Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
41


__ADS_3

"Sayang ini pesanan kamu, sama videonya sekalian," Vino menyerahkan tas kresek hitam serta ponsel Aldi ke arah Keisya.


Keisya beranjak dari tidurnya kemudian mengambil apa yang disodorkan kepadanya. Keisya menonton sampai habis sambil memakan martabak manis dengan toping isinya keju semua, tapi dia suka. Sesekali Keisya tertawa karena tingkah abangnya yang lucu, Vino sendiri ikut nonton langsung merasa geli melihat abang-abang penjual martabak joget kayak gitu. Durasinya tidak terlalu panjang hanya tiga menit saja, tapi syukurlah Keisya sudah terhibur karenanya. Keisya kemudian menyerahkan ponsel itu ketangan Vino dan lanjut memakan sisa martabaknya.


"Udah gitu doang?" tanya Vino bingung.


"Memangnya apa lagi? Mau kusuruh lagi?" tanya Keisya balik namun sedikit mengancam.


"Gak kok gak, ya udah kamu habisin saja dulu aku mau keluar sebentar," Vino turun dari ranjang dan segera keluar menuju ruang tengah tempat Aldi menunggu karena ponselnya sedang dipinjam. Untung saja para pelayan membuatkan minuman untuk Aldi serta aneka kue dan buah buahan untuk dimakan selagi menunggu, jadi dia tidak badmood lagi.


"Nih ponsel kamu," Vino menyodorkan ponsel milik Aldi. Aldi dengan santai meraihnya dan lanjut makan dan minum. Vino menatapnya dengan sinis, enak banget ni orang makan-makan tanpa menawarkan pada yang punya rumah malah makan sendiri.


"Meeting nya jadi?" tanya Vino.


"Gak jadi, kan Bos yang suruh batalin ya udah saya kasih tau klien yang lain meeting nya ditunda besok," Aldi meneguk jus nya sampai habis sampai meninggalkan bekas disudut bibirnya membuat Vino yang melihatnya sedikit mendengus.


"Setelah habis kamu boleh pulang," Vino hendak pergi meninggalkan Aldi namun segera ditahan.


"Eh Bos mau kemana, temani saya makan dulu dong. Takut saya sendirian disini," ujar Aldi.


"Dasar penakut, ini bukan rumah hantu jadi gak usah takut. Sudah ya sama mau istirahat, sekali lagi thanks untuk semuanya kamu memang dapat diandalkan," Vino pun beranjak pergi, Aldi yang mendapat pujian seperti itu tersenyum malu.


Vino tidur disebelah Keisya yang terlelap, sepertinya kekenyangan makanya tidurnya terlihat pulas sekali.


****


Keisya terbangun dalam dekapan Vino, aroma khasnya memenuhi indra penciuman nya. Keisya selalu suka aroma Vino, selalu membuatnya tenang. Keisya membalas pelukan Vino tak kalah erat sampai membuat yang punya tubuh terbangun dan tersenyum manja melihat Keisya.


"Nyaman ya sampe meluknya erat banget?" goda Vino tak lupa dengan kecupan hangat dipucuk kepala Keisya. Keisya menggerakkan kepalanya mengangguk mengiyakan.


"Kak jam berapa?"


Vino meraih ponselnya untuk melihat jam.

__ADS_1


"Jam empat sore," jawab Vino.


"Hah yang bener? Kita kan ada janji dinner malam ini seharusnya sekarang kita siap-siap," Keisya tak main paniknya dan bergegas untuk pergi ke kamar mandi, baru saja mau bangun Vino langsung menariknya dan Keisya kembali terbaring didekatnya.


"Masih lama, sebaiknya kita bersenang-senang dulu," Vino menaikkan alisnya.


"Bersenang-senang bagaimana?" Keisya menggaruk tengkuknya tidak paham.


"Seperti ini," Vino langsung menindih tubuh Keisya dan menciumi seluruh wajah Keisya hingga membuatnya memberontak.


"Kak! Kak Vino aku merasa sesak. Hentikan!" Keisya mendorong tubuh Vino untuk menjauh namun Vino tak menghiraukannya dan tetap lanjut menjahili Keisya.


"Kakak ish, sakit! Jangan digigit!" Kali ini Vino mulai menggigit leher Keisya pelan. Vino menghentikan aksinya dan menatap Keisya penuh nafsu.


