tau betul Vino itu kayak gimana, dia paling anti like-like postingan. Postingan Mama nya saja diabaikan apalagi yang lain kan.
"Ada untungnya juga buat hastag kayak gini," batin Zahra tertawa.
Setelah puas piknik dan makanan juga sudah habis, jam juga sudah menunjukkan pukul 10 pagi menjelang siang, mereka memutuskan untuk pulang saja merasa sudah sangat lama mereka disini. Teman piknik yang lainnya juga bersiap-siap untuk pulang. Piknik kali ini sangat berkesan pada mereka walaupun ada suka duka nya juga
....
....
__ADS_1
"Woy ngelamun aja, lagi mikiran apaan sih sampai gak nyadar gue ada disini?" tanya Sita mengejutkan Fitri yang tengah duduk melamun disampingnya.
"Gue gak apa-apa, cuma capek doang," Fitri memijat pelipisnya pusing. Tapi Sita tau bahwa Fitri berbohong, terlihat dari matanya yang merah dan sedikit bengkak, sepertinya Fitri menangis semalam.
"Berat banget ya beban hidup lo sampe segitunya?" raut wajah Sita ikut sedih karena sahabatnya ini makin hari makin terpuruk, tanpa pikir panjanh Sita menarik tubuh Fitri untuk memeluknya berniat agar sahabatnya ini bisa lebih tenang dan mau berbagi kesedihannya, supaya tidak memendam sendirian. Fitri terisak mengeluarkam bulir bening berharganya, padahal tadinya dia tidak ingin menangis dan terlihat lemah didepan kawan kawannya tapi pertahanan itu hancur begitu saja, Fitri sudah tidak kuat.
"Sudah, lo lepasin aja. Jangan terlalu dipikirkan, semua yang berlalu biarkan saja, dan mulai hari ini sampai seterusnya lo mulai dari awal," Sita mengusap punggunh sahabatnya tulus.
"Wih ada drama gratis, gue ketinggalan adegan yang mana?" tiba-tiba Gita muncul dengan Lena yang baru saja dari kantin buat beli makanan, mahasiswa yang lain sudah pada pulang tersisa empat teletubbies ini di ruangan tapi dua nya lagi pergi ke kantin, tadi sih Sita ikut ke kantin meninggalkan Fitri sendirian tapi karena gak tega jadi dia balik lagi padahal ada sesuatu yang mau dia beli terpaksa nitip sama dua sahabat kamvret nya.
"Loh si Fitri kenapa? Kok nangis?" Lena melepas begitu saja cemilan yang baru saja ia buka bungkusnya lalu berjalan menuju kedua perempuan yang sedang berpelukan. Sita meletakkan telunjuknya di bibir mengisyaratkan untuk mereka diam saja
"Kalian berdua diem aja, gak usah ganggu. Fitri lagi banyak masalah."
Setelah tenang, Fitri melepaskan pelukannya dan menatap ketiga sahabatnya bergantian kemudian tersenyum simpul agak sedikit dipaksakan. Bagi tiga orang itu ini adalah hal yang langka melihat Fitri tersenyum biasanya dia mah judes mulu, disapa dikit ngamok gak ngerti lagi sama sifatnya.
"Makasih karena kalian bertiga sudah mau jadi sahabat sekaligus rumah kedua buat gue, makasih juga sudah mau mendengar cerita atau curhatan gue ketika gue lagi patah hati ataupun lagi terpuruk, tapi maaf untuk yang ini gue belum bisa cerita semuanya sama kalian, gue mau mendem sendiri dulu nanti jika sudah waktunya gue pasti bakalan cerita, bukan tanpa alasan gue kayak gini, gue cuma gak mau kalian ikut kepikiran dengan masalah gue, ini juga termasuk privasi keluarga gue, jadi gue hanya mau ngucapin makasih dan maaf," jelas Fitri panjang lebar disertai senyuman hangat yang belum pernah mereka lihat sebelumnya dari sosok Fitri yang terkenal judes ini. Bisa dibilang ini moment langka.
Walaupun Fitri tinggal dirumah Sita tidak pernah sedikitpun ia membocorkan masalahnya pada Sita karena malu, jadi dia memilih buat alasan saja jika ditanya kadang kala juga ia mengelak jika ditanya.
"Padahal gue berharap lo bisa lebih terbuka sama kita, tapi gak apa-apa kok kita menghargai keputusan lo, dengan syarat lo gak boleh sedih lagi," ujar Lena merasa terenyuh dengan ucapan Fitri.
"Iya iya, tapi gue gak bisa janji karena kalo gue lagi merenung masalah itu datang lagi mau gak mau gue harus nangis buat lampiaskan semuanya," jawab Fitri enteng.
__ADS_1
"Kalo lo nangis lagi gue ceburin lo ke kolam buaya," ancam Gita sambil bersidekap dada.
"Lo duluan yang gue lempar ke kandang harimau," balas Fitri. Keempat nya langsung tertawa karena perdebatan garing ini.
....
....
"Kak, kak Vino!" Keisya menggoyangkan lengan Vino yang sedang tertidur nyenyak. Gak tau kenapa Keisya tiba-tiba kebangun tengah malam begini, perutnya seperti diaduk ingin memuntahkan sesuatu, kepalanya pusing.
"Hm." Vino bergumam pelan kemudian memperbaiki posisi tidurnya membelakangi Keisya.
"Bangun kak, temenin ke kamar mandi, aku gak berani sendiri," rengek Keisya.
"Kan kamar mandi ada didepan mata sayang, masa takut sih."
"Ya tetep aja takut, gelap! Ini tengah malam juga, nanti kalo tiba-tiba ada maling atau hantu nyergap aku dari belakang gimana? Udah ah jangan banyak omong, aku udah gak kuat pengen muntah," Keisya terus saja menarik lengan Vino membuat sang empunya beranjak dengan malas.
Vino menyalakan lampu kemudian menuntun istrinya ke kamar mandi.
"Kamu sakit? Masuk angin karena jalan-jalan tadi pagi?" tanya Vino setelah Keisya selesai memuntahkan isi perutnya.
"Nggak tau, tiba-tiba aja perut aku mual."
__ADS_1
"Minum obat dulu habis itu tidur ya, besok kita ke dokter. Kalo ke rumah sakit sekarang kan gak mungkin ada yang buka," jelas Vino, Keisya mengangguk mengiyakan lalu kembali ke ranjang, rasa mualnya juga mula agak menghilang.