Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
69


__ADS_3

Keisya menunduk, duduk termenung di anak tangga menyandarkan kepalanya pada besi yang dilapisi cat warna coklat, kejadian tadi memang singkat tapi tetap terngiang ngiang di otaknya. Sesekali terdengar hembusan nafas kasar dari gadis itu, hidupnya terlihat pasrah setelah melihat video yang menampilkan dirinya sedang makan berdua dengan asisten suaminya. Padahal itu tidak disengaja batinnya. Ada perdebatan singkat terjadi di kamar mereka sehingga membuat Keisya menyerah saja untuk saling adu argumen dengan Vino karena dia sadar tidak akan menang melawannya jika sudah menyangkut tentang perselingkuhan walaupun Keisya tidak melakukan itu tapi tetap saja otak Vino sudah terkontaminasi dengan emosi dan kecemburuan.


Satu jam yang lalu...


Keisya memberanikan mendongak menatap manik mata tajam Vino yang tengah memandang nya datar tapi sedikit menusuk. Vino mengambil ponselnya kemudian menyodorkan pada Keisya tanpa sepatah kata, Keisya yang paham maksud tatapan itu dengan ragu-ragu mengambil benda pipih kecil dari tangan Vino. Keisya mengernyit karena ada gambar dirinya dan Aldi tengah makan disana beserta video yang Keisya sendiri tidak tau isinya karena belum di play.


Matanya membelalak kaget karena dalam video ada adegan dimana Aldi mengelap bekas saos di pipinya. Apa karena ini Vino mendiamkannya? Bukankah dia sendiri yang menyuruh Keisya buat sama Aldi jika dia bosan?


Vino menaikkan satu alisnya, menatap lekat reaksi istrinya setelah tau apa kesalahannya.


"T-tapi itu tidak disengaja kak, apa gara-gara ini kakak marah padaku?" Keisya menuntut penjelasan.


"Pikir saja sendiri," ketus Vino kemudian berdiri tak lupa merebut ponselnya dari tangan Keisya yang masih mematung di tempat. Menatap kepergian Vino yang berjalan menuju balkon kamar untuk menikmati angin malam, mau nyamperin tapi gak berani takut diceramahin. Tidak, dia harus berani dan akan menyelesaikan masalah ini dengan cepat tidak peduli dengan rasa takutnya yang penting dia sudah berusaha.


"Kak, kakak dapat darimana video itu? Apa kakak menguntitku? Setidak percaya itukah kakak padaku sampai mengirim paparazi untuk mengikutiku?" tanya Keisya tanpa ragu, kata-kata itu mencelos begitu saja dari bibirnya.


Vino mengalihkan pandangannya, menatap Keisya sambil tertawa remeh.


"Sebelum bicara dipikir dulu, buat apa aku melakukan hal itu, buang-buang waktu," Vino kembali berbalik dan memejamkan matanya membiarkan angin malam menerpa wajahnya.


"Lantas darimana kakak mendapatkannya jika tidak mengikutiku?" Keisya masih tetap kekeuh ingin tau.


"Kenapa? Takut ketahuan selingkuh?" sinis Vino.

__ADS_1


"Selama hidup aku, aku nggak pernah kepikiran buat nyelingkuhin kakak, buat apa? Jika aku sudah punya suami yang baik perhatian dan romantis seperti kakak untuk apa lagi aku cari kenyamanan diluar sana apalagi sama asisten suami aku sendiri?"


Benar juga. Vino saja yang mudah terbawa emosi, tapi mendengar kalimat Keisya tadi sedikit membuat hatinya menghangat sekaligus baper karena dikira perhatian dan romantis padahal Vino sendiri tidak tau apa itu romantis, tapi tahan gengsi Vino lebih tinggi jadi jangan mudah luluh dulu, kasih Keisya hukuman sedikit biar jera.


"Jika aku ada niatan buat selingkuh buat apa aku pulang ke rumah ini, inget kak aku bukan perempuan murahan," Keisya terisak lalu kemudian pergi meninggalkan kamar dan memilih duduk dianak tangga. Vino tertegun mendengarnya, apa mereka harus baikan sekarang aja ya? Entahlah Vino pusing.


"Keisya, kamu ngapain duduk sendiri disini? Gak ke kamar?" Zahra tidak sengaja melihat menantunya duduk termenung disana tengah membelakanginya. Cepat-cepat Keisya menyeka sisa air matanya kemudian menatap Zahra dengan senyum keterpaksaan.


"Sayang, kamu nangis?" Zahra ikutan duduk kala melihat mata sembap milik Keisya.


