Istri Kecil Tuan Muda

Istri Kecil Tuan Muda
55


__ADS_3

"Mendekat selangkah ku tembak kalian semua," ancam Reno setelah melihat siapa yang turun dari mobil mewah terswbut. Belum juga saling tatap udah main tembak aja. Vino menatap kondisi Keisya yang sangat menyedihkan baginya, rambutnya acak acakan bajunya sedikit kusut itu membuat pikiran Vino teralihkan kepada mimpinya yang tadi, tapi tidak mungkin Vino tidak mau berfikir seperti itu yang jelas dia harus menyelamatkan Keisya terlebih dahulu masalah penculiknya bisa belakangan.


"Oh iya kalo berani tembak saja," tantang Vino dengan tangan menyilang didepan dada, memang CEO satu ini orangnya pemberani.


"Oh nantangin ya, apa kau mau melihat istrimu sendiri yang ku tembak," kali ini ancaman Reno beralih pada Keisya yang mulutnya dibekap dengan lakban hitam agar dia tidak berteriak. Vino mendelik tidak suka, tatapan emosi muncul. Jika Reno tidak membawa pistol sudah dia cakar wajahnya sampai hancur saking geramnya. Mau maju salah mau mundur juga salah.


"Sebut apa yang kau inginkan akan saya berikan asal kau membebaskan istri saya," Vino berusaha tenang dan mengajak berandal satu ini bernegosiasi agar mau barter seperti kata Kevin.


"Aku tidak menginginkan uang atau hartamu, aku hanya menginginkan gadis ini mati," jawab Reno dengan seringai seram.


"Oh ya memangnya salah dia apa sampai kau ingin membunuhnya, bahkan kau kenal Keisya saja tidak kan," jawab Vino meski dalam hati ingin sekali dia berlari ke arah Keisya dan memeluknya erat.


"Jadi lepaskan istri saya sekarang atau kalian semua tau akibatnya," sambungnya lagi, dia sudah gregetan, tangannya gatal daritadi pengen mukul.


"Simpan saja ucapanmu itu dan pikirkan nyawa istri kecilmu ini haha," Reno tertawa garing.

__ADS_1


"Kalian memang sengaja menguji kesabaranku," tanpa pikir panjang Vino berlari ke arah Reno tidak peduli jika dia harus kena tembakan pistol mainan yang dibawa Reno yang jelas dia harus menggapai tubuh mungil Keisya dan merengkuhnya dengan penuh sayang, sudah sangat lama dia merindukan gadisnya. Reno terbelalak karena aksi nekat Vino yang berlari beberapa meter ke arahnya. Reno gelagapan karena tindakan mengancamnya tidak mempan, mana pistolnya gak ada pelurunya lagi kan malu kalo mereka semua tau. Lagian Vilia tidak memberinya senjata buat jaga-jaga, mereka tidak bakal menduga jika ketahuan seperti ini.


Saat Vino sudah sampai dihadapannya dan hendak meraih Keisya dari Reno, Reno dengan sigap menghempaskan Keisya ke belakang dan sukses membuat Keisya jatuh dan terbentur diatas batu yang lumayan besar dan alhasil kepalanya mengenai permukaan batu itu sehingga membuat Keisya langsung pingsan dan kepalanya mengeluarkan banyak darah. Vino terkejut melihat istrinya dihempaskan seperti itu. Karena marah, Vino langsung menghantam wajah Reno tepat dimatanya sehingga Reno tersungkur ke belakang dan matanya langsung lebam.


"Bangun lo sialan! Lawan gue dan bayar atas perlakuan lo pada istri gue," Vino sudah seperti kesetanan memukul Reno dengan sekuat tenaga, rekan berandalnya hendak mengeroyok Vino dan membantu Reno tapi suara sirine polisi membuat mereka mengurungkan niat, karena takut ketangkep polisi mereka semua langsung pergi meninggalkan Reno yang masih dipukulin oleh Vino sementara Keisya langsung dibopong Kevin dan membawanya kedalam mobil Vino.