"Ayo lakukan sekarang," Vino kembali mencium Keisya dengan brutal.


"Kak jangan sekarang, nanti malam kita ada dinner kalo cara jalan aku aneh bisa malu," Keisya menjelaskan agar Vino paham.


"Baiklah, tapi aku harap kamu tidak menolak apa yang ku lakukan sekarang," Vino beralih ke leher jenjang milik Keisya dan membuat tanda sebanyak mungkin. Keisya membulatkan kedua bola matanya karena Vino tidak terkendali. Jika tidak dihentikan maka leher Keisya akan penuh dengan tanda merah yang dibuat sendiri oleh Vino. Tapi nihil, Vino tidak mau berhenti.


"Puas?" ketus Keisya dengan nafas yang terengah engah lalu mendorong tubuh Vino yang masih ada diatasnya. Keisya berjalan kearah cermin untuk melihat pantulan dirinya.


"Kak Vino!!!!!" Keisya berteriak kencang saat melihat lehernya sudah dipenuhi tanda merah bahkan sudah full disana. Keisya menatap tajam kearah Vino yang hanya tertawa puas.


"Apa kata semua orang nanti kakak," Keisya masih tidak terima, menghapus tanda itu adalah usaha yang sangat mustahil karena tidak akan bisa hilang.


Keisya berjalan gontai ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Vino hendak ikutan masuk namun segera ditahan oleh Keisya masih dengan tatapan tajamnya yang menusuk.


"Ayolah sayang aku mau mandi bareng," Vino mengetuk pintu kamar mandi berulang kali tapi tidak mendapat tanggapan sedikitpun dari Keisya. Vino kembali duduk diatas ranjang menunggu Keisya selesai mandi.


Tak berselang lama Keisya keluar dengan menggunakan handuk. Raut wajahnya masih terlihat kesal, enggan menatap Vino yang sudah stay daritadi didepannya.


"Apa liat-liat?"

__ADS_1


"Kamu kok marah sama aku?"


"Kimi kik mirih simi iki," cibir Keisya ketus membuat Vino kembali tertawa, tingkahnya seperti anak kecil.


"Ketawa lagi, udah sana pergi aku mau ganti baju," Keisya menepis tangan Vino yang hendak memeluknya.


"Habis mandi boleh peluk kan?"


"Gak!"


"Kamu tega sama aku, baby lihat kelakuan Mama kamu tega banget sama Papa," Vino beralih mengadu pada anaknya yang belum lahir alias masih dalam perut tapi besarnya kayak kacang tanah.


"Gak usah dengerin Papa kamu, dia nakal," Keisya memprovokasi janinnya.


Keisya bingung harus pake baju apa malam ini agar lehernya tidak kelihatan.


"Masa pake baju leher panjang lagi sih? Gerah. Kalo pake syal pasti semakin gerah, padahal tadinya aku mau pake dress," Keisya kemudian meraih kaso leher panjang yang digantung disebelah baju yang dilipat.


"Mix sama dress cantik gak sih?" gumam Keisya lalu mengambil dress selutut warna navy. Pertama-tama Keisya mengenakan kaos leher panjang kemudian mengenakan dress diluar.


"Tidak buruk. Tapi mungkin akan sedikit gerah. Ahh siapa peduli asalkan leherku tidak kelihatan," monolog Keisya dalam lemari yang sibuk dengan baju.


"Sayang aku sudah selesai mandi, mana pelukan untukku?" Vino mengetuk lemari besar tersebut alhasil Keisya keluar dengan baju nya yang tadi. Vino terdiam melihat baju Keisya.


"Yakin pake yang itu?"


"Terus pake yang mana lagi?" nada suara Keisya masih ketus.


"Kamu gak gerah?"


"Gak tau," Keisya mengedikkan bahunya tidak peduli kemudian berjalan kearah cermin.


"Sedikit aneh tapi cocok juga," gumamnya. Vino datang memeluknya dari belakang, Keisya cuma diam dia masih merasa kesal.

__ADS_1


"Lepaskan, pake saja baju kakak lalu turun ke bawah," Keisya melepaskan tangan Vino yang melingkar di pinggangnya kemudian berlalu pergi.


Maaf hari ini cuma bisa up satu episode, maaf juga kalo gak jelas hehe


__ADS_2