Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
79


__ADS_3

Keisya mengernyit kala melihat dua orang laki-laki dan perempuan tengah duduk membelakanginya. Memang jika dilihat dari tangga posisi sofa menghadap ke utara jadi otomatis gak bisa kelihatan siapa yang duduk disana kecuali Keisya kenal sama orang tersebut. Tanpa pikir panjanh, Keisya menyeret kakinya untuk berjalan mendekati kedua tamu yang katanya ingin bertemu dengannya.


"Maaf, nunggu lama," kalimat pendek yang terlontar dari mulut Keisya membuat kedua orang tersebut langsung mengalihkan atensinya. Tak bisa Keisya sembunyikan rasa terkejut nya, benarkah yang berdiri di depannya ini kakaknya yaitu Fitri? Dan tunggu, siapa lelaki yang bersamanya ini, ahh mungkin pacarnya batin Keisya.


Fitri melompat ke pelukan Keisya, untung saja bumil itu memiliki refleks yang baik jadi bisa menyeimbangkan diri saat Fitri yang tiba-tiba memeluknya tanpa aba-aba, dan untung dia tidak terjungkal ke belakang.


Hening. Suasana kali ini benar-benar hening, mereka saling diam tak ada yang mau membuka suara, sementara Fitri masih setia dalam pelukannya bersama Keisya, tangan mungil nya terangkat untuk mengusap punggung sang kakak yang sudah lama ini tidak ia temui entah dia tinggal dimana. Dapat Keisya dengar Fitri tengah menangis. Sementara lelaki asing tadi hanya menonton drama pertemuan antara kakak dan adik yang sudah lama terpisahkan, gak terlalu lama sih cuma setengah tahun doang alias enam bulan.


"Kita duduk dan bicara ya kak," Keisya membawa Fitri untuk duduk di sofa berhadapan dengan lelaki berwajah asing yang Keisya tidak kenali. Usah tangis Fitri mereda, Keisya meminta penjelasan yang detail mulai dari dimana kakaknya tinggal dan seterusnya.


Fitri mulai dengan ceritanya, yang berbohong bahwa ia akan keluar kota tetapi nyatanya numpang tinggal dirumah temennya. Sejenak Keisya merasa sedih dengan kondisi Fitri.


"Oh iya Kei, aku lupa memperkenalkan Reyhan sama kamu. Reyhan adalah calon suamiku, kami akan menikah bulan depan, dia juga merupakan kakak dari teman tempat aku tinggal bisa dibilang kita cinlok," kekeh Fitri merasa malu mengingat masa-masa pendekatan mereka selama dirumah, bukan berduaan aja ya dirumah tapi ditemani sama Sita juga, Sita yang awalnya yang selalu nistain abangnya dan gak biarin Fitri jadi korban akhirnya luluh juga karena merasa perjuangan dari abangnya ini yang sangat ingin mendapatkan Fitri, usahanya gak main-main sih dan gak biasanya Reyhan sampai segininya kalo masalah cewek, dan alhasil karena dorongan dari Sita dan juga rasa sukanya akhirnya Fitri bersedia menerima Reyhan dan berencana akan mengadakan pernikahan bulan depan menunggu kedua orang tua Reyhan balik kampung maksdunya pulang ke rumah.


Jangan tanya gimana reaksi Keisya ya tentu saja shock, ternyata kakaknya ini udah mau nikah. Rekasinya antara bahagia dan kaget, campur aduk jadi satu.


"Kakak serius? Terus Ibu sama Bapak sudah tau soal ini, kakak sudah ketemu mereka?" pertanyaan beruntun yang dilontarkan Keisya seketika membuat senyum Fitri memudar. Fitri menggeleng kuat, itu tandanya dia masih belum berani untuk bertemu kedua orang tuanya lebih tepatnya orang tua angkat yang selama ini selalu menyayanginya, cuma dia saja yang gak peka.


"Kenapa?" Keisya kembali melemparkan pertanyaan.

__ADS_1


"Aku masih belum berani menampakkan wajah hinaku ini ke depan mereka," Fitri kembali terisak kali ini lebih kuat. Reyhan hendak berdiri dari tempatnya dan pindah duduk buat nenangin calon istrinya anjayy calon istri gak tuh..