"Vino sudah hentikan! Sebaiknya kita bawa Keisya segera ke rumah sakit sebelum kehabisan darah," Zahra melerai Vino yang masih dengan semangat memukul Reno sampai wajah Reno banyak mengeluarkan darah segar, bibirnya bengkak, matanya lebam, hidungnya berdarah, sampai-sampai giginya rontok lima biji akibat pukulan Vino yang sangat dahsyat nya, makanya jangan main-main sama Tuan Muda Vino, berani berbuat ya harus berani tanggung jawab juga kan, ini lah balasan bagi orang yang berani cari masalah sama Vino.


"Gak Mah, laki-laki busuk ini pantas mendapatkan balasan yang setimpal seperti ini," bantah Vino kini dia beralih memukul perut Reno sehingga membuat Reno langsung muntah darah dan tepar di tempat, gak tau deh dia pingsan atau mati sekarang. Karena lawannya sudah tidak merespon pukulannya Vino menghentikan aksinya dan berdiri lalu membenarkan letak jas nya yang tadi sedikit terangkat karena baku hantam tadi. Mayat Reno ehh maksudnya tubuh Reno yang tepar langsung diangkat oleh polisi diseret masuk kedalam mobil lalu dibawa ke kantor polisi untuk dipenjara. Vino segera memasuki mobil kemudian membawa Keisya menuju rumah sakit, mobilnya dikemudikan oleh Gibran sedangkan Vino duduk di kursi belakang seraya menopang kepala Keisya yang wajahnya sudah bersimbah darah, bajunya sampai berubah warna jadi merah karena darah terus mengalir dari pelipisnya.


"Dok tolong selamatkan istri saya, saya tidak peduli bagaimanapun caranya asal istri saya bisa selamat," ujar Vino.


"Akan kami tangani segera, silahkan anda menunggu diluar sementara saya akan menangani istri anda," jawab dokter ramah seraya menutup pintu ruang gawat darurat. Selama Keisya ditangani dokter, Vino mondar mandir di depan kedua orang tuanya yang tengah duduk dikursi tunggu sambil menatap Vino yang berjalan bolak balik didepannya, mereka juga tidak tau harus menenangkan Vino dengan cara apa lagi.


"Vino kamu ganti baju dulu sana!" ucap Zahra lembut menatap kemeja, jas, serta celana Vino penuh oleh darah Keisya.

__ADS_1


"Nanti Mah, Vino mau dengar kabar Keisya dulu," tolak Vino halus seraya menatap dirinya sendiri dari atas sampai bawah.


"Sepertinya akan lama, sebaiknya kamu ganti saja dulu. Bukankah apartemen kamu deket sini," kini Gibran yang menyahut.


"Nggak Pah, Vino akan tetap disini," Vino menolak tegas. Zahra kemudian mengusap punggung tangan Gibran untuk tidak membantah keputusan putra semata wayangnya yang sedang dilanda panik saat ini.


Lama sekali. Sudah hampir satu jam, tidak ada tanda-tanda dokter keluar melalui pintu kaca disampingnya tersebut. Vino sungguh frustasi sembari memijat pelipisnya, berharap Keisya baik-baik saja.


Ceklek!!


Semua mata tertuju pada arah suara pintu, keluarlah dokter paruh baya dengan kaca mata bening bertengger dimatanya, setelah berhadapan dengan wali korban atau suami Keisya, dokter tadi membuka maskernya sehingga Vino dapat melihat dengan jelas guratan sedih di waja dokter itu. Vino dan kedua orang tuanya berusaha tetap tenang dan positif thinking.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Vino sudah tidak sabar mendengar kabarnya walaupun agak takut juga. Dokter paruh baya tersebut mendesah pelan.


"Kondisi istri anda saat ini sedang kritis, beliau kehilangan banyak sekali darah."

__ADS_1


__ADS_2