Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
94


__ADS_3

Sita mendudukkan dirinya di samping sang Mama yang tengah berbincang-bincang manja sama calon besan. Cepet banget akrabnya heran deh padahal baru juga ketemu, itulah salah satu keajaiban emak-emak di dunia ini. Di seberang Sita ada Alfan yang duduk berhadapan dengan nya, lelaki itu melempar senyum manis sambil dadah-dadah gak jelas, Sita memutar bola matanya malas mendapat perlakuan seperti itu dari Alfan. Nih anak kayak orang bego anjir, belum nikah udah ilfeel duluan jadi nya.


"Cantik sekali ya anak nya Bu Gea, Alfan kamu pandai sekali cari calon istri," puji Emak nya si Alfan yang namanya Wina.


"Iya dong siapa dulu," songong banget depan calon istri dan mertua, bergaya dengan cara menyibakkan rambutnya ke belakang. Gak dapet restu mampus lo.


Dih si jamet sok keren, batin Sita menatap Alfan malas.


"Baik, kita mulai saja untuk menentukan tanggal nya," Papa Sita menengahi dan memulai diskusi.


Terjadi sedikit perdebatan saling adu argumen antara kedua orang tua Alfan dan orang tua Sita karena tanggal nya yang tidak tepat menurut mereka, Sita memejamkan mata nya kesal. Perdebatan ini sungguh membuatnya muak.


Setelah melewati masa debat yang panjang, setengah jam habis untuk mereka adu argumen, jika tidak ada acara debat-debatan mungkin akan selesai dengan cepat tadi. Keputusan akhirnya keluar, Alfan dan Sita akan tunangan seminggu lagi dan untuk acara pernikahannya setelah acara wisuda yaitu satu minggu ke depan. Jadi rentang waktu nya yaitu 3 minggu lagi.


Sita menghela nafas pelan.


"Karena sudah selesai, Sita mau masuk kamar dulu," Sita beranjak berdiri kemudian naik ke lantai dua.


"Maaf ya, mungkin Sita cape soalnya daritadi pagi dia bersih-bersih rumah," ujar Gea mencairkan suasana, takut jika keluarga besar Alfan berfikiran yang nggak-nggak tentang Sita. Yang lain hanya mengangguk maklum.


.....


Di Kampus....


"Pagi calon bini," Alfan berjalan santai menghampiri Sita yang tengah menulis surat cinta untuk starla bersama Lena yang setia menemani kapanpun dan dimanapun Sita berada, kalo Gita sudah pulang duluan katanya harus bantuin tantenya jual diri, ups.....

__ADS_1


Sita mendelik tajam ke arah Alfan mengisyaratkan agar tidak ember dan harus menjaga mulutnya ketika berbicara, ia tidak ingin semua teman kampusnya terutama sahabat dekatnya tau kalau dia bakalan menikah dengan jamet incaran dosen ini. Incaran bukan karena naksir ya tapi sebaliknya, kalian semua paham lah ya.


Atensi Lena teralihkan karena suara nyaring dari arah pintu membuat kefokusannya buyar.


"Ehh gentong minyak, bisa nggak menghayal nya nanti saja, lo gak liat kita sedang ada tugas," bentak Lena yang sudah capek dari kemarin di gangguin mulu sama jantan satu ini.


"Dihh terasi udang ngamok, siapa juga yang gangguin lo orang gue cuma narik perhatian Sita, lagipula dia sebentar lagi akan jadi is-eemmphhh," Sita menyumpal mulut Alfan dengan gumpalan kertas karena kesal.


"Ngomong sekali lagi gue tenggelamin lo di sumur belakang kampus," ancam Sita kemudian merapikan buku-buku nya lalu pergi.


"Gara-gara lo tuh mood Sita jadi rusak, inget pesan gue lain kali gak usah banyak tingkah, Sita gak bakalan cinta sama lo, modelan jamet warteg kayak lo bukan selera dia mending ngaca sering-sering deh, punya kaca kan? Kalo gak punya biar gue beliin di toko kue," Lena tertawa cekikiakan lalu ikut keluar menyusul Sita meninggalkan Alfan yang terluka hatinya, terluka tapi tak berdarah...ajarkan aku cara tuk melupakanmu... itu lah yang dirasakan Alfan, tapi untuk melupakan Sita oh tentu tidak semudah itu, dia akan terus berusaha mengejar cinta sang calon istri, dia gak bakalan nyerah begitu saja, udah di tengah jalan masa mau balik lagi harus tetep lanjut dong, iya nggak?


Sita melengos ke kantin mumpung sepi karena sebagian mahasiswa dan mahasiswi di kampus ini sudah pada pulang, Sita sengaja telat pulang karena lagi males ketemu sama Alfan. Soalnya tuh anak selalu nungguin Sita di parkiran buat ajak pulang bareng.


Lena menemukan Sita lagi duduk ngelamun seraya mencorat coret bukunya.


Sita melepas polpen yang ada di genggamannya kemudian menatap manik mata sahabatnya teduh, tersirat rasa penasaran dan tulus dari raut wajah Lena.


"Gue gak apa-apa, mungkin efek datang bulan," elak Sita kemudian mengelus punggung tangan Lena untuk menenangkan, pura-pura kuat itu tidak enak.


"Gak mungkin Sita, udah dua minggu lo kayak gini, ini lo bilang gak apa-apa? Gue sebagai sahabat ikut merasakan nya jadi sepandai apapun lo nyembunyiin masalah lo gue tetep bakal sadar."


"Lo laper nggak? Gue pesen makan dulu, lo mau apa biar gue yang bayarin?" Sita mengalihkan topik kemudian beranjak pergi. Lena berdecak kesal, dia sadar Sita berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Besok juga pasti lo akan tau Len, jadi gue gak perlu kasih tau lo," gumam Sita pelan.

__ADS_1


"Lo ngomonh sesuatu?" tanya Lena yang tengah menyuap satu buah bakso ke mulutnya.


"Enggak, enggak ada."


.....


"Udangan apaan nih?" Vino meraih sebuah wedding card berwarna putih susu dengan paduan warna emas yang tergeletak di atas meja.


"Undangan maulid," jawab Keisya seadanya.


"Bukannya bulan maulid masih sepuluh bulan lagi ya?" tanya Vino ragu siapa tau dia salah hitung bulan.


"Ya baca sendiri dong kak, udah jelas itu undangan pernikahan dari bentuknya aja udah ketahuan. Kebiasaan kak Vino nanya dulu sebelum ngeliat," tutur Keisya, tangannya sibuk memakaikan baby Zayyan popok soalnya tadi habis cepirit.


"Ya mana aku tau soalnya kan temen aku gak ada yang mau nikah, ehh bentar aku kan gak punya temen," ucapan miris dilontarkan Vino, padahal temen banyak tapi dianya aja yang songong gak mau nganggep mereka semua temen.


"Emang kak Vino doang yang punya temen, Keisya juga punya kali."


Vino diam, tangannya bergerak membuka wedding card tadi karena penasaran sama isinya.


"Ini bukannya adik ipar dari kakak angkat kamu?" tanya Vino.


"Bisa nggak jangan bilang kakak angkat, kak Fitri sudah jadi bagian keluarga aku jadi jangan sebut kayak gitu lagi," Keisya mengerucutkan bibirnya.


"Iya, iya maaf sayang tadi keceplosan."

__ADS_1


"Lama-lama ku KDRT juga kau kak."


"Cantik-cantik kok pshycopat."


__ADS_2