Tapi aksinya tertahan kala melihat pergerakan Keisya yang sigap langsung merengkuh tubuh tinggi Fitri dalam dekapannya yang hangat. Reyhan menghela nafas dan kembali mendudukkan bokongnya dan mulai menonton drama gratis part 2.


"Gak apa-apa kak, pelan-pelan aja. Nanti kita pergi sama-sama ya. Kakak tau gak dari dulu ibu sama bapak selalu nyari kakak, nelpon Keisya sambil nangis nanya kabar kakak, selama ini mereka selalu bersedih dan masih gak rela jika kakak kabur meninggalkan mereka, aku sampai kewalahan buat nenangin mereka, sesayang itu orang tua kita sama kakak, jadi buat apa malu ketemu, kakak pasti akan disambut dengan sangat baik," jelas Keisya menangkan Fitri sembari menepuk-nepuk pelan punggung Fitri.


"Tapi tetap saja Kei, aku masih gak bisa melupakan kesalahan yang selama ini ku perbuat pada mereka, aku memang anak yang tidak tau terima kasih. Aku rasa aku pantas menderita," Fitri merutuki dirinya sendiri.


"Huss gak boleh ngomong gitu, orang baik pasti akan selalu ketemu takdir yang baik begitu juga dengan kakak."


"Huh aku bukan orang baik Kei, aku ini kejam bahkan sama kamu sendiri."


"Belum siap," Fitri menggaruk tengkuknya.


"Siap gak siap ya harus siap, kalo terus terusan kayak gini kakak gak bakalan siap. Besok aja gimana?"


"Cepet banget, kasih waktu lah tiga hari," pintanya.


"No! Gak ada waktu waktuan, harus besok. Setuju ya, janji dateng besok. Gak boleh lari, awas," Keisya menautkan jari kelingkingnya dengan kelingking Fitri, cara berucap janji ala-ala orang dulu. Fitri terkekeh geli dengan tingkah Keisya yang masih saja kayak anak kecil padahal udah mau berbadan dua.

__ADS_1


....


....


Vino meregangkan otot tubuhnya, baru bangun tidur harus olahraga sedikit biar sehat. Ternyata enak juga ya bangun siang, tanpa gangguan lagi. Vino mengedarkan pandangannya, siapa lagi yang dicari kalo bukan Keisya si istri kesayangan. Duduk tepi ranjang buat kumpulij nyawa dulu karena setengah nyawa Vino ada di Keisya, tau ah lebay amat. Vino berjalan gontai menuju pintu hendak ke dapur buat ambil minum. Sejenak Vino melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 11 siang.


"Buset, gue tidur selama itu? Anjir lah, ini mah rekor tidur gue yang paling lama," gumam Vino kemudian melanjutkan langkahnya menuju anak tangga. Tatapannya tidak sengaja memandang objek diruang tengah, yang satunya ia kenal bentuk badannya yaitu Keisya sementara yang duduk disampingnya Vino kurang jelas liatnya soalnya matanya juga masih burem habis bangun tidur belum cuci muka juga.


"Lah ada laki-laki juga ternyata, ini ada apaan sih masih pagi udah bertamu," gerutu Vino (btw mohon maaf ini sudah hampir siang).


Tadinya sih mau abaikan aja tapi mendengar namanya dipanggil Keisya dia jadi menoleh.


"Kak baru bangun?" tanya Keisya. Vino memutar bola matanya malas kala Keisya melontarkan pertanyaan retoris, sudah tau orangnya ada didepan mata pake ditanya lagi.


"Belum, masih rebahan dikasur."


"Gak lucu. Ayo kak temui kak Fitri sekaligus kenalan juga sama calon suaminya, aku seneng banget karena dia sudah kembali dan sekaligus bawa berita bahagia juga," Keisya menarik paksa tangan Vino.


"Gak ada malunya sama sekali, ternyata masih inget balik juga, dasar," gerutu Vino, untung saja Keisya gak denger, kalo denger bisa digeprek si Vino.

__ADS_1


Rasanya malas jika bertemu dengan nenek lampir yang dulu kejamnya minta ampun.


__ADS_2