"Nggak kok Mah, tadi cuma kelilipan doang." Bohong. Mana ada kelilipam sampai terisak begitu.


"Jangan bohong sama Mama, Mama bisa bedakan mana kelilipan sama nangis, jadi jujur saja sama Mama, kamu dimarahin sama Vino atau kamu dipukul? Sini Mama yang lawan," Zahra bersiap-siap berdiri ingin menuju kamar putranya hendak memberinya pelajaran karena telah membuat menantu kesayangannya ini menangis. Keisya sedikit merada terhibur dengan tingkah mama mertuanya yang selalu membela dalam keadaan apapun, dan Keisya bersyukur akan hal itu.


"Kok ketawa sih? Mama serius loh," Zahra menggerutu karena reaksi Keisya tak seperti dugaannya namun disisi lain ia juga ikut bahagia karena menantunya kembali tersenyum tidak sedih seperti tadi lagi.


"Ya sudah, tidur ya besok mau ikut Mama gak?"


"Mama mau kemana?"


"Shopping ke Mall, hanya kita berdua. Menghabiskan uang dengan belanja baju, tas, sepatu dan lain-lain," tutur Zahra dengan antusias yang tentu saja dibalas anggukan setuju dari Keisya.


***

__ADS_1


Keadaan sudah lebih baik setelah banyak bercerita dengan Zahra, Keisya memasuki kamarnya.


Gelap. Satu kata yang bisa mendeskripsikan kondisi kamar mereka, sepertinya Vino sudah tidur tanpa dirinya, tapi kenapa Vino tidak menyalakan lampu tidur. Jalan perlahan menuju ranjang, gelap sekali Keisya takut. Takut juga jika menabrak sesuatu dalam keadaan ruangan gelap seperti ini. Ketemu. Akhirnya Keisya sampai ditepi ranjang, meraba sekitar dan tidak sengaja menyentuh sesuatu entah itu apa tapi yang jelas Keisya bisa tebak itu salah satu anggota tubuh Vino. Apa tubuhnya memenuhi seisi ranjang? Lantas dia akan tidur dimana? Gak mungkin dia tidur di sofa, dia takut gelap dan gak suka kesepian.


Keisya duduk ditepi ranjang, menatap sekitar yang sama sekali tidak kelihatan walaupun sudah memasang tatapan jelas, masih berfikir dia akan tidur dimana. Mau nyalain lampu tapi takut nanti Vino kebangun dan malah marah-marah padanya.


"Tidur dibawah aja kali ya?" cicit Keisya hendak berdiri dan merebahkan tubuhnya dibawah, tapi tiba-tiba dari belakang tubuhnya dipeluk dengan sangat erat seakan enggan untuk melepasnya walau hanya sedetik.


"K-kak. Aku merasa sesak," ungkap nya berusaha melepaskan pelukan Vino yang semakin mengerat.


"Maaf."


Satu kata yang membuat Keisya meluluh dan terdiam, senyum bahagia terukir diwajahnya dalam kegelapan malam. Hening sejenak.


"Maaf karena telah bertindak gegabah, aku sama sekali tidak memikirkan nya mana mungkin kamu akan melakukan hal seperti itu. Tapi tetap saja aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan orang lain terlebih lagi sama Aldi, jika aku tidak berfikir dengan waras mungkin aku sudah memecat lelaki itu karena sudah berani merebut milikku," Vino mengeluarkam semua unek-uneknya, Keisya paham semua orang pasti akan cemburu melihat pasangan mereka dekat dengan orang lain, ya Keisya mengerti.


Keisya terkekeh pelan membuat tubuhnya sedikit bergetar.


"Jangan mengambil keputusan yang akan kakak sesali, semua orang bisa saja cemburu dengan berita yang tidak benar, terlebih lagi kakak tidak tau hal yang terjadi sebenarnya sehingga selalu memutuskan dengan cepat tanpa berfikir," Keisya mengelus tangan Vino yang melingkar dipinggangnya.


"Iya, aku terlalu terbawa emosi. Jadi maafkan aku," Vino membenamkan wajahnya pada ceruk leher Keisya menghirup aroma tubuh sang istri, Keisya merasa geli karenanya.


"Jadi semua hanya salah paham, jangan lagi terpancing dengan berita hoax, aku gak mau didiemin kayak gini lagi," Keisya mencebik.

__ADS_1


"Iya aku janji tidak akan seperti ini."


Mereka berpelukan sebentar, sebelum akhirnya memutuskan untuk tidur karena sama-sama lelah adu mulut tadi walaupun sebentar..


__ADS_2